Sabtu, 26 Juli 2014

Atasi Asam Urat dan Kolestrol dengan Daun Salam


ANDA bosan dengan obat-obat kimia buatan pabrik? Ingin beralih ke obat-obatan herbal? Sebenarnya bayak tanaman di sekitar kita yang bisa dijadikan sebagai obat-obatan. Diantaranya daun salam (Syzygium polyanthum) untuk pengobatan asam urat dan rematik ini.

Meskipun tumbuhan ini terkenal sebagai bumbu dapur, anda pun harus tahu manfaat lain dari tanaman ini yaitu mengatasi asam urat, stroke, kolesterol tinggi, melancarkan peredaran darah, radang lambung, diare, gatal-gatal, kencing manis, dan lain-lain. Kandungan kimia yang dikandung tumbuhan ini adalah minyak atsiri, tannin, dan flavonoida. Bagian pohon yang bisa dimanfaatkan sebagai obat adalah daun, kulit batang, akar, dan buah.

Untuk mengatasi asam urat yang tinggi, 10 lembar daun salam direbus dengan 700 cc air hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat. Mengatasi stroke, 10 lembar daun salam dan 50 gram jantung pisang dibuat masakan sesuai selera lalu dimakan. Bagi penderita kolesterol tinggi, 7 lembar daun salam dan 30 gram daun ceremai direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Kemudian arinya diminum secara teratur. Untuk melancarkan peredaran darah, 7 lembar daun salam dan 30 gram daun dewa segar direbus dengan 700 cc air hingga tersisa 350 cc. Lalu ramuan disaring dan diminum sebanyak dua kali sehari.

Mengatasi radang lambung, 30 gram daun salam, 30 gram sambiloto kering, dan gula batu secukupnya direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Kemudian airnya diminum untuk dua kali sehari. Lakukan secara teratur. Untuk obat diare, 7 lembar daun salam direbus dengan 200 cc air selama 15 menit, tambahkan garam secukupnya. Setelah dingin disaring lalu airnya diminum. Ramuan lainnya, 7 lembar daun salam, 10 lembar daun jambu biji, 10 gram jahe, dan 1 buah kulit delima putih, dicuci bersih lalu ditumbuk halus. Tambahkan 200 cc air matang, disaring, lalu diminum.

Mengatasi gatal-gatal, daun atau kulit batang atau akar dicuci bersih lalu digiling hingga halus. Tambahkan minyak kelapa secukupnya, kemudian balurkan pada bagian yang sakit. Sebagai obat kencing manis, 7 lembar daun salam dan 30 gram sambiloto direbus dengan 600 cc air sampai tersisa 200 cc. Setelah dingin disaring lalu diminum untuk dua kali sehari.

Dalam kumpulan artikel tentang obat tradisional, Obat alami dan Obat herbal disebutkan, pengobatan tradisional terbukti lebih berkhasiat dan juga aman untuk dikonsumsi, lantas tunggu apa lagi? segera obati penyakit anda dengan pengobatan tradisional ini. Obat kimia memang terkesan praktis bagi anda sehingga anda tak perlu repot menyiapkannya, tapi ingatkah anda bahayanya kesehatan anda dari efek obat ini. Oleh karena itu obat tradisional asam urat dan rematik layak untuk anda terapkan demi kesembuhan anda.
Sumber:http://www.riaupos.co/8168-berita-atasi-kolesterol-dan-asam-urat-dengan-daun-salam-.html#.U9N-Evl_vdk


Obat Tradisional Asam Urat dan Kolesterol

Penyakit asam urat dan juga kolesterol tidak selalu bisa diobati dengan menggunakan obat-obatan dari bahan kimia. Dengan menggunakan obat dari bahan alami dan juga tradisional juga bisa menyembuhkan penyakit asam urat dan juga kolesterol. 

Salah satunya adalah daun salam. Daun salam memang terkenal sebagai bumbu penyedap masakan. Namun siapa sangka jika daun salam ternyata juga bisa digunakan sebagai obat tradisional asam urat dan kolesterol.
Selain itu daun salam juga bisa untuk melancarkan peredaran darah, diare, radang lambung, gatal-gatal, dan masin banyak lagi lainnya. Tumbuhan ini mengandung minyak atsiri, flavonoida, dan tannin. Daun, akar, buah, dan kulit batangnya digunakan sebagai obat.
Ada beberapa obat tradisional asam urat dan kolesterol yang bisa digunakan. Seperti misalnya untuk kolesterol bisa menggunakan bahan alami seperti buah mengkudu, bawang putih, daun salam, bawang Bombay, kunyit, temulawak, jamur kuping hitam, dan masih banyak lagi lainnya.
Jika menggunakan temulawak, caranya adalah temu lawak sebanyak 30 gram yang sudah dikupas dan diiris tipis, direbus dengan air sebanyak 600 cc dan dicampur dengan daun dewa sebanyak 15 gram yang sudah dicuci bersih. Lalu rebus hingga tersisa 200 cc. Saring, dan minum airnya.
Resep obat tradisional asam urat dan kolesterol lainnya adalah siapkan 10 helai daun salam. Rebus dengan air sebanyak 700 cc hingga mendidih dan tersisia air 200 cc. Lalu minum airnya selagi hangat. Cara lainnya adalah dengan meminum cuka sari apel.
Kandungan yang terdapat di dalam cuka sari apel mampu menurunkan kadar asam urat. Namun pilih cuka sari apel yang mentah tanpa aditif. Selain itu juga banyak-banyak makan buah ceri, blueberry, dan juga strawberry.
Sedangkan untuk mengatasi kolesterol, caranya 7 lembar daun salam dan daun ceremai 300 gram direbus dengan air sebanyak 600 cc. Rebus sampai tersisi 300 cc. Lalu minum air rebusan tersebut secara teratur. Jika dikonsumsi secara teratur, maka khasiatnya bisa terasa.
Atau bisa juga dengan menambahkan buah mengkudu 2 buah yang sudah matang. Direbus dengan air sebanyak 600 cc dan tersisa sampai 200 cc. Lalu setelah itu disaring dan diminum airnya. Demikian obat tradisional asam urat dan kolesterol. Semoga bermanfaat.
Sumber: http://sehatcenter.com/obat-tradisional-asam-urat-dan-kolesterol-yang-aman/ 

Sabtu, 07 Juni 2014

Kamis Paskah Kenaikan - (A) 2014

Suatu ketika, seorang teman menceritakan pengalaman pribadinya sebagai berikut. "Pada waktu ayah mau meninggal, kami sebagai anak-anaknya dikumpulkan untuk diberi nasihat. Nasihat yang diberikan sama seperti yang selalu dipesankan bagi kami dalam setiap kesempatan. Sejak kecil, kami sekeluarga dididik untuk hidup rukun dan saling membantu. Melalui nasihat dan tindakan keras, ayah menghendaki agar anak-anaknya bisa hidup rukun dan saling membantu".


Sebelum naik ke surga, Yesus meninggalkan pesan kepada para murid untuk bersaksi; bersaksi tentang apa yang telah dikerjakan Allah dalam wafat dan kebangkitan-Nya. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:18). Pesan terakhir Yesus dipertegas dalam Injil yang kita dengarkan hari ini, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:19-20).

Dengan pesan-Nya ini, Yesus menghendaki bahwa apa yang dikerjakan Allah dalam wafat dan kebangkitan-Nya dialami oleh semua bangsa. Yesus menghendaki semua bangsa menjadi murid-Nya, dipersatukan dalam persekutuan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Menjadi murid-Nya berarti menghayati apa yang telah diajarkan-Nya. Para murid tidak perlu takut dan ragu karena Roh Kudus, kuasa Allah yang telah membangkitkan Yesus akan dicurahkan dan menyertai mereka sampai akhir zaman. Roh Kudus yang dijanjikan akan memberi keberanian dan kekuatan untuk bersaksi.

Kita sebagai murid-murid Yesus dipanggil untuk hidup sebagai Tubuh Mistik-Nya dan untuk bersaksi tentang wafat dan kebangkitan-Nya. Gereja dipanggil untuk melanjutkan apa yang telah dan terus Allah kerjakan dalam diri Yesus demi keselamatan segala bangsa. Kita tidak perlu takut karena Roh Kudus, kuasa Allah yang membangkitkan Yesus, akan terus menyertai sampai akhir zaman.

Kita bersaksi dengan menghayati apa yang telah diajarkan Yesus. Namun dalam hal ini dibutuhkan juga penyertaan Roh Kudus dalam tugas dan panggilan kita untuk bersaksi. Karena itu, kita selalu bertekun mohon Roh Kudus agar menyertai kita dalam bersaksi. Kita harus terus menerus berdoa seperti rasul Paulus berdoa dan “meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang” (Ef 1:17-21).

Akhirnya, hanya Roh Kudus yang memampukan kita untuk bersaksi. Roh Kudus, kuasa Allah, akan bekerja bagi kita semua yang percaya dan dipanggil untuk bersaksi. Berdoalah terus agar Roh Kudus selalu hadir, menyertai dan membimbing.

(sumber: http://renunganpagi.blogspot.com/search/label/Renungan%20Minggu%20dan%20Hari%20Raya#gsc.tab=0).

Telukdalam, 29 Mei 2014

psl

Minggu, 01 Juni 2014

Minggu Paska 6 (A) 2014


Kalau kita ingin meringkaskan bacaan Injil untuk Minggu Paskah yang ke 6 ini, saya rasa kita bisa memakai peribahasa Indonesia untuk meringkaskannya, yakni: “Walaupun jauh di mata, namun dekat di hati". Bacaan Injil itu sebenarnya adalah sebagian dari khotbah perpisahan yang diucapkan Yesus pada perjamuan malam terakhir, sehari sebelum Yesus wafat di kayu salib. Pada malam itu Yesus menerangkan bahwa Dia melalui sengsara dan kebangkitanNya akan menanggalkan hidup-Nya sebagai manusia, dan mulai suatu hidup yang baru yang penuh kemuliaan.


Murid-murid-Nya terkejut mendengar bahwa Ia akan pergi. Mereka sadar bahwa tanpa Yesus mereka tidak akan berdaya apa-apa. Mereka merasa bagaikan anak yatim piatu, seandainya Yesus tidak bersama mereka lagi. Karena itulah Yesus menghibur mereka: "Jangan kamu takut ataupun cemas. Memang saya pergi dari dunia ini, namun Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai anak yatim piatu. Aku akan kembali kepadamu. Dan selama Aku tidak berada di dunia ini, Aku akan memberi padamu Penolong yang lain. Aku akan memberi kepadamu Roh-Ku sendiri, semangat-Ku sendiri. Roh itu akan selalu mendampingi kamu. Roh itu akan tinggal bersama kamu dan hidup dalam dirimu. Aku akan tetap bersatu dengan kamu, dan kamu bersatu dengan Aku. Walaupun jauh di mata, namun tetap dekat di hati".

Jadi Yesus menyatakan bahwa Roh Kudus-Nya akan bertugas sebagai Penolong kita, yang menyertai kita dalam meneruskan karya Yesus di dunia ini. Yesus sadar, bahwa Roh Kudus itu sangat kita butuhkan, sehingga tanpa Roh Kudus itu kita memang tidak akan sanggup berbuat apa-apa sebagai pengikutNya.

Kitab Injil penuh dengan bukti-bukti yang menunjukkan betapa Roh Kudus itu sangat besar peranan-Nya. Yesus sendiri ternyata tak pernah lepas dari Roh Kudus, dan kita tak bisa membayangkan Kristus lepas dari Roh Kudus. Dalam Perjanjian Lama, Roh Kuduslah yang mempersiapkan kedatangan Yesus ke dunia, yakni melalui para Nabi. Roh Kudus-lah yang menaungi Maria, sehingga ia melahirkan Yesus. Roh Kudus itu juga yang turun ke atas Yesus, waktu Ia dipermandikan di sungai Yordan. Kemudian Roh Kudus itu juga yang mendorong Yesus untuk mempersiapkan tugas-Nya dengan puasa dan doa di padang gurun. Dan semua kuasa yang mendorong Yesus untuk menyembuhkan orang-orang sakit, berasal dari Roh-Nya ini. Dan Yesus baru mengakhiri hidupNya di salib setelah Ia menyerahkan Roh-Nya, sambil berkata: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku".

Bukan hanya dalam hidup Yesus, Roh Kudus itu memegang peranan penting. Juga dalam hidup Gereja Awal, nampaklah betapa para Rasul dan orang-orang Kristen pertama tidak dapat berbuat apa-apa lepas dari pengaruh Roh Kudus ini. Kalau kita membaca Kisah Para Rasul maka akan kita lihat di sana begitu banyak bukti-bukti mengenai kegiatan Roh Kudus yang rnemimpin Gereja secara ajaib. Lihatlah peristiwa pada hari Pentakosta, sewaktu Roh Kudus turun atas para rasul. Para Rasul yang semula begitu penakut, sekarang berobah menjadi berani dan aktip karena pengaruh Roh Kudus. Dalam Kisah Para Rasul itu juga nampak bahwa tak ada doa atau khotbah tanpa menyebutkan nama Roh Kudus. Kalau ada seorang diakon akan dipilih, maka yang menjadi syarat untuk itu ialah: orang yang penuh Roh Kudus dan kebijaksanaan. Kalau suatu perjalanan keliling mau dilaksanakan, maka itu hanya akan dilaksanakan kalau Roh Kudus menghendakinya. Dan dalam Konsili Pertama di Yerusalem, para Rasul hanya mau mengambil suatu keputusan bila hal itu terlebih dahulu disesuaikan dan dibicarakan dengan Roh Kudus melalui doa dan meditasi. Cukup terang kiranya, betapa besar pengaruh dan peranan Roh Kudus dalam Gereja. 

Itu bukan hanya terjadi dulu, tapi terus berlangsung sampai sekarang ini. Tanpa Roh Kudus, Gereja kita tidak akan mengalami perkembangan besar seperti sekarang ini di seluruh dunia. Di mana-mana memang ada kesulitan, ada kesusahan dan ada hambatan yang melawan Gereja kita. Tapi berkat pertolongan Roh Kudus, kemajuan Gereja terus saja berlangsung sampai hari ini.

Roh Kudus itu bukan hanya Penolong dan Pembimbing bagi Gereja keseluruhan. Roh Kudus itu juga menjadi Penolong dan Pembimbing kita masing-masing. Hakekat hidup seorang Kristen tak bisa dipisahkan dari Roh itu. Tanpa Roh Kudus, iman kita tak mungkin hidup. Kita harus selalu membuka hati, agar Roh Tuhan memimpin dan mengarahkan kits pada jalan yang benar. Bagaimanapun juga kita membutuhkan pertolongan-Nya.

Memang, manusia modern sekarang ini semakin lama semakin sedikit membutuhkan pertolongan. Manusia semakin tidak takut lagi akan kekuatan alam, sebab sudah bisa dikuasainya. Manusia makin berhasil menundukkan bumi, air, tenaga atom dan ruang angkasa dengan kemampuannya sendiri. Tanpa bantuan Tuhan manusia sudah bisa mengatur produksi, mengatur peredaran uang, mengatur perdagangan dunia, bahkan sampai bisa mengatur kelahiran manusia baru. Yah, di mana lagi manusia membutuhkan pertolongan Tuhan ? Memang, nampaknya manusia sudah mampu mengusai segala-galanya tanpa bantuan Tuhan. Tapi walaupun demikian, sampai sekarang manusia belum sanggup memecahkan problem jiwanya sendiri. Justru mengenai dirinya sendiri, kita manusia ini tidak berdaya. Semua bisa diselamatkan manusia, tapi tak kuasa menyelamatkan jiwanya sendiri. Dalam hal inilah kita harus menyerahkan diri ke tangan Tuhan. Kita butuhkan pertolongan dan bimbingan-Nya. Kita butuhkan RohNya. Sebab hanya Roh Tuhan inilah yang sanggup membawa kita kepada kebenaran, yang mengantar kita pada dunia bahagia yang sebenarnya.

Hari Kamis yang akan datang kita akan memperingati dan merayakan bahwa Yesus naik ke surga. Ia pulang kepada BapaNya, tetapi Ia akan memberi kepada kita Penolong yang lain, yang tetap mendampingi kita. Itulah Roh-Nya sendiri, Roh Kudus. Maka dalam Perayaan Ekaristi marilah kita menyadari kembali bahwa Yesus selalu ada bersama kita melalui Roh-Nya. Dalam Perayaan Ekaristi kita dapat mengalami dan menghayati bahwa walaupun Yesus jauh di mata, namun la tetap dekat di hati kita melalui Roh-Nya. (P. Leo Sipahutar OFMCap - Facebook)

Telukdalam, 1 Juni 2014

PSL

Minggu Paskah 7 (A) 2014 - Komunikasi Sedunia


Pada hari Raya Kenaikan Tuhan ini dibacakan Mat 28:16-20. Waktu itu para murid sudah tiba di Galilea mengikuti petunjuk Yesus lewat Maria Magdalena dan Maria yang lain bahwa di sanalah murid-murid akan melihat Dia (28:10). Di sana juga ia menyampaikan dua hal kepada mereka.

1.         Bahwa kepada-Nya telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi,
2.         Ia memberi pengutusan baru kepada para murid.

BERKUASA DI SURGA DAN DI BUMI
Ketika melihat Yesus di bukit di Galilea tadi, ada di antara para murid yang segera mengenali-Nya, tapi ada pula yang ragu-ragu apakah Dia itu sama dengan Dia yang mereka kenal sejak lama. Yesus kemudian berkata bahwa kepada-Nya telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi (Mat 28:18). Artinya, kini murid-murid mengalami kenyataan dan mengerti bahwa mereka dapat ikut hidup dalam dua kawasan. Mereka tetap berada di muka bumi, walaupun mereka juga murid dari Dia yang kini telah memasuki keabadian dan tetap berhubungan dengan Dia. Kenyataan ini akan terus berlangsung bila mereka mau berbagi keberuntungan tadi dengan banyak orang lain yang belum sempat menjadi murid Yesus semasa hidupnya. Di situlah letak penugasan yang diberikan Yesus ketika mengutus murid-muridnya kepada siapa saja.
Dengan merayakan Kenaikan Tuhan, kaum beriman ikut "menyembah" Yesus bersama para murid yang ada di bukit di Galilea itu (Mat 28:17) dan bersama para perempuan yang sudah mendapati Dia yang telah bangkit (Mat 28:9). Yang dimaksud Matius dengan "menyembah" ialah mengakui kebesaran-Nya yang sungguh meski tidak langsung tampak. Kebesaran ini bisa dialami dan diselami. Kemampuan manusia menyadari kehadiran yang sakral, yang keramat, yang bukan hanya dari dunia ini menjadi jalan mengenali Dia yang sudah bangkit dan kini akan sepenuhnya memasuki kebesaran-Nya. Bagi Matius, kemampuan serta kepekaan "menyembah" ini membawakan hidup baru dalam diri para murid.
Kristus yang telah bangkit itu akan naik ke surga dan memasuki kemuliaan-Nya. Berarti jugaIa akan kurang tampak di bumi. Tetapi mereka yang bisa "menyembah"-Nya akan tetap dapat melihatnya. Mereka bahkan akan membuatnya kelihatan bagi orang lain. Bagi mereka, kata-kata bahwa Ia mendapat kuasa di surga dan di bumi makin nyata. Murid-murid, siapa saja, diperbolehkan menjadi tempat Dia yang bangkit itu bisa menampakkan kuasa-Nya di bumi - dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya.

PENGUTUSAN: MENGAJAR DAN MEMBAPTIS
Pada Mat 10:5-6 menuliskan kata-kata Yesus ketika menugasi murid-muridnya "Jangan engkau menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah ke domba-domba yang hilang dari umat Israel." Jadi para murid diutus hanya kepada orang Yahudi saja. Dan sekarang pada bagian akhir Mateus menceritakan bahwa Yesus mengutus murid-murid-Nya yang sebelas itu, "...jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka!" (Mat 28:19). Mana yang benar? Jangan dicampur aduk. Dalam Mat 10:5-6 itu murid-murid ditugasi sang guru yang waktu itu berjalan dari kota ke kota. Tapi pada akhir Injil para murid berada bersama dengan Yesus yang telah bangkit. Ia sudah masuk dalam kawasan yang lebih luas, bahkan melingkupi surga juga. Sebelum menugasi murid-murid pergi ke semua bangsa, ia sendiri mengatakan, "Kepadaku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi." (Mat 28:18). Keberadaannya kini mengatasi ruang dan waktu. Murid-murid diminta agar membuat kebangkitan dimengerti kepada siapa saja. Diterima atau tidak soal lain. Mereka kini diutus untuk berbagi kekuasaan tadi dengan siapa saja. Bukan hanya dengan yang dulu jadi umat terpilih tapi kemudian malah menolak. Kini semua "bangsa" - maksudnya mereka yang tak masuk hitungan tadi kini diajak ikut serta.

SUMBER PEWARTAAN: YESUS KRISTUS
Perintah untuk memperlakukan siapa saja sebagai sesama murid. Para murid sudah lama membaptis orang. Tapi kini mereka membaptis untuk membuat orang makin dapat berbagi kehidupan dengan Dia yang sudah bangkit itu. Dalam bacaan pertama, bahwa para murid akan jadi saksi-saksi Yesus di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). Bisa digarisbawahi gagasan "jadi saksi". Ini sama dengan yang kumaksud dengan "Perlakukan semua bangsa sebagai murid" (Mat 28:19).

BERSAKSI
Dalam bacaan pertama (Kis 1:1-11) dikisahkan peristiwa kenaikan Yesus ke surga. Di situ disebutkan dua orang yang berpakaian putih berkata kepada murid-murid bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara seperti yang mereka lihat ketika ia naik ke surga. Maksudnya, Dia yang kini telah memasuki dunia ilahi itu satu ketika nanti akan datang kembali dengan cara yang sama. Dengan demikian semakin banyak orang mengerti apa itu dan bagaimana keilahian bisa menyertai manusia di dunia. Upaya ini dapat akan lambat laun menjadi kenyataan apa itu "ia datang kembali". Bisa dikatakan bahwa kedatangan-Nya kembali itu sejalan dengan pengertian manusia akan kehadirannya. Tugas para murid ialah mewartakan kehadiran ini dan membuat banyak orang memahami serta menghormati kehadiran ini. Dalam banyak hal boleh dikatakan bahwa kita yang percaya akan Dia ikut membuatnya datang kembali dengan cara sama seperti para murid dulu melihat Ia terangkat ke surga dan menerima pengutusan dari-Nya. (P. Dominikus Sibagariang, OFMCap).

Telukdalam, 1 Juni 2014

PSL

Minggu, 18 Mei 2014

Minggu Paskah 5 - A (2014)


AKULAH JALAN, KEBENARAN DAN KEHIDUPAN


Dalam Injil hari ini, kita diajak oleh Gereja kudus bersama dengan penulis Injil untuk percaya bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran dan kehidupan. Entah dalam situasi apapun itu, tetapi kita tetap diajak untuk percaya bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran dan kehidupan.

Tuhan Yesus menyediakan tempat bagi kita
Kita akan lebih memahami perikop ini jika kita melihat kaitannya dengan perikop sebelumnya. Di sana dikatakan bahwa Yesus sudah tahu bahwa Rasul Petrus akan menyangkal-Nya sebanyak tiga kali, dan ketika Ia mengatakan hal itu di hadapan para rasul lainnya, mereka menjadi sedih karenanya. Namun kemudian Yesus menghibur mereka, sebab sebagai Allah, Ia- pun sudah mengetahui bahwa para rasul itu, walaupun jatuh bangun dalam hal iman, akan akhirnya sampai juga ke surga.

“Aku akan datang kembali” (ayat 3) mengacu kepada kedatangan-Nya yang kedua (lih. 1 Kor 4:5; 11:26; 1Tes 4:16-17; 1Yoh 2:28), maupun juga pertemuan-Nya dengan setiap jiwa manusia setelah orang itu wafat. Maka janji Tuhan Yesus untuk menyediakan tempat di surga, bukan saja ditujukan kepada para rasul, tetapi juga kepada kita yang percaya kepada-Nya dan yang setia kepada-Nya sampai akhir.
  
Janji Tuhan Yesus ini selayaknya menghibur kita; namun juga mengingatkan agar kita selalu percaya dan setia kepada-Nya. Oleh rahmat Baptisan kita semua ini menjadi milik Allah, anak- anak angkat Allah di dalam Kristus (lih. Gal 3:26). Sudahkah kita hidup sebagai anak- anak Allah? Sebab jika kita terus berjuang untuk hidup sesuai dengan panggilan kita ini, maka janji Tuhan ini akan digenapi di dalam kita. Mari kita memeriksa batin kita, agar Tuhan menunjukkan pada kita, dalam hal- hal apa saja, sikap kita masih belum sesuai sebagai sikap anak- anak Allah. Dan marilah kita mohon rahmat Tuhan, agar kita dimampukan untuk memperbaikinya.
   
Kristus adalah Jalan menuju Allah Bapa
Sebenarnya, jika kita membayangkan bahwa kita hadir di tengah para rasul 2000 tahun yang lalu, saat Yesus mengucapkan perkataan-Nya ini, kemungkinan kitapun dapat memahami kegundahan hati Rasul Tomas, “Ke manakah Engkau akan pergi, Tuhan? Aku tidak tahu, bagaimana mungkin aku tahu jalan ke sana?” Namun sekarang kita perlu berterima kasih kepada Rasul Tomas, yang menyuarakan kegundahan hatinya, sebab oleh karena itu, Yesus menjawabnya dengan Sabda-Nya yang meneguhkan, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6).

St. Agustinus mengatakan, “Adalah penting bahwa Tuhan Yesus mengatakan, ‘Akulah jalan’ untuk menunjukkan kepada para rasul bahwa mereka sesungguhnya telah mengetahui/ mengenal apa yang mereka pikir tidak mereka kenal, sebab mereka sudah mengenal Dia.” Nah, pertanyaannya sekarang: apakah kita sudah mengenal Tuhan Yesus? Hidup kita di dunia ini memang merupakan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus, supaya kita dapat bertumbuh pula dalam kasih kepada-Nya dan kepada sesama demi kasih kita kepada Kristus. Sebab pada akhirnya, kasih inilah yang kita persembahkan kembali ke hadirat Tuhan di surga.

Dalam penjelasan The Navarre Bible, dikatakan bahwa Yesus menjadi ‘jalan’ kepada Bapa melalui 5 cara. Pertama melalui ajaran-Nya; sebab dengan berpegang pada ajaran-Nya kita akan sampai ke surga; kedua, melalui iman yang diinspirasikan-Nya, sebab Ia datang ke dunia sehingga “barang siapa yang percaya kepada-Nya dapat beroleh hidup yang kekal”(Yoh 3:16); ketiga, melalui teladan-Nya, sebab tak ada yang dapat sampai kepada Allah Bapa tanpa meneladani Kristus; keempat, melalui jasa-Nya, yang memampukan kita untuk masuk ke tempat kediaman abadi, dan terakhir, Kristus adalah jalan, karena Ia menyatakan Allah Bapa, yang dengan-Nya Ia adalah Satu, karena ke-Allahan-Nya.
  
Maka agar kita semakin menghayati bahwa Kristus adalah jalan kepada Allah Bapa, kita perlu merenungkan ajaran Kristus dan kehidupanNya, dari lahir-Nya sampai pada wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga. Hal ini diajarkan oleh St. Fransiskus dari Sales yang mengatakan, “Seperti halnya anak- anak yang mendengarkan ibunya…., belajar untuk bicara sesuai dengan bahasa ibunya, demikian pula kita, dengan membawaNya dekat dengan kita melalui meditasi, permenungan akan perkataan-Nya, perbuatan-Nya, dan kasih-Nya, kita belajar, dengan bantuan rahmat Tuhan, untuk berbicara, bertindak dan berkehendak seperti Dia…. Kita tidak dapat mencapai Allah Bapa dengan melalui jalan lain….; Ke-Allahan tidak dapat kita lihat dengan baik di dunia ini jika tidak di dalam kesatuan dengan kemanusiaan Penyelamat kita yang kudus, yang hidup dan kematian-Nya…. merupakan topik yang paling layak untuk direnungkan bagi meditasi kita sehari- hari."

Dengan merenungkan kehidupan Yesus, maka kita akan dapat mengarahkan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. Itulah sebabnya banyak orang dapat bertumbuh secara rohani dengan berdoa rosario, karena doa rosario pada dasarnya adalah doa permenungan peristiwa- peristiwa hidup Yesus. Dengan permenungan tersebut, umat beriman dibawa untuk lebih menghayati rencana keselamatan Allah yang dinyatakan di dalam Kristus. Maka ajakan untuk merenungkan kehidupan Yesus ini adalah ajakan bagi anda dan saya. Jose Maria Escriva mengatakan, “Ia [Kristus] berbicara kepada semua manusia, tetapi dengan cara yang istimewa Ia memikirkan orang- orang yang, seperti anda dan saya, yang berkehendak kuat untuk menganggap panggilan hidup Kristiani sebagai sesuatu yang serius; Ia ingin agar Tuhan selalu ada di dalam pikiran- pikiran kita, di mulut kita, dan di setiap perbuatan kita, termasuk dalam kegiatan- kegiatan yang paling biasa dan rutin.” Mari kita memeriksa batin kita dengan jujur, sejauh mana Kristus sudah menjadi pusat dalam pikiran kita, perkataan kita, kehendak maupun perbuatan kita? Jika Kristus belum menjadi motivasi yang utama bagi kita tiap- tiap hari, kita perlu memohon kepada Tuhan untuk membantu kita mengarahkan pikiran dan hati kita kepada-Nya, supaya hidup kita dapat dipimpin oleh-Nya.
  
Maka, perkataan Yesus, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup,” tidak saja hanya ditujukan untuk menjawab Rasul Tomas… Menjadi Kebenaran dan Hidup adalah sesuatu yang layak bagi Tuhan yang menjelma menjadi manusia, seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes dalam permulaan Injilnya, “Firman itu telah menjelma menjadi manusia … penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14). Kristus adalah kebenaran, sebab dengan kedatangan-Nya ke dunia Ia menunjukkan bahwa Tuhan setia kepada janji- janji-Nya; dan karena Ia mengajarkan kebenaran tentang siapakah Tuhan itu. Selanjutnya, Kristus mengajarkan kepada kita bahwa penyembahan yang sejati adalah yang dilakukan “di dalam Roh dan kebenaran” (Yoh 4:23), yang artinya, penyembahan sejati kepada Allah Bapa adalah yang dilakukan di dalam Diri-Nya, yang adalah Sang Kebenaran itu. Kristus adalah Hidup, sebab dari kekekalan Ia mempunyai hidup ilahi dengan Allah Bapa (lih. Yoh 1:4) dan karena Ia menjadikan kita pengambil bagian dalam kehidupan ilahi, melalui rahmat Baptisan. Inilah sebabnya mengapa Injil mengatakan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3)

Tentang hal ini St. Agustinus mengajarkan, “….sepertinya, Yesus berkata, Lewat jalan mana kamu akan pergi? Akulah Jalan. Kemanakah kamu akan pergi? Akulah kebenaran. Di manakah kamu akan tinggal? Akulah Hidup. Setiap orang dapat mencapai pengertian akan Kebenaran dan Hidup, tetapi tidak semua menemukan Jalannya. Para orang bijak di dunia menyadari bahwa Tuhan adalah kehidupan kekal dan kebenaran yang dapat diketahui; namun Sang Sabda Allah yang adalah Kebenaran dan Hidup yang bersatu dengan Allah Bapa, telah menjadi Jalan, dengan menjelma menjadi manusia. Renungkanlah kerendahan hati-Nya [Kristus] dan kamu akan mencapai Allah. O, betapa dalamnya makna kasih Allah yang ditunjukkan-Nya melalui Kristus! 
  
Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa  
Banyak orang mempertanyakan ke-Allahan Yesus, sebab mereka tidak memahami bahwa Allah Bapa dan Putera [Kristus] adalah Satu. Hal inilah yang kemungkinan juga menjadi pertanyaan Rasul Filipus, “…tunjukkanlah Bapa itu kepada kami” (ayat 8). Namun Yesus “menegur para rasul karena [mereka]tidak mengenali Dia, meskipun perbuatan- perbuatan-Nya adalah perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan — berjalan di atas air, mengendalikan angin badai, mengampuni dosa, membangkitkan orang mati. Karena inilah mengapa Ia [Kristus] menegur Filipus: karena ia tidak mengenali kodrat ke-Allahan-Nya melalui kemanusiaan-Nya.”
  
Sungguh, kita perlu memohon kepada Tuhan agar semakin dapat menghayati misteri kasih Allah ini, yang begitu tak terbatas dan melampaui batas pikiran manusia. Sebab hanya kasih Allah yang begitu besarlah yang membuat-Nya mau mengutus Sang Sabda, yaitu Putera-Nya sendiri untuk menjadi manusia dan menyelamatkan manusia. “Maka Yesus Kristus, Sabda yang menjadi daging, diutus sebagai “manusia kepada manusia” ((Surat kepada Diognetus,7,4: Funk, Apostolic Fathers, I, 403)), “menyampaikan sabda Allah”(Yoh3:34), dan menyelesaikan karya penyelamatan, yang diserahkan oleh Bapa kepada-Nya (lih. Yoh 5:36 ; Yoh17:4). Barang siapa melihat Dia, melihat Bapa juga (lih. Yoh 14:9). Untuk alasan ini Yesus menyempurnakan wahyu dengan menggenapinya melalui keseluruhan karya-Nya untuk menghadirkan Diri-Nya dan menyatakan Diri-Nya – melalui Sabda perkataan-Nya maupun perbuatan-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizat-mukjizatnya, namun terutama dengan wafat dan kebangkitan-Nya penuh kemuliaan dari maut, akhirnya dengan mengutus Roh Kebenaran, menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, dan meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan dosa serta maut, dan untuk membangkitkan kita bagi hidup kekal.”
    
Orang yang percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Kulaku kan, bahkan yang lebih besar
“Sebelum meninggalkan dunia ini, Tuhan Yesus berjanji kepada para rasul untuk memberikan kepada mereka kuasa sehingga keselamatan Tuhan dapat dinyatakan melalui mereka. Segala pekerjaan dan mujizat ini diwartakan di dalam nama Yesus Kristus (lih. Kis 3:1-10; 5:15-16; dst) dan secara khusus pertobatan bangsa- bangsa kepada iman Kristiani dan pengudusan mereka diperoleh melalui khotbah pengajaran dan pelayanan sakramen- sakramen. Hal- hal itu dapat dianggap sebagai pekerjaan- pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan-Nya jika kita melihat bahwa melalui pelayanan para rasul, Injil tidak hanya diwartakan di Palestina tetapi disebarkan sampai ke seluruh dunia. Namun demikian kuasa yang luar biasa dalam karya apostolik dan pengajaran bersumber dari Kristus, yang telah naik ke Surga kepada Allah Bapa: setelah melewati penghinaan di kayu salib, Yesus telah dimuliakan dan dari surga Ia menyatakan kuasa-Nya dengan bertindak melalui para rasul-Nya.”
   
Kuasa para rasul diperoleh dari Kristus yang dimuliakan. Jangan lupa bahwa Kristus pernah bersabda, “Apapun yang kauminta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (lih. Yoh 14:13). Maka jika para rasul dapat melakukan perkara- perkara besar, semua itu hanya terjadi karena Kristus yang memampukan mereka. Demikian pula seharusnya, jika Tuhan mengijinkan kita turut mengambil bagian dalam karya kerasulan-Nya, untuk memberitakan kasih Allah dan membawa sesama kita kepada Tuhan, kita harus melihatnya sebagai karya Kristus, dan bukan semata karena kemampuan kita.
   
St. Agustinus menjelaskannya, seolah demikianlah yang dikatakan Tuhan Yesus,“Bukannya bahwa ia yang percaya kepada-Ku akan menjadi lebih besar daripadaku, tetapi hanya bahwa Aku akan melakukan perbuatan- perbuatan yang lebih besar daripada sekarang; lebih besar, oleh dia yang percaya kepada-Ku, daripada yang Kulakukan sendiri sekarang tanpa dia.”[10]. O, betapa besar rencana Allah dan penyelenggaraan-Nya yang dinyatakan di dalam Gereja-Nya yang kudus, di mana kita dapat terus menerima rahmat-Nya dan menimba kekuatan dari Sang Hidup ilahi, melalui pengajaran Firman Tuhan dan sakramen- sakramen yang disampaikannya.
    
Pesan yang layak diingat: Jangan takut
Santo Yohanes Paulus II adalah Paus yang paling sering menyuarakan tema ini dalam khotbah- khotbahnya: Jangan takut! Menurut Uskup Agung Fulton Sheen yang pernah menghitung kata “Jangan takut” di Kitab Suci, konon jumlahnya adalah 365 kali. Tentu ini bukan kebetulan, dan bahwa Tuhan mengingatkan kita setiap hari dalam setahun agar kita jangan takut, jangan lekas gelisah dan khawatir. Ini adalah pesan yang selalu relevan dan pas dengan keadaan kita saat ini. Sebab apapun yang sedang kita hadapi, baik tantangan, kesulitan, atau pun bencana, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (lih. Rom 8:38-39). Asalkan kita berpegang kepada Kristus dan mengandalkan Dia, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup, kita akan memperoleh jalan keluar. Jika janji Tuhan ini digenapi dalam hidup banyak orang percaya, kita harus yakin hal itu juga terjadi dalam hidup kita.

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku…. Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:33)

Minggu Paskah 4 - A (2014)


DOMBA, GEMBALA DAN PINTU


Judul hari ini adalah “Gembala dan Pintu?” Mengapa ada tanda anya? Karena pada zaman sekarang kedua hal ini tidak lagi mudah dipahami. Dunia penggembalaan sudah jauh berbeda pemahamannya dengan dahulu. Demikian juga halnya pemahaman akan makna pintu. Bagaimana perumpamaan Yesus hari ini dapat kita pahami?

Pertama, tentang gembala domba. Di Palestina gembala memiliki keunikan sendiri. Mereka biasanya berpenampilan sederhana, dengan peralatan sederhana, serta membawa bekal dalam kantong kulit. Hubungan antara domba dan gembala sangat uni. Di Palestina domba tidak untuk disembelih, melainkan untuk diambil bulu wolnya. Rentang waktu penggembalaan sampai bertahun-tahun, dan seringkali domba mempunyai nama sapaan masing-masing yang menerangkan keunikannya. 

Jika domba hendak memasuki kandang pada akhir hari, gembala dengan cepat memeriksa apakah domba mendapatkan luka selama hari itu. Sehingga, ia mengenal betul dombanya. Sebaliknya, dombanya mengenal suara gembala. Gembala tahu benar menuntun domba ke padang rumput dan ia akan melindungi domba dari serangan binatang buas dan para penyamun. Sebagaimana gembala, demikian Yesus mengenal umat-Nya, menuntunnya ke padang rumput yang hijau, dan menjaganya dari serangan binatang buas dan para penyamun. 

Kedua, tentang pintu. Berhubungan dengan dunia penggembalaan sering kita menggembalakan domba, gembala tidak membawa pulang dombanya ke kandang utama, melainkan mendirikan semacam kandang sementara yang hanya memiliki satu pintu masuk kecil. (Katekismus Gereja Katolik, No. 754 menjelaskan: “Gereja adalah kandang domba, dan satu-satunya pintu yang harus dilalui ialah Kristus Bdk. Yoh 10:1-10. Gereja juga kawanan, yang seperti dulu telah difirmankan Bdk. Yes 40:11, Yeh 34:11-31., akan digembalakan oleh Allah sendiri. Domba-dombanya, meskipun dipimpin oleh gembala-gembala manusiawi, namun tiada hentinya dibimbing dan dipelihara oleh Kristus sendiri, Sang Gembala Baik dan Pemimpin para gembala Bdk. Yoh 10:11; 1 Ptr 5:4., yang telah merelakan hidup-Nya demi domba-domba" (LG 62) Bdk. Yoh 10:11-15.”) Pada malam hari gembala akan tidur di pintu masuk tersebut, sehingga tidak ada satu pun domba pun yang dapat keluar atau masuk, jika tidak melalui pintu itu. 

Pintu itulah Yesus. Hanya melalui Dia, manusia masuk ke kedamaian kawanan dan keluar ke kebahagiaan padang rumput yang hijau. Bagi kita orang Katolik, pemahaman Yesus sebagai Gembala sejati, yang menuntun kita ke padang rumput yang hijau dan menjaga kita dari segala marabahaya, serta sebagai Pintu, yang menjadi jalan satu-satunya menuju Kerajaan Allah, harus berurat-berakar kuat di dalam iman kita. Hanya dengan mengimani Yesus seperti itulah, kita akan bertahan dari segala godaan pencuri dan penyamun.

Sumber: Cafe Rohani

Telukdalam, 11 Mei 2014
psl

Selasa, 06 Mei 2014

Perpisahan dengan Ibu Tiarni Duha (Guru Geografi)

Pada pertengahan bulan April lalu, SMAS Katolik Bintang Laut telah mengadakan perpisahan dengan salah satu guru terbaiknya yaitu Ibu Tiarni Duha S.Pd. Setengah mengabdikan diri beberapa tahun di SMAS Katolik Bintang Laut Telukdalam, akhirnya beliau memohon kepada Pengurus Yayasan Santo Fidelis untuk tidak lagi melayani orang-orang muda melalui kegiatan mengajar di kelas.

Kepala Sekolah, Bruder Yeremias Hulu OFMCap, mengatakan bahwa "semoga setelah tidak lagi mengajar, Ibu Tiarni Duha akan memiliki banyak waktu untuk keluarga dan mendukung suami dalam menjalankan pekerjaan sebagai seorang CPNS yang baru.

Acara Temu Pisah itu sendiri diadakan di Aula Paroki Hati Kudus Yesus Telukdalam, yang dihadiri oleh siswa-siswi dan juga para guru serta pegawai tata usaha SMAS Katolik Bintang Laut Telukdalam. Kepada Ibu Tiarni, "kami mengucapkan selamat jalan, dan terima kasih untuk pengabdiannya kepada kami selama ini", sapa seorang siswa kelas XII yang juga menjadi murid di mana ibu Tiarni menjadi Wali Kelasnya (psl).

RETREAT TAHUNAN KAPAUSIN KUSTODI GENERAL SIBOLGA 2023

  Para saudara dina dari Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga, pada tanggal 6 s/d 10 Noveember 2023, mengadakan retreat tahunan yang dilaksa...