Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2020

Akulah Roti yang Turun dari Surga

Minggu Biasa 19 – B (2015)
Bacaan 1. 1Raj 19,48; Mzr Tggpn 34; Bacaan 2. Ef 4,30-5,2; dan Injil Yoh 6,41-51


“AKULAH ROTI HIDUP,
YANG TURUN DARI SURGA!


EXORDIUM:
Sudah sejak hari Minggu ke-17 (yaitu tanggal 26 Juli 2015), kita mulai disuguhkan bacaan Injil tentang Roti Hidup, yang selalu didukung oleh bacaan pertama dari Perjanjian Lama. Pada Minggu Biasa ke-19 ini, bacaan Injil dan Bacaan Pertama juga berkaitan dengan Roti Hidup.
Minggu-Minggu ini adalah hari-hari Minggu yang sangat baik bagi kita untuk merenungkan tentang makna atau arti sesungguhnya dari Roti Hidup. Hari ini pada Minggu Biasa ke-19, kita mendengar Injil dari Yohanes bab 6,41-51, yang termasuk dalam kitab pertama yang disebut dengan Kitab Tanda-Tanda. Dalam Kitab Tanda-Tanda yaitu dari bab 2 – 12, (kitab kedua ialah Kitab Kemuliaan), terdiri dari 7 episode, dan pembicaraan tentang Roti Hidup terdapat dalam episode ketiga.

Sabtu, 03 Januari 2015

Kotbah Hari Raya Penampakan, B - 2015

Bacaan Pertama       : Yes 60,1-16
Mazmur Tggpn       : 72
Bacaan Kedua          : Ef 3,2-2a.5-6
Bacaan Injil             : Matius 2,1-12


KEMULIAAN TUHAN TERBIT ATAS KITA


EXORDIUM:
Menurut Evagrius Pontikus, pertapa Kristiani abad ke-4, hasrat manusia keluar dari tiga sumber, yaitu keinginan, emosi dan intelektual. Di balik hasrat itu ada jeritan jiwa yang rindu bersatu dengan Allah. Salah satu keinginan manusia adalah menjadi kaya. Mengapa kita ingin kaya? Agar tatkala sakit ada uang untuk berobat. Tatkala menyekolahkan anak ada biaya. Tatkala ingin liburan di luar negeri ada uang, dsb. Maka di balik hasrat ingin kaya, ada kerinduan jiwa untuk aman dan tenteram, terjamin. Siapa yang bisa menjamin jiwa kita? Bukan kekayaan, tetapi Allah. Maka bila kekayaan menjadi fokus hidup, jiwa akan merana dan kecewa. Sebaliknya, bila peka terhadap jeritan jiwa di balik ingin kaya itu dan setia mengikutinya, maka harta kekayaan menjadi sarana memuliakan Allah dan membantu sesama.

CORPUS
Dalam Injil Hari Raya Penampakan Tuhan ada dua kelompok yang mencari Yesus dengan motivasi yang berbeda. Pertama, tiga majus dari Timur. Motivasi mereka mencari Yesus adalah memenuhi kerinduan jiwa untuk menyembah Dia. Maka harta kekayaan menjadi persembahan. Perjumpaan dengan Yesus merupakan harta yang tak ternilai harganya dan kekayaan menjadi relatif nilainya. Inilah orang yang terbuka hatinya untuk dibimbing oleh Allah (bintang) dan perjumpaan dengan Allah itu membarui hidup. Dikatakan: "mereka pulang ke negerinya melalui jalan lain!". Mereka meninggalkan cara hidup lama dan mulai hidup yang baru. Kedua, Raja Herodes mencari Yesus dengan motivasi ingin membunuh-Nya karena ia takut popularitasnya terancam dengan kelahiran Yesus. Dirinya harus disembah dan dimuliakan. Yesus harus dibunuh karena menjadi ancaman.

CONCLUSIO
Harta benda dan peristiwa di dunia ini bagaikan bintang petunjuk menuju Allah. Tinggal sikap kita: apakah kita setia pada jeritan jiwa yang rindu menyembah Allah atau kita membiarkan diri dikuasai oleh hasrat manusiawi, hasrat serakah atau mencari popularitas diri. 

Telukdalam, 28 Desember 2014

Kotbah Keluarga Kudus, B - 2015

Bacaan Pertama       : Kej 15,1-6; 21,1-3
Mazmur Tggpn       : 105
Bacaan Kedua          : Ibrani 11,8.11-12.17-19
Bacaan Injil             : Lukas 2,22-40


MEMBANGUN KELUARGA YANG KUDUS

EXORDIUM:
Kita semua hidup dan bertumbuh di dalam keluarga. Dan bagaimana situasi dalam keluarga kita, kita semua bisa mengalami sendiri. Namun secara umum, kita sering mendengarkan situasi kehidupan berkeluarga, baik kita sendiri maupun orang lain.
Karena itu, tidak heran jika kita mendengar cerita dan melihat dari dekat bahwa keluarga si A itu selalu rukun, baik, selalu bersama-sama kalau bepergian, ada doa bersama waktu makan dan sebelum dan setelah bangun tidur, dan lain-lain. Tetapi tidak heran juga kita dengar dan kita lihat bahwa ada keluarga yang tidak akur, tidak pernah ada makan bersama dalam keluarga setelah 5 atau 6 tahun menikah, bertengkar terus setiap hari, masing-masing tidak tahu siapa pergi ke mana dan kapan juga kembali, ada juga salah seorang dari mereka yang lari kembali ke rumah orangtuanya, ada juga yang disebut dengan single parent, ada juga kekerasan dalam rumah tangga, dan masih banyak lagi.
Hari ini, Gereja Katolik kita memestakan hari Keluarga Kudus Nazareth. Pesta Keluarga Kudus Nazareth ini ditetapkan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1893 yang dirayakan antara tanggal 7 sd 13 Januari setiap tahunnya. Namun sejak tahun 1969, dirayakan pada hari Minggu Pertama setelah Natal, antara Natal dan Tahun Baru.
Paus Leo XIII menetapkan Hari Raya Keluarga Kudus dengan maksud agar semua orang dan keluarga Katolik, terutama setelah Natal, bisa sebentar mengarahkan perhatian mereka secara khusus kepada hidup keluarga kudus di Nazareth sebagai model atau contoh kehidupan keluarga mereka.
  
CORPUS
Bagaimana bacaan-bacaan pada hari mengajarkan kita tentang ciri khas dari hidup keluarga kudus itu?
Bacaan pertama
Bacaan Injil hari ini memberikan gambaran kepada kita seperti apakah cara hidup Keluarga Kudus Nazaret. Secara ekonomis, mereka bukan keluarga kaya. Hal ini nampak dari persembahan mereka yang hanya berupa “sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati” padahal biasanya bagi keluarga yang mampu, persembahannya berupa seekor kambing atau domba (bisa dibandingkan dalam aturan hukum Taurat dalam kitab Imamat 12,6-6). Walaupun demikian, mereka tetap taat menjalankan hukum Taurat Musa, yang bagi mereka bukan sekedar menjalankan legalitas (melaksanakan aturan atau hukum agama dan sipil) tetapi mereka memaknai persembahan sebagai ibadah kepada Tuhan (ingat: persembahan sebagai ibadah dan bukan sebagai aturan).
Mereka juga mempersembahkan Yesus, yang oleh Tuhan Allah telah diserahkan dalam asuhan mereka. Bagian penutup Injil sangat menarik, dan menjadi karakteristik Keluarga Kudus Nazaret. Bagian ini mengatakan: “dalam asuhan mereka, Yesus makin bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada ada pada-Nya”, meyakinkan kepada kita Keluarga Yusuf dan Maria sungguh-sungguh mengasuh Yesus penuh kasih sayang dan cinta.
Mereka mencukupi kebutuhan jasmaninya sehingga Ia semakin bertambah besar dan kuat, mereka memberikan pendidikan yang baik sehingga Yesus menjadi penuh hikmat, dan mereka juga membantu-Nya bertumbuh dan berkembang secara spiritual sehingga Yesus penuh dengan kasih karunia Allah.

KELUARGA NAZARETH
Yusuf Pelindung dan Penurut
Walaupun tidak dikatakan oleh Injil Lukas pada hari ini kepada kita, namun secara umum, kita dapat melihat bahwa Yusuf adalah seorang suami dan ayah yang penurut terhadap apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Yusuf tidak pernah protes dalam melaksanakan perintah Tuhan, walaupun itu hanya melalui mimpi. Ketika Tuhan menyuruh dia untuk mengambil Maria sebagai istri, dia laksanakan. Ketika disuruh untuk bawa ke Mesir dan kembali dari Mesir anak dan istrinya Maria, juga juga ikut saja, tanpa protes.
Sikap Yusuf juga nampak bahwa dia sebagai seorang suami dan ayah yang selalu melindungi Maria dan Yesus. Ketika ada ancaman dari Raja Herodes, dia cepat mengikuti perintah Tuhan untuk menyelamatkan Maria dan Yesus ke Mesir. Yusuf adalah seorang suami dan ayah yang bertaruh seluruh hidupnya untuk melindungi istri dan anaknya, yang adalah Anak Allah.

Maria: Penurut dan Perawat
Sejak Maria diperkenalkan oleh malaikat bahwa Ia telah mengandung dari Roh Kudus, Maria dikenal sebagai seorang pribadi yang bersahaja, pendiam (tidak banyak bicara, tidak rewel, tidak banyak menuntut) tetapi justru menyimpan semua perkara di dalam hatinya, setia merawat dan membesarkan bayi Yesus itu. Di hadapan Tuhan Maria adalah pribadi yang penurut dan pendengar setia. Apa yang diperintahkan Tuhan, walaupun itu hanya melalui malaikat, Maria laksanakan dengan taat dan setia.
Selain itu, Maria juga setia membesarkan dan mendidik Yesus sebagai pribadi yang kokoh dan kuat. Kita tahu bahwa selama 12 tahun, Yesus hidup dan bertumbuh bersama Maria dan Yusuf di dalam keluarga, dan tentu, Yesus dididik dan dirawat dengan sangat baik. Anak yang baik dan sukses muncul dari orang tua yang setia merawatnya dengan setia, sabar dan bertanggung jawab.

Yesus: Taat dan Bertambah Besar
tidak banyak dikatakan tentang Yesus sampai DIA berumur 12 tahun. Tetapi dalam Injil hari ini, dikatakan bahwa Yesus bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. Ini berarti bahwa Yesus yang masih kecil dan sampai berumur 12 tahun, selalu siap dibina, dididik dan diarahkan oleh orang tua-Nya Yusuf dan Maria. Yesus adalah anak yang taat, patuh, tidak juga banyak protes, dan terus bertumbuh serta berkembang menuju kedewasaan-Nya.

CONCLUSIO
Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Kenapa keluarga Yusuf dan Maria disebut keluarga kudus? Apakah karena mereka tidak pernah cekcok? Apakah karena mereka selalu rajin pergi ke Bait Allah atau apakah mereka tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup berkeluarga? Saya yakin bukan! Mereka disebut Keluarga Kudus karena hadir di sana, Yesus Kristus Putra Allah. Kehadiran Yesus menguduskan hidup keluarga itu secara lahir maupun batin. Suasana hidup keluarga dipengaruhi oleh kasih dan damai yang dibawa Yesus.
Oleh karena itu, kalau kita orang-orang percaya ini mau menjadikan keluarga kita sebagai keluarga kudus, pertama-tama bukan berarti keluarga kita harus bebas dari salah, bukan berarti tiap-tiap anggota tidak melakukan kekeliruan, melainkan keluarga yang mau menerima serta membiarkan diri dipengaruhi oleh Yesus.
Yang paling penting ialah bagaimana kita berusaha untuk menciptakan sebuah sebuah keluarga (dan juga komunitas) sebagai Gereja mini dan rumah makan mini di dalamnya ada doa, ada makan bersama, ada cerita bersama, ada saling menghormati, patuh, setia, dan lain sebagainya. Keluarga bukanlah sebuah apartemen, di mana masing-masing boleh datang, tidur, makan dan pergi seenaknya, tapi keluarga adalah sebuah kebersamaan di dalam Allah, kebersamaan di dalam Kristus.
Dan salah satu tugas kita semua ialah bagaimana membuat semua anggota keluarga kita untuk merasa nyaman dan memiliki kerinduan untuk pulang dan tinggal di dalam rumah keluarga kita. Kuncinya terletak pada komitmen untuk selalu berdoa dan beribadat kepada Tuhan, dan komitmen kita untuk menghayati “hukum” perkawinan Katolik yang menuntut kesetiaan seumur hidup dan pemberian diri secara total kepada suami, kepada istri, kepada anak, kepada keluarga dan komunitas kita.

Telukdalam, 28 Desember 2014

Kotbah Hari Raya Natal, B - 25 Desember 2014

Bacaan Pertama       : Yesaya, 52,7-10
Mazmur Tgpn         : 97
Bacaan Kedua          : Ibrani, 1,1-6

Bacaan Injil             : Yohanes 1,1-18

FIRMAN ALLAH:
TELAH MENJADI MANUSIA !


EXORDIUM:
Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, tt setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sungguh-sungguh tidak percaya.
“Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih,” kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja.
“Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya…”
Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri Misa menjelang tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka.
“Saya tidak mau menjadi munafik,” jawabnya.
“Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggu kalian semua sampai pulang.”
Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar.
Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.
“Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini”, pikir pria itu. “Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka”? Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam.
“Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk”, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.
Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.
“Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan,” kata pria itu pada dirinya sendiri, “…dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahukan bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman.”
Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah.
Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata,
“Sekarang saya mengerti,” bisiknya dengan terisak.
“Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia…”



CORPUS
Yang baru lahir itu ialah TERANG
Terdapat lompatan yang sangat terasa dalam bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini. Jika tadi malam kita mendengar cerita seputar Natal atau seputar kelahiran Yesus, sebaliknya hari ini bacaan-bacaan tidak memberikan kita cerita tentang kelahiran Yesus itu. Injil Yohanes bahkan menempatkan di awal Injilnya tentang kisah “Firman yang menjadi Manusia”. Dalam bacaan pertama diceritakan tentang ajakan untuk bersorak-sorai kepada semua bangsa Israel yang sedang runtuh. Namun di tengah keruntuhan itu, bangsa Israel harus tetap berusaha bergembira, berduka cita, bersorak-sorai bersama-sama, karena Tuhan akan menghibur mereka. Sedangkan dalam bacaan kedua, Surat kepada orang Ibrani mengajarkan kepada kita tentang Yesus yang akan berbicara tentang diri-Nya sendiri. Kalau pada jaman Perjanjian Lama, para nabilah yang berbicara, sedangkan sekarang, Putera Allah sendirilah yang langsung berbicara.

Mengapa Tidak Menyentuh Cerita seputar Natal?
Dalam perkembangan sejarah Gereja, dilihat bahwa orang sering terlena dengan kegiatan Natal yang mewah dan secara tidak sadar, mereka melupakan bahwa terdapat sebuah misteri besar dari peristiwa seputar Natal itu. Orang kristen telalu asyik dengan pesta-pesta Natal, dan mempunyai kecenderungan untuk mengagungkan Natal di atas dari pesta-pesta yang lain.
Karena itu, Gereja mengajak kita untuk merenungkan bahwa bayi yang baru lahir itu bukanlah bayi biasa, bukanlah bayi yang sama begitu saja dengan bayi-bayi manusia yang lain, melainkan bayi FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA. Bayi yang baru lahir itulah yang disebut oleh Injil Yohanes: sebagai SABDA YANG MENJADI MANUSIA, YANG PADA MULANYA ADALAH SABDA, YANG ADALAH TERANG ITU, YANG SEKARANG TINGGAL BERSAMA KITA. Terang itu bukan tiba-tiba datang, tetapi kedatangan-Nya sudah diramalkan sejak lama, sejak penciptaan manusia oleh Tuhan. Terang itu ialah Allah sendiri, Putera-Nya sendiri yang kita lahir untuk kita.


CONCLUSIO
Terdapat dua hal yang hendak kita renungkan pada hari Raya Natal ini:
  1. Tidak terlena pada pesta duniawi
Tidak dapat disangkal bahwa Natal selalu memberikan rasa gembira, rasa sukacita dan rasa damai untuk kita semua, baik di dalam rumah, komunitas, kelompok atau dalam sebuah grup tertentu. Tetapi melalui bacaan-bacaan hari ini, kita diajak untuk tidak terlena dengan kegembiraan duniawi atau kegembiraan lahiriah, melainkan mengisinya dengan kepercayaan bahwa yang sedang kita rayakan itu ialah Sabda yang menjadi Manusia. Dialah Allah sendiri, yang hadir sebagai hadiah terbesar untuk kita dan menyatakan diri sebagai Allah. Maka yang lebih penting ialah bukan pesta-pesta lahiriah, melainkan ajakan untuk PERCAYA kepada Sang Sabda yang menjadi Daging itu.
  1. Kehadiran dan kelahiran-Nya sebagai Allah dan Manusia
Melalui bacaan-bacaan para hari ini, Gereja ingin mengajak kita beriman secara benar, bahwa yang baru lahir itu ialah bukan hanya manusia biasa, bukan hanya Allah saja, melainkan kesempurnaan Allah dan Manusia. Jadi Yesus yang baru lahir itu ialah memiliki dua kualitasnya: Allah dan Manusia.
Dalam sejarah Gereja, banyak orang yang diekskomunikasi karena beriman dan mengajarkan secara salah, bahwa Yesus itu hanya Allah saja, hanya hanya manusia saja, atau hanya pura-pura mengambil bentuk sebagai manusia. Tetapi Gereja justru mengajarkan bahwa Yesus yang baru lahir itu, sungguh Allah dan sungguh Manusia.


Telukdalam, 25 Desember 2014

Senin, 13 Oktober 2014

Kotbah Minggu Biasa ke 27 - A

KEBUN ANGGUR ITU AKAN DISEWAKAN
KEPADA PENGGARAP-PENGGARAP YANG LAIN

Bacaan 1, Yesaya 5,1-7; Mazmur Tggp, 80; Bacaan 2: Filipi 4,6-9; Bacaan Injil: Matius, 21,33-43


INTRODUKSI
Ada sepasang keluarga muda yang baru menikah. Mereka terpaksa harus berpisah karena sang suami harus ikut wajib militer di negeri yang jauh, entah untuk berapa lama. Karena perang itu bisa berlarut-larut, maka sebelum berpisah sang suami berpesan kepada isterinya, “Aku sangat mencintaimu. Namun, aku tidak sampai hati menyiksamu sendirian dalam kesendirian dan kesepian. Sekiranya ada pria lain mencintaimu dan kamu mencintainya, aku ikhlaskan kalian untuk menikah.”
Berangkatlah sang suami ke medan perang. Tahun demi tahun berlalu. Ia tidak pernah sekalipun mengirim surat kepada isterinya. Akhirnya, perang selesai dan ia boleh pulang. Lalu ia menulis surat kepada isterinya, “Kalau kamu tidak menikah lagi dengan pria lain dan setia menunggu kedatanganku, tolong memberi tanda dengan mengikatkan seutas sapu tangan kuning pada sebuah cabang pohon oak yang tumbuh di depan rumah kita. Tapi kalau kamu sudah menikah dengan pria lain, kamu tidak perlu memberi tanda apa-apa. Aku akan berbalik dan meninggalkan rumah kalian.”
Pada suatu senja hari sampailah ia di depan rumah mereka. Ia hampir tak sanggup menatap ke ranting-ranting pohon oak itu. Dengan segala kekuatannya dia memandang lurus-lurus ke pohon oak itu. Ia hampir tak percaya. Ia bukan hanya melihat seutas sapu tangan kuning, melainkan puluhan sapu tangan kuning yang melambai-lambai kepadanya. Ia segera masuk ke rumah dan menjumpai isterinya yang setia selamanya.
Kesetiaan adalah kunci keutuhan keluarga. “Aku akan setia kepadamu dalam untung dan malang, saat sehat maupun sakit,” itulah janji pernikahan suami isteri yang harus selalu diperjuangkan. Keluarga yang utuh ditentukan oleh kualitas cinta kasih suami isteri.

URAIAN KITAB SUCI
Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengajak kita untuk merenungkan dua hal pokok dalam hidup keberimanan kita. Kedua hal itu ialah kesetiaan dan tahu diri.
Bacaan Injil hari ini sangat menarik karena mengisahkan tentang seseorang yang memiliki kebun anggur. Dia membuka kebun anggur, kemudian menanam anggur dan kemudia dia pergi ke luar negeri. Namun sebelum dia berangkat, dia menyewakan kebun anggur itu kepada penggarap-penggarap; yang tentu pada suatu ketika kalau dia kembali dari luar negeri, dia akan mengadakan perhitungan-perhitungan dengan mereka mengenai keuntungan yang didapat.
Menurut bacaan pertama, pemilik kebun anggur ialah Tuhan sendiri, kebun anggur adalah bangsa Israel sedangkan penggarap-penggarap ialah para pemimpin politik dan spiritual bangsa Israel. Jadi bangsa / masyarakat / rakyat Israel diibaratkan sebagai kebun anggur. Keberadaan dan hidup mereka diserahkan Tuhan atau “disewakan” kepada para pemimpin politik dan spiritual (ahli Taurat dan Orang Farisi) untuk menjaganya dan merawatnya serta mengembangkannya untuk dapat bertumbuh dengan baik sebagai masyarakat atau bangsa pilihan Tuhan.
Teteapi dalam kenyataannya, para pemimpin orang Israel ini tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka malah membenci utusan-utusan Tuhan dalam diri para Nabi, dan bahkan Putera-Nya sendiri dan bahkan membunuh mereka semua. Para pemimpin bangsa Israel menjadi tidak setia, tidak mau bertanggung jawab atas pemeliharaan hidup bangsa Israel. Mereka bahkan berusaha memeras umat dengan pajak yang tinggi, menuntut persembahan di atas altar, serta aturan-aturan lain yang menguntungkan pribadi mereka.
Tindakan-tindakan seperti inilah yang tidak disukai Tuhan, yang akhirnya menyebabkan Tuhan mengambil kembali kebun anggur-Nya dan dikelola atau dirawat oleh penggarap-penggarap yang lainnya.

APLIKASI - PRAKTIS
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama dan Matius melalui bacaan Injil pada hari minggu ini, mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal untuk dihidupi selama minggu ini:
  1. Yesus mengajak kita untuk menerima tugas dengan setia. Para penggarap kebun anggur menjadi contoh orang-orang yang tidak setia (Mat 21:33-43). Mereka menyalahgunakan kepercayaan. Hati mereka jahat dan dipenuhi nafsu membinasakan sesama. Bapak-ibu (suami isteri) serta anak-anak mendapat kepercayaan dari Tuhan untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Sebagai anggota religius, diajak untuk setia memelihara komunitas religius atau biara agar semua memiliki kebahagiaan bersama.
  2. Yang kedua, adalah bahwa jika kita semua telah dengan setia membangun rumah tangga atau komunitas dan juga dengan setia menjaga dan merawat orang-orang yang dipercayaan kepada kita (yang diibaratkan dengan kebun anggur), maka kita telah berusaha bertanggung jawab dengan itu. Semua orang yang tinggal bersama kita, entah siapapun itu: suami, istri, anak-anak, teman sekomunitas biara, mereka adalah titipan Allah yang harus dijaga dengan baik dan secara bertanggung jawab. Sudahkah kita bertanggung jawab memelihara dan menjadi orang-orang yang hidup bersama kita?
  3. Sikap ketiga ialah tahu diri. Para penggarap dalam bacaan pertama dan kedua, telah menunjukkan pribadi sebagai orang yang tidak tahu diri. Kepada mereka sudah dipercayakan kebun anggur, tetapi akhirnya mereka ingin merampasnya dari Tuhan, dan mereka membuat para utusan Tuhan susah, menderita, dan bahkan anak pemilik kebun anggur juga ditangkap dan dibunuh. Ini tindakan keji dan sangat tidak baik. Kepada kita diajak untuk juga tahu diri. Berhadapan dengan titipan Tuhan (mereka yang hidup bersama kita), kita hanya bisa merawat, memelihara dan membuat dia atau mereka berkembang. Tetapi kita tidak dibenarkan memeras mereka, mengambil untung sebesar-besarnya dari mereka, melalui tindakan mencuri, korupsi, mengambil laba yang besar sekali, dan akhirnya membuat orang lain tercekik lehernya dan sulit membuat wajahnya tersenyum karena beratnya beban yang ditanggungnya.
Kita menyerahkan seluruh niat baik kita kepada Tuhan, sembari berharap agar Tuhanlah yang dapat menolong kita untuk hidup dengan layak, setia, bertanggung jawab dan tahu diri dalam berelasi dengan Tuhan setiap hari dalam hidup kita. Amin

Telukdalam, 05 Oktober 2014

Kotbah Minggu Biasa ke 28 - A

KESELAMATAN:
ANTARA TANGGAPAN DAN KEPANTASAN  MANUSIA

Bacaan 1, Yesaya 25,6-10a; Mazmur Tggp: 23; Bacaan 2: Filipi 4,12-14;19-20; Bacaan Injil: Matius, 22,1-14


INTRODUKSI
Saudara/i...,
Kegiatan menghadiri pesta nikah bukan hal baru dalam masyarakat kita. Kit akan merasa senang jika kita menerima undangan, baik lisan maupun secara tertulis. Kita akan merasa dihormati sekali, apalagi kalau ketika kita sampai di tempat pesta, orang yang mengundang itu datang dan mengajak kita untuk duduk dan mengikuti acara-acara selanjutnya.
Bahkan kita akan merasa bersalah apabila kita tidak bisa hadir dalam pesta nikahnya. Mungkin kita harus mencari banyak alasan untuk dikatakan kepada yang bersangkutan, ketika kita bertemu, sebelum pertanyaan ke luar dari mulutnya: “Mengapa kamu tidak dapat waktu pestaku?”

URAIAN KITAB SUCI
Saudara/i...,
Dalam Injil hari ini difirmankan, “Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya.” Ungkapan ini kiranya mengantar kita kepada pemahaman bahwa menghadiri “perjamuan nikah” bukan hanya sekadar hadir dalam resepsi duniawi, melainkan mengikuti upacara suci. Mengapa diistilahkan dengan upacara suci? Karena “perjamuan nikah” tidak hanya diartikan sebagai kesatuan keakraban antara pengantin pria dan wanita, melainkan suatu kesatuan keakraban antara Allah sendiri dan manusia ciptaan-Nya, antara Kristus dan Gereja-Nya. Kebenaran kebenaran keakraban antara dua orang, pria dan wanita, seperti yang banyak dikisahkan dalam Kitab Suci Kidung Agung, seperti kisah di mana kedua mempelai saling memuji keelokan masing-masing (Kid 1:9; 2:7), saling mengungkapkan rasa rindu (Kid 3:1-5; 5:2-8), dan saling mengungkapkan nikmatnya saat berduaan (Kid 7:6-8:4), mengungkapkan kedekatan antara Allah dan manusia. Allah mengungkapkan kerinduan-Nya kepada manusia, ingin berduaan dengan manusia, dan mengadakan perjamuan juga dengan manusia.

Saudara/i terkasih...,
Di dalam kidung-kidung itu, kasih antara kedua mempelai tampil sebagai tempat kehadiran yang ilahi. Kehadiran-Nya nyata dalam hal yang paling bisa dirasakan. Oleh karena itu, bagi orang Yahudi, ikut serta dalam perjamuan nikah berarti mendekatkan orang pada kemanusiaan dan keilahian sekaligus. Sebaliknya, penolakan terhadap undangan ikut serta dalam perjamuan nikah bukan hanya sekadar tidak ikut pesta duniawi, sebagaimana yang kita pahami dalam masyarakat.
Perumpamaan hari ini sungguh luar biasa. Sang Raja sungguh rendah hati dan sabar. Perjamuan nikah sudah siap. Akan tetapi, para undangan tidak mau datang. Mereka bukan hanya menolak undangan, melainkan membunuh pengantar undangan. Keadaan yang sungguh mengecewakan. Tampaknya justru inilah pesan pokok yang hendak ditunjukkan sang pewarta, yakni Allah yang kecewa, karena kasih-Nya bertepuk sebelah tangan, kasih-Nya tidak mendapatkan tanggapan dari manusia.
Sungguh luar biasa, sang raja tidak patah arang. Melalui para hambanya ia mengundang orang yang berada di persimpangan jalan. Akhirnya, pesta nikah itu dimeriahkan oleh kehadiran orang-orang yang berasal dari persimpangan jalan.
Sang Raja berpikir, bahwa harus ada orang-orang yang hadir, karena hidangan telah disiapkan dan nanti Tuhan akan menghapus setiap air mata dari wajah setiap orang. Tuhan Yahwe tidak ingin umat Israel menangis dan merasa ditinggalkan; namun Tuhan menghidangkan bagi mereka perjamuan. Inilah yang ditekankan pada bacaan pertama dari Nabi Yesaya. Hidangan ini tidak hanya ditujukan kepada mereka yang punya jabatan penting dalam masyarakat, melainkan juga kepada mereka yang berada di persimpangan jalan.
Persimpangan jalan ialah suatu tempat di mana orang berkumpul dengan aneka macam keperluan: istirahat, menunggu kesempatan kerja, menunggu mobil untuk ditumpangi, melewatkan waktu sambil bersantai-santai, berjualan, membeli, dan sebagainya. Orang-orang seperti itulah yang diundang datang ke perjamuan nikah. Tampak di sini bahwa sang raja ingin berbagi kegembiraan. Kegembiraan akan menjadi lengkap jika orang yang diundang ini datang dan ikut merasakan bersama kebahagiaan itu.

APLIKASI - PRAKTIS
Bagian akhir Injil hari ini agak mengejutkan. Mengapa? Karena setelah ruangan pesta penuh, dimeriahkan oleh orang-orang dari persimpangan jalan, tiba-tiba sang raja marah dan menegur orang yang datang tanpa mengenakan pakaian pesta.
Teguran sang raja kiranya bisa dijelaskan sebagai berikut: bahwa dalam cara pikir orang Semit (Yahudi – Timur Tengah), pakaian memberi bentuk kepada orang yang memakainya. Artinya, dengan pakaian yang dikenakan, ia dapat dikenali. Dengan berpakaian pesta, ia memang mau menghadiri pesta itu, dan bukan untuk rapat RT atau urusan lain. Oleh karena itu, dengan tidak mengenakan pakaian pesta, berarti ia tidak sungguh-sungguh ingin datang mengikuti pesta.

Saudara/i terkasih...,
Ada beberapa hal yang hendak disampaikan kepada kita pesan Sabda Tuhan hari Minggu Biasa ke 28 ini:
Pertama, Kerajaan Surga bukanlah tempat yang sudah jadi, seperti sebuah rumah yang siap untuk diberkati dan ditempati. Sebaliknya, Kerajaan Surga itu seperti bakal rumah yang siap untuk kita bangun. Bahan-bahan sudah ada, seperti kesempatan berbuat baik, rajin berdoa, melakukan sedekah, mengutamakan kejujuran, dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk tingkah laku inilah yang seharusnya kita bangun, karena hasilnya ialah Kerajaan Allah kita. Karena itu kita diajak untuk membangun nilai-nilai ini. Kita tidak hanya mendengar ajakan atau undangan, tetapi kita kita harus mengikuti dan menghadiri undangan itu dengan meninggalkan sikap santai kita di persimpangan jalan hidup kita, meninggalkan perasaan malas-malasan di rumah, dengan pergi ke perkumpulan doa atau ekaristi di Gereja, dll. Inilah wujud bahwa kita ingin ikut ke pesta perjamuan itu. Injil hari ini menunjukkan kepada kita tentang Allah yang kecewa, bertepuk sebelah tangan, kasih-Nya membentur dinding. Dia berusaha menyelamatkan, namun manusia menolaknya. Apakah kita juga akan menambah jumlah orang yang mengecewakan Allah?
Kedua, ialah ajakan untuk merindukan kebahagiakan kekal, dengan meningkatkan kepantasan hidup kita – pakaian pesta (hidup di surga bersama Allah Bapa, dan Putera dan Roh Kudus). Namun anehnya, justru kita sering menolak undangan Tuhan agar kita bisa menikmati kebahagiaan Surga itu. Bentuk-bentuk penolakan itu misalnya 1) tidak bertekun mengikuti Perayaan Ekaristi; 2) malas berdoa pribadi atau bersama secara rutin; 3) tidak tertarik masuk ke dalam kegiatan rohani / kategorial misalnya doa legio maria / OFS atau kegiatan gerejani lainya, tidak ingin hadir dalam pendalaman APP atau pendalaman Kitab Suci karena sibuk (tapi kalau diajak teman untuk memancing, pasti punya banyak waktu). Kita malah sibuk dengan urusan duniawi yang menurut kita lebih penting daripada urusan rohani yang menyelamatkan. Jadi kita diajak untuk memiliki kerinduan akan Kerajaan Allah itu melalui aktif menghadiri kegiatan-kegiatan rohani, karena dengan itu kita membangun Kerajaan Allah kita. Amin

Telukdalam, 12 Oktober 2014

Kotbah Minggu Biasa ke 26 - A

JANGAN BIARKAN ORANG LAIN 
LEBIH DULU MASUK KERAJAAN ALLAH

Bacaan 1: Yehezkiel 18,25-28; Mazmur Tggp: 25; Bacaan 2: Filipi 2,1-11; Bacaan Injil Matius, 21,28-32

INTRODUKSI

Ada empat tipe perjalanan hidup rohani. Pertama, orang yang sejak lahir hingga matinya sebagai orang yang baik. Kedua, orang yang lahir hingga remajanya jahat, tetapi kemudian setelah dewasa bertobat dan ia pun meninggal sebagai orang yang baik. Ketiga, orang yang sejak lahir dia itu baik, tetapi di akhir hidupnya hingga meninggalnya sebagai orang yang jahat. Keempat, yang tak habis pikir adalah orang yang sudah sejak mula nakal dan jahat, meskipun sudah dinasihati dan sudah keluar masuk penjara pun, bahkan sampai meninggalnya ia tetap sebagai orang jahat. Kita termasuk yang mana?

URAIAN KITAB SUCI
Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita melihat tentang sebuah arti perjalanan hidup rohani melalui pertobatan; yaitu bagaimana orang dapat berbalik dari situasi berdosa, dan kemudian berjalan menuju keselamatan pribadinya.
Nah, bagaimana Kitab Suci melihat arti perjalanan rohani ini? Nubuat nabi Yehezkiel dengan sangat jelas mengatakan bahwa “bila si jahat berbalik dari kejahatan yang telah dilakukannya, maka pada saat itu dia telah menyelamatkan hidupnya”. Sementara “bila orang benar berbalik dari kebenarannya, maka ia harus mati karena kesalahan yang dilakukannya”.
Nabi Yehezkiel di sini mempromosikan suatu revolusi dalam ajarannya tentang pahala atau ganjaran. Yehezkiel katakan, “kalau dulu pahala itu diberi kepada seluruh umat, maka sekarang hanya kepada pribadi-pribadi yang benar-benar melakukan hal benar, terutama hal-hal cinta kasih”. Dia akan memiliki masa depan yang cerah, terutama akan berada di dalam Kerajaan Allah. Malah secara keras dikatakan, bahwa Allah akan menghukum dengan sangat keras “mereka yang tetap hidup di dalam kesalahannya”.
Nubuat nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama, mendapat penekanan oleh Yesus dalam bacaan Injil Matius,  melalui perumpamaan tentang anak sulung dan anak bungsu.
Kalau kita bandingkan dengan keempat tipe dalam pengantar tadi, maka cerita anak sulung dan anak bungsu ini mencerminkan dua tipe kehidupan: yaitu tipe kedua (orang yang lahir hingga remajanya jahat, tetapi kemudian setelah dewasa bertobat dan ia pun meninggal sebagai orang yang baik) dan tipe ketiga (yaitu orang yang sejak lahir dia itu baik, tetapi di akhir hidupnya hingga meninggalnya sebagai orang yang jahat).
Diceriterakan bahwa seorang anak telah menjawab “ya” namun tidak melaksanakan perintah ayahnya (tipe 3) dan ada seorang anak lainnya yang menjawab “tidak” namun kemudian melaksanakan perintah ayahnya (tipe 2).
Memang akan terlihat sempurna, bila seorang menjawab “ya” dan kemudian melaksanakannya juga apa yang diperintahkan kepadanya. Namun, hal itu sedikit saja orang yang memilikinya. Kebanyakan dari kita adalah manusia yang memerlukan pertobatan, menyadari kesalahannya dan segera mengubah arah. Demikianlah, Allah pun sangat berkenan kepada orang berdosa yang bertobat. Yesus sendiri bahkan disebut sahabat pemungut cukai dan orang berdosa, karena Ia begitu dekat dan mencintai mereka.
Tidak semua perintah Allah mudah untuk dilaksanakan. Misalnya, perintah untuk saling mengasihi. Maka, yang sering terjadi adalah kita melupakannya daripada mengingatnya. Kita tidak mau mengasihi sesama karena takut kehilangan apa yang “baik” menurut kita, yakni harga diri. Hingga kita jatuh pada dosa yang sama dan sama, memandang sesama sebagai musuh dan harus lebih rendah dari kita. Sepertinya kelemahan kita telah dikuasai oleh kejahatan atau kita sendiri yang terlalu fokus pada rasa sakit karena dilukai.

APLIKASI - PRAKTIS
Mungkinkah kita akan menjadi pentobat di saat yang demikian? Mungkin saja, ya sangat mungkin. Akan tetapi, menjadi pentobat dalam situasi itu diperlukan rahmat dari Tuhan sendiri. Kita tetap berusaha, namun hanya rahmat yang membuat kita mengalami pertobatan sejati. Kita berusaha mencari tempat dan situasi untuk bertobat, dan bagi yang ingin membantu orang lain bertobat, berikan dan usahakan tempat dan situasi yang berguna bagi usaha pertobatannya, sambil mendoakannya.
Seorang yang ingin menjadi pentobat sejati perlu usaha keras dalam latihan rohani: berusaha memperbaiki diri setiap saat, memperbanyak kesalehan, dan membaca kitab suci. Salah satu latihan rohani lainnya adalah masuk ke dalam keheningan batin, yaitu meditasi seperti meditasi kristiani atau doa menyerukan nama Yesus. Hal itu dilakukan supaya kita mencapai titik di mana kita sehati, sepikir dan sejiwa dalam satu tujuan.
Beberapa pesan sabda Tuhan untuk kita pada hari Minggu Biasa ke 26 ini:
  1. Panggilan dasar kita ialah menjadi baik (dan kita memang telah baik) sejak kelahiran kita. Dan karena itu, kita dipanggil untuk selalu menjadi baik sampai akhir, di mana kita boleh bertemu muka dengan muka bersama Yesus, dan bersama Allah Tritunggal.
  2. Walaupun kita diciptakan baik, namun kita adalah orang-orang yang memiliki kelemahan dan akan sering kali jatuh ke dalam kesalahan, kekeliruan dan dosa. Karena itu panggilan kita ialah berusaha terus menerus dan sekuat tenaga untuk mempertahankan yang baik itu. Tuhan akan mempertimbangkan usaha dan kerja keras kita untuk bertobat, untuk “menjawab tidak, namun ya dalam dalam pelaksanaannya”.
  3. Tuhan mungkin tidak akan memperhatikan orang-orang yang beranggapan bahwa “ah, sekarang kita berbuat dosa dululah, toh nanti setelah menjelang tua baru kita bertobat dan melakukan perbuatan-perbuatan baik”. Kita juga harus tahu bahwa Tuhan akan memperhitungkan orang-orang yang melakukan perbuatan baik yang muncul dari hati, tulus dan apa adanya, dan bukan melakukan perbuatan baik dengan motif-motif yang tidak sehat dan tidak terpuji. Amin

Telukdalam, 27 Septemberi 2014

Minggu, 12 Oktober 2014

Kotbah Minggu Biasa ke 25 - A

IRI HATIKAH ENGKAU, 
KARENA AKU MURAH HATI?

Bacaan 1: Yesaya 55,6-9; Mazmur Tggp 144; Bacaan 2: Filipi 1,20c-24.27a; Bacaan Injil: Matius, 21,1-16a

INTRODUKSI

“Cemburu”. Mungkin itulah salah satu aspek negatif yang manusia miliki ketika melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang lebih darinya. Suatu kali, seorang kepala tukang mencari beberapa tenaga tukang dan memperkerjakan mereka dalam suatu pembangunan gereja stasi. Setelah seminggu bekerja, para tukangpun menerima upah mereka, masing-masing Rp. 180.000,. untuk 6 hari kerja. Setelah sebulan berlalu, kepala tukang akhirnya berpikir, “saya harus membayar lebih kepada tukang A karena dia lebih sungguh-sungguh bekerja dan sangat bertanggung jawab. Karena itu, ketika hari sabtu berikutnya, sang kepala tukangpun membayar lebih Rp. 10.000,. kepadanya, menjadi Rp. 190.000,. Melihat ini, teman-teman yang lainpun mengamuk dan bertanya kepada kepala tukang: “Mengapa engkau berlaku tidak adil, dan mengapa si A menerima lebih dari kami yang lain? Bukankah sudah kita sepakati bahwa gaji per hari adalah Rp. 30.000.,?

URAIAN KITAB SUCI
Bacaan hari Minggu ini mengisahkan perumpamaan tentang “majikan yang baik”. Majikan yang baik ditunjukkan dalam sikap yang tidak mengutamakan aturan-aturan standar (seperti membayar upah berdasarkan kesepakatan awal) melainkan membayarkan upah secara lebih kepada siapa saja, dengan tetap mengutamakan dahulu standar minimal. Matius penginjil mengatakan bahwa inilah ciri khas keadilan yang ditunjukan oleh majikan yang baik itu.
Sang majikan telah membayar sesuai dengan aturan, yaitu kesepakatan yang telah dibuat di pagi hari kepada kelompok yang masuk pertama, di pagi hari. Jika pada sore hari, sang majikan membayar secara lebih kepada mereka yang baru masuk kerja di sore hari, dan mungkin hanya 30 menit kerja, maka itu bukanlah pelanggaran kesepakatan tetapi itu adalah sikap “memperhatikan dan mengasihi secara lebih”. Cinta kasih dan keadilan majikan tidak dihayati dan dilaksanakan berdasarkan kesepakatan, tetapi dilaksanakan secara lebih berdasarkan belas kasih dan cinta yang ditunjukkannya.
Matius mencatat bahwa inilah sifat Allah, bahwa Dia mencintai dan mengasihi manusia bukan hanya berdasarkan kesepakatan, melainkan atas dasar belas kasihnya yang tidak terhingga, yang secara bebas diberikan kepada semua orang tanpa harus diminta dan disepakati dengan manusia.
Perhatian dan cinta kasih dari Allah diberikan oleh Yesus dalam konteks cerita Injil hari ini ialah ketika “semakin meningkatnya perlawanan kepada Yesus”. Pewartaan Yesus nampaknya telah merusak kenyamanan orang Farisi dan Ahli Taurat, dan ditambah lagi karena mereka tidak menerima pewartaan Yesus. Kedegilan hati mereka inilah yang tidak disukai oleh Yesus, dan karena itu Ia katakan bahwa “iri hatikah kamu kalau Aku murah hati”?
Dalam Injil, Matius memberikan perbedaan pemahaman tentang kemurahan hati: yaitu antara kemurahan hati manusia dan kemurahan hati Allah. Manusia memikirkan bahwa kemurahan hati (dalam tradisi semit), adalah sikap adil yang harus ditunjukkan berdasarkan aturan-aturan yang telah disepakati. Sedangkan pemahaman tentang kemurahan hati dari pihak Allah ialah bahwa “Allah bebas untuk memberikan dan menganugerahkan kepada siapapun, ke manapun dan kapanpun; lepas dari apakah itu disepakati dengan manusia atau tidak”. Di sini nampak bahwa Allah berbuat baik bukan atas dasar aturan hukum, melainkan atas apa yang dianggap perlu untuk manusia.
Di sini juga nampak apa yang ditekankan oleh nabi Yesaya dalam bacaan pertama, bahwa “pikiran Allah adalah berbeda secara mendasar dari pikiran manusia”. Manusia memikirkan belas kasih berdasarkan aturan atau hukum, sedangkan Allah memikirkan berdasarkan ketulusan dalam memberi.
Dengan itu Yesus ingin mengatakan kepada orang Yahudi untuk menjauhkan diri dari sikap sombong dan tinggi hati. Di hadapan Allah, kamu tidak memiliki apa-apa. Yesus justru menuntut untuk percaya kepada-Nya, namun karena mereka lama dan lambat untuk percaya, maka merekalah yang akhirnya menjadi terakhir diselamatkan.
Ini sejalan dengan kata Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, bahwa jemaat Filipi akan kehilangan keselamatan karena tidak percaya kepada Kristus. Paulus mengatakan bahwa Kristus menjadi yang utama. Karena itu Paulus mengatakan “Bagiku hidup adalah Kristus”. Paulus yakin bahwa dengan menempatkan Kristus yang paling utama dan pertama, ia akan mendapatkan keselamatan. Paulus ingin menempatkan cintanya kepada Kristus sebagai yang paling utama dan pertama, karena ia yakin akan keselamatan yang akan diberikan kepadanya.

APLIKASI - PRAKTIS
Ada beberapa pesan Tuhan untuk kita pada hari minggu biasa ke-25 hari ini:
  1. Kita diajak oleh Gereja dan oleh Tuhan untuk dari hari ke hari menempatkan pikiran Allah dalam pikiran kita. Kita diajak untuk membiarkan Allah, melalui sabda-Nya, untuk menguasai pikiran kita, dan menghindari menempatkan pikiran kita ke dalam pikiran Allah. Kalau kita memaksa menempatkan pikiran kita ke dalam pikiran Allah atau menjadi pikiran Allah, maka kita menguasai Allah, dan kita akhirnya menjadi manusia yang tinggi hati dan sombong karena mau menguasai Allah. Inilah yang disebut dengan dosa asal dan dosa pertama: menguasai Allah melalui pikiran kita.
  2. Dalam kegiatan mengasihi, kita diajak untuk melakukan hal baik secara jujur dan tulus, dari hati, dan bukan karena ada aturan  khusus dalam melakukan perbuatan baik. Banyak orang berbuat baik karena ingin melaksanakan salah satu dari ke-10 perintah Allah., atau karena takut dihukum oleh Allah, atau karena ingin dipuji atau dinilai baik oleh orang lain. Padahal Yesus mengajarkan kita hari ini: “Jika kita ingin bermurah hati, bermurah hatilah secara tulus”, lepas dari apakah kemurahan hati kita akan dibalas atau tidak.
  3. Sifat dasar negatif kita ialah cemburu dan iri hati. Melalui bacaan-bacaan, terutama Injil hari ini, kita diajak untuk mengurangi sikap cemburu dan iri hati jika suatu ketika kita melihat ada seseorang yang berbuat baik. Kita kadang lebih sibuk bertanya dalam hati: “mengapa dia berbuat baik”, ada maksud apa dia berbuat baik, apakah ada udang di balik batu? Hari ini kita diajak untuk berpikir secara positip tentang setiap perbuatan baik yang dikerjakan oleh sesama kita, dan menghindari pikiran-pikiran negatif, yang justru dapat merusak kebersamaan hidup. Amin

Telukdalam, 21 Septemberi 2014

RETREAT TAHUNAN KAPAUSIN KUSTODI GENERAL SIBOLGA 2023

  Para saudara dina dari Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga, pada tanggal 6 s/d 10 Noveember 2023, mengadakan retreat tahunan yang dilaksa...