Sabtu, 03 Januari 2015

Kotbah Hari Raya Penampakan, B - 2015

Bacaan Pertama       : Yes 60,1-16
Mazmur Tggpn       : 72
Bacaan Kedua          : Ef 3,2-2a.5-6
Bacaan Injil             : Matius 2,1-12


KEMULIAAN TUHAN TERBIT ATAS KITA


EXORDIUM:
Menurut Evagrius Pontikus, pertapa Kristiani abad ke-4, hasrat manusia keluar dari tiga sumber, yaitu keinginan, emosi dan intelektual. Di balik hasrat itu ada jeritan jiwa yang rindu bersatu dengan Allah. Salah satu keinginan manusia adalah menjadi kaya. Mengapa kita ingin kaya? Agar tatkala sakit ada uang untuk berobat. Tatkala menyekolahkan anak ada biaya. Tatkala ingin liburan di luar negeri ada uang, dsb. Maka di balik hasrat ingin kaya, ada kerinduan jiwa untuk aman dan tenteram, terjamin. Siapa yang bisa menjamin jiwa kita? Bukan kekayaan, tetapi Allah. Maka bila kekayaan menjadi fokus hidup, jiwa akan merana dan kecewa. Sebaliknya, bila peka terhadap jeritan jiwa di balik ingin kaya itu dan setia mengikutinya, maka harta kekayaan menjadi sarana memuliakan Allah dan membantu sesama.

CORPUS
Dalam Injil Hari Raya Penampakan Tuhan ada dua kelompok yang mencari Yesus dengan motivasi yang berbeda. Pertama, tiga majus dari Timur. Motivasi mereka mencari Yesus adalah memenuhi kerinduan jiwa untuk menyembah Dia. Maka harta kekayaan menjadi persembahan. Perjumpaan dengan Yesus merupakan harta yang tak ternilai harganya dan kekayaan menjadi relatif nilainya. Inilah orang yang terbuka hatinya untuk dibimbing oleh Allah (bintang) dan perjumpaan dengan Allah itu membarui hidup. Dikatakan: "mereka pulang ke negerinya melalui jalan lain!". Mereka meninggalkan cara hidup lama dan mulai hidup yang baru. Kedua, Raja Herodes mencari Yesus dengan motivasi ingin membunuh-Nya karena ia takut popularitasnya terancam dengan kelahiran Yesus. Dirinya harus disembah dan dimuliakan. Yesus harus dibunuh karena menjadi ancaman.

CONCLUSIO
Harta benda dan peristiwa di dunia ini bagaikan bintang petunjuk menuju Allah. Tinggal sikap kita: apakah kita setia pada jeritan jiwa yang rindu menyembah Allah atau kita membiarkan diri dikuasai oleh hasrat manusiawi, hasrat serakah atau mencari popularitas diri. 

Telukdalam, 28 Desember 2014

Kotbah Keluarga Kudus, B - 2015

Bacaan Pertama       : Kej 15,1-6; 21,1-3
Mazmur Tggpn       : 105
Bacaan Kedua          : Ibrani 11,8.11-12.17-19
Bacaan Injil             : Lukas 2,22-40


MEMBANGUN KELUARGA YANG KUDUS

EXORDIUM:
Kita semua hidup dan bertumbuh di dalam keluarga. Dan bagaimana situasi dalam keluarga kita, kita semua bisa mengalami sendiri. Namun secara umum, kita sering mendengarkan situasi kehidupan berkeluarga, baik kita sendiri maupun orang lain.
Karena itu, tidak heran jika kita mendengar cerita dan melihat dari dekat bahwa keluarga si A itu selalu rukun, baik, selalu bersama-sama kalau bepergian, ada doa bersama waktu makan dan sebelum dan setelah bangun tidur, dan lain-lain. Tetapi tidak heran juga kita dengar dan kita lihat bahwa ada keluarga yang tidak akur, tidak pernah ada makan bersama dalam keluarga setelah 5 atau 6 tahun menikah, bertengkar terus setiap hari, masing-masing tidak tahu siapa pergi ke mana dan kapan juga kembali, ada juga salah seorang dari mereka yang lari kembali ke rumah orangtuanya, ada juga yang disebut dengan single parent, ada juga kekerasan dalam rumah tangga, dan masih banyak lagi.
Hari ini, Gereja Katolik kita memestakan hari Keluarga Kudus Nazareth. Pesta Keluarga Kudus Nazareth ini ditetapkan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1893 yang dirayakan antara tanggal 7 sd 13 Januari setiap tahunnya. Namun sejak tahun 1969, dirayakan pada hari Minggu Pertama setelah Natal, antara Natal dan Tahun Baru.
Paus Leo XIII menetapkan Hari Raya Keluarga Kudus dengan maksud agar semua orang dan keluarga Katolik, terutama setelah Natal, bisa sebentar mengarahkan perhatian mereka secara khusus kepada hidup keluarga kudus di Nazareth sebagai model atau contoh kehidupan keluarga mereka.
  
CORPUS
Bagaimana bacaan-bacaan pada hari mengajarkan kita tentang ciri khas dari hidup keluarga kudus itu?
Bacaan pertama
Bacaan Injil hari ini memberikan gambaran kepada kita seperti apakah cara hidup Keluarga Kudus Nazaret. Secara ekonomis, mereka bukan keluarga kaya. Hal ini nampak dari persembahan mereka yang hanya berupa “sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati” padahal biasanya bagi keluarga yang mampu, persembahannya berupa seekor kambing atau domba (bisa dibandingkan dalam aturan hukum Taurat dalam kitab Imamat 12,6-6). Walaupun demikian, mereka tetap taat menjalankan hukum Taurat Musa, yang bagi mereka bukan sekedar menjalankan legalitas (melaksanakan aturan atau hukum agama dan sipil) tetapi mereka memaknai persembahan sebagai ibadah kepada Tuhan (ingat: persembahan sebagai ibadah dan bukan sebagai aturan).
Mereka juga mempersembahkan Yesus, yang oleh Tuhan Allah telah diserahkan dalam asuhan mereka. Bagian penutup Injil sangat menarik, dan menjadi karakteristik Keluarga Kudus Nazaret. Bagian ini mengatakan: “dalam asuhan mereka, Yesus makin bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada ada pada-Nya”, meyakinkan kepada kita Keluarga Yusuf dan Maria sungguh-sungguh mengasuh Yesus penuh kasih sayang dan cinta.
Mereka mencukupi kebutuhan jasmaninya sehingga Ia semakin bertambah besar dan kuat, mereka memberikan pendidikan yang baik sehingga Yesus menjadi penuh hikmat, dan mereka juga membantu-Nya bertumbuh dan berkembang secara spiritual sehingga Yesus penuh dengan kasih karunia Allah.

KELUARGA NAZARETH
Yusuf Pelindung dan Penurut
Walaupun tidak dikatakan oleh Injil Lukas pada hari ini kepada kita, namun secara umum, kita dapat melihat bahwa Yusuf adalah seorang suami dan ayah yang penurut terhadap apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Yusuf tidak pernah protes dalam melaksanakan perintah Tuhan, walaupun itu hanya melalui mimpi. Ketika Tuhan menyuruh dia untuk mengambil Maria sebagai istri, dia laksanakan. Ketika disuruh untuk bawa ke Mesir dan kembali dari Mesir anak dan istrinya Maria, juga juga ikut saja, tanpa protes.
Sikap Yusuf juga nampak bahwa dia sebagai seorang suami dan ayah yang selalu melindungi Maria dan Yesus. Ketika ada ancaman dari Raja Herodes, dia cepat mengikuti perintah Tuhan untuk menyelamatkan Maria dan Yesus ke Mesir. Yusuf adalah seorang suami dan ayah yang bertaruh seluruh hidupnya untuk melindungi istri dan anaknya, yang adalah Anak Allah.

Maria: Penurut dan Perawat
Sejak Maria diperkenalkan oleh malaikat bahwa Ia telah mengandung dari Roh Kudus, Maria dikenal sebagai seorang pribadi yang bersahaja, pendiam (tidak banyak bicara, tidak rewel, tidak banyak menuntut) tetapi justru menyimpan semua perkara di dalam hatinya, setia merawat dan membesarkan bayi Yesus itu. Di hadapan Tuhan Maria adalah pribadi yang penurut dan pendengar setia. Apa yang diperintahkan Tuhan, walaupun itu hanya melalui malaikat, Maria laksanakan dengan taat dan setia.
Selain itu, Maria juga setia membesarkan dan mendidik Yesus sebagai pribadi yang kokoh dan kuat. Kita tahu bahwa selama 12 tahun, Yesus hidup dan bertumbuh bersama Maria dan Yusuf di dalam keluarga, dan tentu, Yesus dididik dan dirawat dengan sangat baik. Anak yang baik dan sukses muncul dari orang tua yang setia merawatnya dengan setia, sabar dan bertanggung jawab.

Yesus: Taat dan Bertambah Besar
tidak banyak dikatakan tentang Yesus sampai DIA berumur 12 tahun. Tetapi dalam Injil hari ini, dikatakan bahwa Yesus bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya. Ini berarti bahwa Yesus yang masih kecil dan sampai berumur 12 tahun, selalu siap dibina, dididik dan diarahkan oleh orang tua-Nya Yusuf dan Maria. Yesus adalah anak yang taat, patuh, tidak juga banyak protes, dan terus bertumbuh serta berkembang menuju kedewasaan-Nya.

CONCLUSIO
Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Kenapa keluarga Yusuf dan Maria disebut keluarga kudus? Apakah karena mereka tidak pernah cekcok? Apakah karena mereka selalu rajin pergi ke Bait Allah atau apakah mereka tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup berkeluarga? Saya yakin bukan! Mereka disebut Keluarga Kudus karena hadir di sana, Yesus Kristus Putra Allah. Kehadiran Yesus menguduskan hidup keluarga itu secara lahir maupun batin. Suasana hidup keluarga dipengaruhi oleh kasih dan damai yang dibawa Yesus.
Oleh karena itu, kalau kita orang-orang percaya ini mau menjadikan keluarga kita sebagai keluarga kudus, pertama-tama bukan berarti keluarga kita harus bebas dari salah, bukan berarti tiap-tiap anggota tidak melakukan kekeliruan, melainkan keluarga yang mau menerima serta membiarkan diri dipengaruhi oleh Yesus.
Yang paling penting ialah bagaimana kita berusaha untuk menciptakan sebuah sebuah keluarga (dan juga komunitas) sebagai Gereja mini dan rumah makan mini di dalamnya ada doa, ada makan bersama, ada cerita bersama, ada saling menghormati, patuh, setia, dan lain sebagainya. Keluarga bukanlah sebuah apartemen, di mana masing-masing boleh datang, tidur, makan dan pergi seenaknya, tapi keluarga adalah sebuah kebersamaan di dalam Allah, kebersamaan di dalam Kristus.
Dan salah satu tugas kita semua ialah bagaimana membuat semua anggota keluarga kita untuk merasa nyaman dan memiliki kerinduan untuk pulang dan tinggal di dalam rumah keluarga kita. Kuncinya terletak pada komitmen untuk selalu berdoa dan beribadat kepada Tuhan, dan komitmen kita untuk menghayati “hukum” perkawinan Katolik yang menuntut kesetiaan seumur hidup dan pemberian diri secara total kepada suami, kepada istri, kepada anak, kepada keluarga dan komunitas kita.

Telukdalam, 28 Desember 2014

Kotbah Hari Raya Natal, B - 25 Desember 2014

Bacaan Pertama       : Yesaya, 52,7-10
Mazmur Tgpn         : 97
Bacaan Kedua          : Ibrani, 1,1-6

Bacaan Injil             : Yohanes 1,1-18

FIRMAN ALLAH:
TELAH MENJADI MANUSIA !


EXORDIUM:
Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, tt setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sungguh-sungguh tidak percaya.
“Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih,” kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja.
“Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya…”
Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri Misa menjelang tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka.
“Saya tidak mau menjadi munafik,” jawabnya.
“Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggu kalian semua sampai pulang.”
Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar.
Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.
“Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini”, pikir pria itu. “Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka”? Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam.
“Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk”, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.
Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.
“Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan,” kata pria itu pada dirinya sendiri, “…dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahukan bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman.”
Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah.
Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata,
“Sekarang saya mengerti,” bisiknya dengan terisak.
“Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia…”



CORPUS
Yang baru lahir itu ialah TERANG
Terdapat lompatan yang sangat terasa dalam bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini. Jika tadi malam kita mendengar cerita seputar Natal atau seputar kelahiran Yesus, sebaliknya hari ini bacaan-bacaan tidak memberikan kita cerita tentang kelahiran Yesus itu. Injil Yohanes bahkan menempatkan di awal Injilnya tentang kisah “Firman yang menjadi Manusia”. Dalam bacaan pertama diceritakan tentang ajakan untuk bersorak-sorai kepada semua bangsa Israel yang sedang runtuh. Namun di tengah keruntuhan itu, bangsa Israel harus tetap berusaha bergembira, berduka cita, bersorak-sorai bersama-sama, karena Tuhan akan menghibur mereka. Sedangkan dalam bacaan kedua, Surat kepada orang Ibrani mengajarkan kepada kita tentang Yesus yang akan berbicara tentang diri-Nya sendiri. Kalau pada jaman Perjanjian Lama, para nabilah yang berbicara, sedangkan sekarang, Putera Allah sendirilah yang langsung berbicara.

Mengapa Tidak Menyentuh Cerita seputar Natal?
Dalam perkembangan sejarah Gereja, dilihat bahwa orang sering terlena dengan kegiatan Natal yang mewah dan secara tidak sadar, mereka melupakan bahwa terdapat sebuah misteri besar dari peristiwa seputar Natal itu. Orang kristen telalu asyik dengan pesta-pesta Natal, dan mempunyai kecenderungan untuk mengagungkan Natal di atas dari pesta-pesta yang lain.
Karena itu, Gereja mengajak kita untuk merenungkan bahwa bayi yang baru lahir itu bukanlah bayi biasa, bukanlah bayi yang sama begitu saja dengan bayi-bayi manusia yang lain, melainkan bayi FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA. Bayi yang baru lahir itulah yang disebut oleh Injil Yohanes: sebagai SABDA YANG MENJADI MANUSIA, YANG PADA MULANYA ADALAH SABDA, YANG ADALAH TERANG ITU, YANG SEKARANG TINGGAL BERSAMA KITA. Terang itu bukan tiba-tiba datang, tetapi kedatangan-Nya sudah diramalkan sejak lama, sejak penciptaan manusia oleh Tuhan. Terang itu ialah Allah sendiri, Putera-Nya sendiri yang kita lahir untuk kita.


CONCLUSIO
Terdapat dua hal yang hendak kita renungkan pada hari Raya Natal ini:
  1. Tidak terlena pada pesta duniawi
Tidak dapat disangkal bahwa Natal selalu memberikan rasa gembira, rasa sukacita dan rasa damai untuk kita semua, baik di dalam rumah, komunitas, kelompok atau dalam sebuah grup tertentu. Tetapi melalui bacaan-bacaan hari ini, kita diajak untuk tidak terlena dengan kegembiraan duniawi atau kegembiraan lahiriah, melainkan mengisinya dengan kepercayaan bahwa yang sedang kita rayakan itu ialah Sabda yang menjadi Manusia. Dialah Allah sendiri, yang hadir sebagai hadiah terbesar untuk kita dan menyatakan diri sebagai Allah. Maka yang lebih penting ialah bukan pesta-pesta lahiriah, melainkan ajakan untuk PERCAYA kepada Sang Sabda yang menjadi Daging itu.
  1. Kehadiran dan kelahiran-Nya sebagai Allah dan Manusia
Melalui bacaan-bacaan para hari ini, Gereja ingin mengajak kita beriman secara benar, bahwa yang baru lahir itu ialah bukan hanya manusia biasa, bukan hanya Allah saja, melainkan kesempurnaan Allah dan Manusia. Jadi Yesus yang baru lahir itu ialah memiliki dua kualitasnya: Allah dan Manusia.
Dalam sejarah Gereja, banyak orang yang diekskomunikasi karena beriman dan mengajarkan secara salah, bahwa Yesus itu hanya Allah saja, hanya hanya manusia saja, atau hanya pura-pura mengambil bentuk sebagai manusia. Tetapi Gereja justru mengajarkan bahwa Yesus yang baru lahir itu, sungguh Allah dan sungguh Manusia.


Telukdalam, 25 Desember 2014

Minggu, 21 Desember 2014

Kotbah Minggu Adven ke-3, B


“BELAJAR DARI YOHANES PEMBAPTIS:
PENANTIAN, PENGHARAPAN, KEJUJURAN DAN KERENDAHAN HATI!”


EXORDIUM:
Ada tiga orang anak kecil yang sedang berbagi pengalaman mereka. Mungkin suatu ketiga, orang tua mereka masing-masing pernah membawa mereka jalan-jalan di kebun binatang, dan di tempat yang berbeda pula. Anak yang pertama bercerita kalau dia pernah pergi ke Museum di Gunungsitoli dan melihat di sana ada buaya dan binatang-binatang lainnya yang cantik-cantik, yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Anak kedua juga tidak mau kalah. Dia mengatakan bahwa dia pernah ke Medan dan dia pernah dibawa orang tuanya jalan-jalan ke kebun binatang, dan di sana ada Zebra dan juga Harimau yang besar-besar. Indah sekali pemandangannya. Nah, anak yang ketiga juga tidak mau kalah. Dia katakan bahwa beberapa waktu lalu, dia pernah dibawa oleh orang tuanya ke Jakarta dan pergi bertamasya ke Dufan (dunia fantasi) di Ancol. Di sana dia melihat banyak juga binatang seperti kuda, rusa, dan Gajah yang besar serta permainan-permainan yang mirip seperti di Pasar Natal lapangan Orurusa di malam hari. Begitulah ketiga anak itu terus bercerita, dan sepertinya yang satu tidak mau kalah dari yang lainnya. Mereka ingin tampil lebih dari yang lain. Tidak seorangpun tahu berapa persen kebenaran dan berapa persen kebohongan dari cerita anak-anak ini.
  
CORPUS
Bapak/ibu ...., kebohongan sering dirangkai manusia supaya menimbulkan kesan baik, hebat, dan terpandang serta terhormat oleh orang lain.
Bacaan-bacaan kitab suci pada hari Minggu Adven ketiga ini menampilkan sikap kerendahan hati para utusan Allah. Bacaan pertama menampilkan Nabi Yesaya dengan sikap kerendahan hati serta kejujurannya di hadapan bangsa Israel. Dia katakan: “Roh Tuhan menaungi aku, karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan khabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati...”. Demikianlah Tuhan Allah akan menumbuhkan kebenaran dan pujian di hadapan segala bangsa.
Di sini bapak-ibu, dan saudara/i terkasih. Dengan penuh kerendahan hati, Yesaya ingin menampilkan diri sebagai utusan Allah yang jujur, dan tidak takut mengatakan hal yang sesungguhnya yang harus dia lakukan. Nabi Yesaya tidak ingin menyembunyikan tugas yang diterima dari Allah, tetapi dia dengan jujur, berani dan rendah hati bahwa dialah yang diutus Allah untuk mewartakan khabar baik. Dengan kejujuran dan keberaniannya, Yesaya tidak takut kepada orang-orang yang mungkin akan membenci dan menyingkirkan dia. Dia berani dan dengan lantang mewartakan pertobatan kepada bangsa Israel, yang senantiasa menjauhkan diri dari Allah.
Bapak/ibu saudara/i..., kejujuran, ketaatan, kerendahan hati dan keberanian Nabi Yesaya juga ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil hari ini. “Aku bukan Mesias”, adalah jawaban kejujuran Yohanes Pembaptis kepada orang-orang yang bertanya kepadanya, tentang n”apakah dia Mesias”. Dengan jujur, rendah hati, berani dan terbuka, Yohanes menjawab: “Aku bukan Messias”. Sebenarnya Yohanes punya kesempatan untuk menonjolkan dirinya, karena orang Israel semakin menaruh pengharapan kepadanya. Orang Israel bahkan mulai percaya bahwa Yohaneslah adalah Nabi yang sedang ditunggu-tunggu itu. Yohanes justru selalu menjawab: “Bukan! Aku bukan Mesias! Aku juga bukan nabi yang akan datang itu, seperti yang sedang kalian tunggu. Aku hanyalah seorang yang berseru-seru di Padang gurun: “luruskanlah jalan Tuhan, seperti yang telah dikatakan oleh nabi Yesaya”.
Bapak/ibu..., penegasan Yohanes Pembaptis berpuncak pada gagasan yang dikatakan juga secara terbuka, rendah hati dan jujur kepada bangsa Israel bahwa: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengahmu berdiri DIA yang tidak kamu kenal, yaitu DIA, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasutnya pun, aku tidak layak”. Yohanes sadar bahwa dia harus pelan-pelan mundur dari pewartaannya, serta sekaligus membiarkan Yesus tampil sebagai seseorang yang sedang ditunggu-tunggu. Yohanes Pembaptis tahu diri dan sadar diri, bahwa bukan dia yang harus dikenal. Yang harus dikenal dan dipahami oleh bangsa Israel ialah Putera Allah, Yesus sendiri. Yohanes tahu bahwa dia hanyalah utusan yang mendahului, bukan sentral dari penantian bangsa Israel.


 CONCLUSIO
 Masa Adven ialah masa penantian, pengharapan dan sukacita. Namun masa Adven adalah masa di mana kita belajar beriman dan bertingkah laku dari Yohanes Pembaptis serta belajar kerendahan hati, kejujuran, ketulusan, ketaatan dan tahu diri di hadapan Allah. Bagaimanakah cara kita menanti, bagaimanakah cara kita berharap, dan bagaimanakah cara kita bersuka cita dalam mengisi masa Adven itu?
  1.  Agar kita nanti bisa layak dan pantas serta berduka cita di hari kelahiran Tuhan, maka sekarang kita seharusnya meningkatkan perbaikan tingkah laku kita dan sikap kita untuk mencoba jujur, terbuka, rendah hati serta tahu diri bahwa kita adalah orang-orang yang penuh dengan kekurangan di hadapan Allah.
  2. Seperti Yohanes Pembaptis, kita juga diajak untuk puasa atau menahan diri memamerkan diri kita, atau menonjolkan diri kita. Kita diajak untuk mengutamakan orang lain, membuat orang lain tampil untuk makin berkembang dalam hidup, membuat orang lain juga sukses, membuat orang lain juga menemukan nilai-nilai hidup yang sedang dicarinya. Begitulah kita belajar dari Yohanes Pembaptis pada hari ini, untuk tidak mengatakan kepada sesama kita: “Saya dulu”, atau mengutamakan kepentingan diri sendiri; melainkan mencoba untuk mengutamakan diri orang lain. Dengan itu, kita bisa menghayati masa Adven ini dengan baik, dengan pantas dan layak dan akhirnya kita juga menyiapkan hati kita untuk kedatangan Tuhan Yesus, atau kelahiran Tuhan Yesus dalam diri kita dan dalam keluarga kita masing-masing.
  3. Selamat menghayati masa Adven... Semoga sukses...!!!


Telukdalam, 14 Desember 2014
Email: giuslay.zone@gmail.com

Kotbah Minggu Adven ke-4, B


Hari ini adalah Minggu Adven terakhir yang kita rayakan bersama Gereja. Minggu-minggu sebelumnya Gereja menghadirkan tokoh besar yaitu Yohanes Pembaptis. Hari ini Gereja juga menghadirkan tokoh besar lain namun sekaligus seorang perempuan sederhana, yaitu Maria. Kedua tokoh ini sama-sama memiliki peran yang besar dalam menyongsong kelahiran Yesus, Sang Imanuel. Yohanes Pembaptis menyiapkan jalan pertobatan kepada orang Israel dan Maria menyiapkan rahim sucinya untuk mengandung dari Roh Kudus. Kedua tokoh ini memiliki kesamaan yang berani mengambil risiko untuk Allah.

Dalam kisah Kitab Suci Yohanes Pembaptis dikisahkan mati dengan kepala terpenggal di tangan Herodes. Sedangkan Maria menyaksikan penderitaan Putranya hingga mati di salib. Hidup Yohanes Pembaptis dan Maria seluruhnya dipenuhi dengan risiko karena mengiyakan kehendak Allah. Dalam Luk 1:26-38 dikisahkan Maria menerima kabar dari malaikat. Kabar yang mengejutkan karena ia yang masih perawan akan mengandung dan melahirkan Anak laki-laki. Peristiwa itu terjadi begitu singkat dan Maria tanpa berpikir panjang menerima sepenuhnya Sabda Allah itu, meskipun ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. 

Sejujurnya, Maria memang tak memahami apa yang malaikat sampaikan, tetapi ia berani menjawab “ya”. Maria berani mengambil risiko untuk Allah. Risiko mengandung dan melahirkan bayi laki-laki yang harus ia beri nama Yesus. Ia menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya. Maria memang tak mengalami sesuatu yang berat ketika ia menjawab “ya”. Maria baru sepenuhnya mengerti tanggung jawab dan risiko dari “fiat”-nya itu ketika ia melahirkan Yesus dan hadir dalam hidup Yesus sampai di Golgota, bahkan menyaksikan penderitaan Putranya. 

Perjalanan hidup Maria adalah perjalanan dalam rangka dirinya mengambil risiko untuk Allah. Risiko atas perkataan, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Namun, justru dengan demikian teladan Maria yang mengambil risiko untuk Allah ini justru mengenalkan kepada kita tentang kebaikan dan kemanusiaan Allah yang sebenarnya. 

Marilah kita berani mengambil risiko untuk Allah agar kita juga mampu mengenalkan kebaikan dan kemanusiaan Allah yang sejati kepada mereka yang belum mengenal Allah.
Sumber: http://renunganpagi.blogspot.com/search/label/Renungan%20Minggu%20dan%20Hari%20Raya#gsc.tab=0
Telukdalam, 21 Desember 2014
PSL

Senin, 13 Oktober 2014

Kotbah Minggu Biasa ke 27 - A

KEBUN ANGGUR ITU AKAN DISEWAKAN
KEPADA PENGGARAP-PENGGARAP YANG LAIN

Bacaan 1, Yesaya 5,1-7; Mazmur Tggp, 80; Bacaan 2: Filipi 4,6-9; Bacaan Injil: Matius, 21,33-43


INTRODUKSI
Ada sepasang keluarga muda yang baru menikah. Mereka terpaksa harus berpisah karena sang suami harus ikut wajib militer di negeri yang jauh, entah untuk berapa lama. Karena perang itu bisa berlarut-larut, maka sebelum berpisah sang suami berpesan kepada isterinya, “Aku sangat mencintaimu. Namun, aku tidak sampai hati menyiksamu sendirian dalam kesendirian dan kesepian. Sekiranya ada pria lain mencintaimu dan kamu mencintainya, aku ikhlaskan kalian untuk menikah.”
Berangkatlah sang suami ke medan perang. Tahun demi tahun berlalu. Ia tidak pernah sekalipun mengirim surat kepada isterinya. Akhirnya, perang selesai dan ia boleh pulang. Lalu ia menulis surat kepada isterinya, “Kalau kamu tidak menikah lagi dengan pria lain dan setia menunggu kedatanganku, tolong memberi tanda dengan mengikatkan seutas sapu tangan kuning pada sebuah cabang pohon oak yang tumbuh di depan rumah kita. Tapi kalau kamu sudah menikah dengan pria lain, kamu tidak perlu memberi tanda apa-apa. Aku akan berbalik dan meninggalkan rumah kalian.”
Pada suatu senja hari sampailah ia di depan rumah mereka. Ia hampir tak sanggup menatap ke ranting-ranting pohon oak itu. Dengan segala kekuatannya dia memandang lurus-lurus ke pohon oak itu. Ia hampir tak percaya. Ia bukan hanya melihat seutas sapu tangan kuning, melainkan puluhan sapu tangan kuning yang melambai-lambai kepadanya. Ia segera masuk ke rumah dan menjumpai isterinya yang setia selamanya.
Kesetiaan adalah kunci keutuhan keluarga. “Aku akan setia kepadamu dalam untung dan malang, saat sehat maupun sakit,” itulah janji pernikahan suami isteri yang harus selalu diperjuangkan. Keluarga yang utuh ditentukan oleh kualitas cinta kasih suami isteri.

URAIAN KITAB SUCI
Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengajak kita untuk merenungkan dua hal pokok dalam hidup keberimanan kita. Kedua hal itu ialah kesetiaan dan tahu diri.
Bacaan Injil hari ini sangat menarik karena mengisahkan tentang seseorang yang memiliki kebun anggur. Dia membuka kebun anggur, kemudian menanam anggur dan kemudia dia pergi ke luar negeri. Namun sebelum dia berangkat, dia menyewakan kebun anggur itu kepada penggarap-penggarap; yang tentu pada suatu ketika kalau dia kembali dari luar negeri, dia akan mengadakan perhitungan-perhitungan dengan mereka mengenai keuntungan yang didapat.
Menurut bacaan pertama, pemilik kebun anggur ialah Tuhan sendiri, kebun anggur adalah bangsa Israel sedangkan penggarap-penggarap ialah para pemimpin politik dan spiritual bangsa Israel. Jadi bangsa / masyarakat / rakyat Israel diibaratkan sebagai kebun anggur. Keberadaan dan hidup mereka diserahkan Tuhan atau “disewakan” kepada para pemimpin politik dan spiritual (ahli Taurat dan Orang Farisi) untuk menjaganya dan merawatnya serta mengembangkannya untuk dapat bertumbuh dengan baik sebagai masyarakat atau bangsa pilihan Tuhan.
Teteapi dalam kenyataannya, para pemimpin orang Israel ini tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka malah membenci utusan-utusan Tuhan dalam diri para Nabi, dan bahkan Putera-Nya sendiri dan bahkan membunuh mereka semua. Para pemimpin bangsa Israel menjadi tidak setia, tidak mau bertanggung jawab atas pemeliharaan hidup bangsa Israel. Mereka bahkan berusaha memeras umat dengan pajak yang tinggi, menuntut persembahan di atas altar, serta aturan-aturan lain yang menguntungkan pribadi mereka.
Tindakan-tindakan seperti inilah yang tidak disukai Tuhan, yang akhirnya menyebabkan Tuhan mengambil kembali kebun anggur-Nya dan dikelola atau dirawat oleh penggarap-penggarap yang lainnya.

APLIKASI - PRAKTIS
Nabi Yesaya dalam bacaan pertama dan Matius melalui bacaan Injil pada hari minggu ini, mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal untuk dihidupi selama minggu ini:
  1. Yesus mengajak kita untuk menerima tugas dengan setia. Para penggarap kebun anggur menjadi contoh orang-orang yang tidak setia (Mat 21:33-43). Mereka menyalahgunakan kepercayaan. Hati mereka jahat dan dipenuhi nafsu membinasakan sesama. Bapak-ibu (suami isteri) serta anak-anak mendapat kepercayaan dari Tuhan untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Sebagai anggota religius, diajak untuk setia memelihara komunitas religius atau biara agar semua memiliki kebahagiaan bersama.
  2. Yang kedua, adalah bahwa jika kita semua telah dengan setia membangun rumah tangga atau komunitas dan juga dengan setia menjaga dan merawat orang-orang yang dipercayaan kepada kita (yang diibaratkan dengan kebun anggur), maka kita telah berusaha bertanggung jawab dengan itu. Semua orang yang tinggal bersama kita, entah siapapun itu: suami, istri, anak-anak, teman sekomunitas biara, mereka adalah titipan Allah yang harus dijaga dengan baik dan secara bertanggung jawab. Sudahkah kita bertanggung jawab memelihara dan menjadi orang-orang yang hidup bersama kita?
  3. Sikap ketiga ialah tahu diri. Para penggarap dalam bacaan pertama dan kedua, telah menunjukkan pribadi sebagai orang yang tidak tahu diri. Kepada mereka sudah dipercayakan kebun anggur, tetapi akhirnya mereka ingin merampasnya dari Tuhan, dan mereka membuat para utusan Tuhan susah, menderita, dan bahkan anak pemilik kebun anggur juga ditangkap dan dibunuh. Ini tindakan keji dan sangat tidak baik. Kepada kita diajak untuk juga tahu diri. Berhadapan dengan titipan Tuhan (mereka yang hidup bersama kita), kita hanya bisa merawat, memelihara dan membuat dia atau mereka berkembang. Tetapi kita tidak dibenarkan memeras mereka, mengambil untung sebesar-besarnya dari mereka, melalui tindakan mencuri, korupsi, mengambil laba yang besar sekali, dan akhirnya membuat orang lain tercekik lehernya dan sulit membuat wajahnya tersenyum karena beratnya beban yang ditanggungnya.
Kita menyerahkan seluruh niat baik kita kepada Tuhan, sembari berharap agar Tuhanlah yang dapat menolong kita untuk hidup dengan layak, setia, bertanggung jawab dan tahu diri dalam berelasi dengan Tuhan setiap hari dalam hidup kita. Amin

Telukdalam, 05 Oktober 2014

Kotbah Minggu Biasa ke 28 - A

KESELAMATAN:
ANTARA TANGGAPAN DAN KEPANTASAN  MANUSIA

Bacaan 1, Yesaya 25,6-10a; Mazmur Tggp: 23; Bacaan 2: Filipi 4,12-14;19-20; Bacaan Injil: Matius, 22,1-14


INTRODUKSI
Saudara/i...,
Kegiatan menghadiri pesta nikah bukan hal baru dalam masyarakat kita. Kit akan merasa senang jika kita menerima undangan, baik lisan maupun secara tertulis. Kita akan merasa dihormati sekali, apalagi kalau ketika kita sampai di tempat pesta, orang yang mengundang itu datang dan mengajak kita untuk duduk dan mengikuti acara-acara selanjutnya.
Bahkan kita akan merasa bersalah apabila kita tidak bisa hadir dalam pesta nikahnya. Mungkin kita harus mencari banyak alasan untuk dikatakan kepada yang bersangkutan, ketika kita bertemu, sebelum pertanyaan ke luar dari mulutnya: “Mengapa kamu tidak dapat waktu pestaku?”

URAIAN KITAB SUCI
Saudara/i...,
Dalam Injil hari ini difirmankan, “Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya.” Ungkapan ini kiranya mengantar kita kepada pemahaman bahwa menghadiri “perjamuan nikah” bukan hanya sekadar hadir dalam resepsi duniawi, melainkan mengikuti upacara suci. Mengapa diistilahkan dengan upacara suci? Karena “perjamuan nikah” tidak hanya diartikan sebagai kesatuan keakraban antara pengantin pria dan wanita, melainkan suatu kesatuan keakraban antara Allah sendiri dan manusia ciptaan-Nya, antara Kristus dan Gereja-Nya. Kebenaran kebenaran keakraban antara dua orang, pria dan wanita, seperti yang banyak dikisahkan dalam Kitab Suci Kidung Agung, seperti kisah di mana kedua mempelai saling memuji keelokan masing-masing (Kid 1:9; 2:7), saling mengungkapkan rasa rindu (Kid 3:1-5; 5:2-8), dan saling mengungkapkan nikmatnya saat berduaan (Kid 7:6-8:4), mengungkapkan kedekatan antara Allah dan manusia. Allah mengungkapkan kerinduan-Nya kepada manusia, ingin berduaan dengan manusia, dan mengadakan perjamuan juga dengan manusia.

Saudara/i terkasih...,
Di dalam kidung-kidung itu, kasih antara kedua mempelai tampil sebagai tempat kehadiran yang ilahi. Kehadiran-Nya nyata dalam hal yang paling bisa dirasakan. Oleh karena itu, bagi orang Yahudi, ikut serta dalam perjamuan nikah berarti mendekatkan orang pada kemanusiaan dan keilahian sekaligus. Sebaliknya, penolakan terhadap undangan ikut serta dalam perjamuan nikah bukan hanya sekadar tidak ikut pesta duniawi, sebagaimana yang kita pahami dalam masyarakat.
Perumpamaan hari ini sungguh luar biasa. Sang Raja sungguh rendah hati dan sabar. Perjamuan nikah sudah siap. Akan tetapi, para undangan tidak mau datang. Mereka bukan hanya menolak undangan, melainkan membunuh pengantar undangan. Keadaan yang sungguh mengecewakan. Tampaknya justru inilah pesan pokok yang hendak ditunjukkan sang pewarta, yakni Allah yang kecewa, karena kasih-Nya bertepuk sebelah tangan, kasih-Nya tidak mendapatkan tanggapan dari manusia.
Sungguh luar biasa, sang raja tidak patah arang. Melalui para hambanya ia mengundang orang yang berada di persimpangan jalan. Akhirnya, pesta nikah itu dimeriahkan oleh kehadiran orang-orang yang berasal dari persimpangan jalan.
Sang Raja berpikir, bahwa harus ada orang-orang yang hadir, karena hidangan telah disiapkan dan nanti Tuhan akan menghapus setiap air mata dari wajah setiap orang. Tuhan Yahwe tidak ingin umat Israel menangis dan merasa ditinggalkan; namun Tuhan menghidangkan bagi mereka perjamuan. Inilah yang ditekankan pada bacaan pertama dari Nabi Yesaya. Hidangan ini tidak hanya ditujukan kepada mereka yang punya jabatan penting dalam masyarakat, melainkan juga kepada mereka yang berada di persimpangan jalan.
Persimpangan jalan ialah suatu tempat di mana orang berkumpul dengan aneka macam keperluan: istirahat, menunggu kesempatan kerja, menunggu mobil untuk ditumpangi, melewatkan waktu sambil bersantai-santai, berjualan, membeli, dan sebagainya. Orang-orang seperti itulah yang diundang datang ke perjamuan nikah. Tampak di sini bahwa sang raja ingin berbagi kegembiraan. Kegembiraan akan menjadi lengkap jika orang yang diundang ini datang dan ikut merasakan bersama kebahagiaan itu.

APLIKASI - PRAKTIS
Bagian akhir Injil hari ini agak mengejutkan. Mengapa? Karena setelah ruangan pesta penuh, dimeriahkan oleh orang-orang dari persimpangan jalan, tiba-tiba sang raja marah dan menegur orang yang datang tanpa mengenakan pakaian pesta.
Teguran sang raja kiranya bisa dijelaskan sebagai berikut: bahwa dalam cara pikir orang Semit (Yahudi – Timur Tengah), pakaian memberi bentuk kepada orang yang memakainya. Artinya, dengan pakaian yang dikenakan, ia dapat dikenali. Dengan berpakaian pesta, ia memang mau menghadiri pesta itu, dan bukan untuk rapat RT atau urusan lain. Oleh karena itu, dengan tidak mengenakan pakaian pesta, berarti ia tidak sungguh-sungguh ingin datang mengikuti pesta.

Saudara/i terkasih...,
Ada beberapa hal yang hendak disampaikan kepada kita pesan Sabda Tuhan hari Minggu Biasa ke 28 ini:
Pertama, Kerajaan Surga bukanlah tempat yang sudah jadi, seperti sebuah rumah yang siap untuk diberkati dan ditempati. Sebaliknya, Kerajaan Surga itu seperti bakal rumah yang siap untuk kita bangun. Bahan-bahan sudah ada, seperti kesempatan berbuat baik, rajin berdoa, melakukan sedekah, mengutamakan kejujuran, dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk tingkah laku inilah yang seharusnya kita bangun, karena hasilnya ialah Kerajaan Allah kita. Karena itu kita diajak untuk membangun nilai-nilai ini. Kita tidak hanya mendengar ajakan atau undangan, tetapi kita kita harus mengikuti dan menghadiri undangan itu dengan meninggalkan sikap santai kita di persimpangan jalan hidup kita, meninggalkan perasaan malas-malasan di rumah, dengan pergi ke perkumpulan doa atau ekaristi di Gereja, dll. Inilah wujud bahwa kita ingin ikut ke pesta perjamuan itu. Injil hari ini menunjukkan kepada kita tentang Allah yang kecewa, bertepuk sebelah tangan, kasih-Nya membentur dinding. Dia berusaha menyelamatkan, namun manusia menolaknya. Apakah kita juga akan menambah jumlah orang yang mengecewakan Allah?
Kedua, ialah ajakan untuk merindukan kebahagiakan kekal, dengan meningkatkan kepantasan hidup kita – pakaian pesta (hidup di surga bersama Allah Bapa, dan Putera dan Roh Kudus). Namun anehnya, justru kita sering menolak undangan Tuhan agar kita bisa menikmati kebahagiaan Surga itu. Bentuk-bentuk penolakan itu misalnya 1) tidak bertekun mengikuti Perayaan Ekaristi; 2) malas berdoa pribadi atau bersama secara rutin; 3) tidak tertarik masuk ke dalam kegiatan rohani / kategorial misalnya doa legio maria / OFS atau kegiatan gerejani lainya, tidak ingin hadir dalam pendalaman APP atau pendalaman Kitab Suci karena sibuk (tapi kalau diajak teman untuk memancing, pasti punya banyak waktu). Kita malah sibuk dengan urusan duniawi yang menurut kita lebih penting daripada urusan rohani yang menyelamatkan. Jadi kita diajak untuk memiliki kerinduan akan Kerajaan Allah itu melalui aktif menghadiri kegiatan-kegiatan rohani, karena dengan itu kita membangun Kerajaan Allah kita. Amin

Telukdalam, 12 Oktober 2014

RETREAT TAHUNAN KAPAUSIN KUSTODI GENERAL SIBOLGA 2023

  Para saudara dina dari Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga, pada tanggal 6 s/d 10 Noveember 2023, mengadakan retreat tahunan yang dilaksa...