Selasa, 06 Mei 2014

Sosialisasi POLRES Nias Selatan tentang AKPOL

Dalam Bulan Awal April yang lalu, SMAS Katolik Bintang Laut Telukdalam, kedatangan Petugas Kepolisian dari Kabupaten Nias Selatan untuk mengadakan sosialisasi kepada siswa-siswi kelas XII (yang hendak tamat) untuk mendaftar ke Akademi Kepolisian Republik Indonesia, secara khusus kepada para siswi.

Yang hadir dari POLRES Nias Selatan, Bapak I. Harefa bersama dengan stafnya. Petugas Polres Nias Selatan juga memperkenalkan seorang polisi wanita yang masih muda, Ibu Simanjuntak, yang baru saja selesai mengikuti pendidikan di Akpolwan di Jakarta.

Bapak Harefa mengajak siswa-siswi kelas XII yang wanita, agar jika terdapat yang berminat, silahkan mendaftarkan diri sekarang juga atau beberapa hari kedepan sebelum pendaftaran ditutup (psl).

Jumat, 02 Mei 2014

Minggu Palma (A-2014) - Mengenangkan Sengsara Tuhan


Setiap orang mempunyai masalah yang mengakibatkan penderitaan. Setiap keluarga mempunyai masalah. Bahkan, kita semua tahu Yesus juga mempunyai masalah dan penderitaan. Tetapi Yesus mempunyai sikap yang bijaksana di dalam menghadapi sengsara maupun penderitaan-Nya. Ia tidak kalah dengan masalah dan penderitaan. Ada tiga langkah bijak Yesus seturut Injil tadi: 
Pertama, Yesus berani melaksanakan Malam Perjamuan Terakhir. Yesus tahu apa yang akan dihadapi dan dialami. Yesus tahu dalam waktu yang dekat akan mengalami kesengsaraan hebat. Yesus mau agar para murid mendengarkan dan mengerti apa yang dilakukan-Nya dalam Malam Perjamuan Terakhir. Ekaristi bagi Yesus adalah suatu peristiwa nyata dan otentik yang menjadi tanda dan sarana penebusan yang diajalnkan. Bagi Yesus semua yang dilakukan tidak ada artinya bila tidak dimaknai dari Ekaristi. Kedua, Yesus berani pergi menyongsong kematian-Nya dengan iman. Iman akan penebusan-Nya telah dirayakan dalam Ekaristi. Iman yang demikian pula yang dipraktekkan dalam perbuatan-Nya untuk selanjutnya. Pertama-tama Yesus mengingatkan para murid agar tidak tergoncang imannya. Petrus menyombongkan dirinya tidak akan pernah tergoncang. Tapi bagaimana kenyataannya? Dia dan para murid tergoncang. Penderitaan dan salib sangat berat dalam kenyataan. Ini pula yang seringkali terjadi dalam hidup kita. Kita mengaku diri beriman dan kuat tetapi ketika penderitaan dan salib itu tiba terkadang tergoncang pula iman kita. Sebagai orang beriman kita justru harus rendah hati. Orang beriman itu adlaah orang-orang yang rendah hati dan malah menjadi kuat. Ketiga, Yesus berani di salib. Ada pengalaman. Dalam suatu retret di Tumpang, Malang – Jatim, karena orang mengalami kasih Allah sering ia ingin berlama-lama di sana. Karena kalau ia pulang bertemu dengan keluarga yang tidak damai. Tetapi, suster di sana selalu menganjurkan dia pulang. Kata suster, “Cinta Tuhan tidak hanya di atas gunung, atau di tempat retret ini. Allah mencintaimu kapan dan di mana pun, anakku!” akhirnya, dia pulang dengan berubah cerah. 
Yesus bukan orang pengecut, yang tidak mau menderita atau tidak mau ambil resiko. Tidak! Dia orang yang berani menghadapi masalah sengsara dan penderitaan bersama cinta Allah, Bapa-Nya. Ia berani memanggul bahkan disalibkan di situ. Kita ingat jauh-jauh hari, Yesus telah mengingatkan kita bila ingin dilayakkan menjadi murid-Nya, setiap orang harus berani menyangkal diri dan memikul salib (bdk. Luk 9:23). Yesus telah memberi teladan secara nyata. Dia tahu pasti hal itu adalah bagian dari kehendak Allah. Allah di pihak Yesus dan juga di pihak kita. Percayalah bila Allah di pihak kita, maka kita akan menang, kendati menurut ukuran dunia kalah dan hancur! (bdk. Roma 8:31b). 
Selamat berjuang melalui penderitaan menuju kemuliaan hidup Anda. Tuhan Yesus Sang Pembela kita memberkatimu. 









Telukdalam, 13 April 2014
sgl

Minggu Paskah 3 - A (2014)

Kemartiran Yesus membuat banyak orang kecewa dan kembali ke kampung halaman mereka. Mereka memang telah mengalami semua karya besar Allah yang dilakukan Yesus, yaitu bahwa pekerjaan-pekerjaan Bapa yang ajaib dapat dirasakan, demikian juga pengajaran yang penuh kuasa dan wibawa. Bahkan, harapan menjadikan Yesus seorang Mesias politik yang handal untuk mengusir penjajah Romawi. 

Tentu saja cita-cita ini sangat manusiawi. Namun, bagi orang pada zaman itu, Yesus patut diperhitungkan karena Ia memiliki banyak pengikut mulai dari Galilea hingga Yudea.

Harapan dan hubungan para murid Yesus masih manusiawi, karena kedekatan mereka, sehingga lupa dan tidak sadar bahwa Yesus adalah Allah yang benar. Kematian Yesus membuat mereka kecewa dan takut. Kedua murid di Emaus merupakan contoh nyata, bagaimana mereka jujur di depan Yesus yang sedang menemani perjalanan mereka. Mereka mengungkapkan, “Kami berharap bahwa Dialah yang membebaskan Israel” (Luk 24:21). Namun, ternyata harapan mereka kandas. Yesus mati disalibkan! 

Bacaan hari ini menguatkan kita akan penyertaan Yesus bagi orang-orang yang mengalami kegelisahan dan kegalauan hidup. Yesus berjalan bersama kedua murid di Emaus. Ia membimbing kedua murid itu sambil menjelaskan seluruh isi Kitab Suci. Namun, Yesus juga menegur mereka dengan keras, karena “lamban hati untuk percaya pada para nabi”. Ternyata kata-kata Yesus “membuat hati mereka berkobar-kobar” (Luk 24:32), menghilangkan rasa sedih, mendatangkan penghiburan dan terang dalam kegelapan, akhirnya sampai mereka mendesak Yesus dan berkata, “Tinggallah bersama-sama dengan kami” (ay. 29). 

Sungguhpun mereka terkesan dan mengajak Yesus tinggal bersama mereka, namun mereka belum mengenal Yesus. Setelah mereka melihat Yesus mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti , baru saat itulah mereka mengenal-Nya. 

Sabda Tuhan hari ini membuat kita menyadari akan penyertaan Tuhan yang terus-menerus di dalam hidup kita. Dia tidak pernah berhenti mendampingi kita. Dalam suasana hidup yang penuh perjuangan atau pergumulan ini, Dia selalu hadir. Dia menguatkan dan meneguhkan kita. Sikap Yesus ini mendorong kita untuk melakukan yang sama di dalam kehidupan kita sehari-hari. Anak-anak muda perlu pendampingan seperti yang dilakukan Yesus. Oleh karena itu, para pendidik dan orang tua jangan pernah lelah atau berhenti mendampingi anak-anak. Itu adalah tugas kita bersama. Kita mau mengantar anak-anak kita sampai mengenal Yesus dalam kehidupan mereka masing-masing. 
  
Penyertaan Yesus dalam hidup kita harus dilandasi dengan sikap mengajak dan menerima Dia dalam hidup kita. Dalam kesusahan dan kesulitan hidup kita mesti yakin bahwa Yesus ada dan bersama dengan kita. Dalam praktek sulit, namun kita diajak untuk tetap setia sampai kita mengenal Yesus secara pribadi dengan sungguh-sungguh, seperti kedua murid di Emaus itu. 

Sumber: http://renunganpagi.blogspot.com/search/label/Renungan%20Minggu%20dan%20Hari%20Raya#gsc.tab=0

Senin, 28 April 2014

Minggu Paskah 2 - A (2014)


DAMAI SEJAHTERA BAGI KAMU


Pengantar
Pentingnya proyek perdamaian di tengah kisruh atau konflik yang sedang berlangsung. Sangat membutuhkan orang atau sarana yang bisa mendamaikan dan mendinginkan suasana.
Kedua Paus, Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II, yang hari ini dikanonikasi menjadi orang kudus “santo” adalah tokoh-tokoh perdamaian sejati.

Exegese KS
Pada hari Minggu ini, Gereja memberikan kita gambaran tentang kebangkitan Yesus dan bagaimana setelah 8 hari, Yesus menampakkan diri lagi kepada para Rasul yang sedang takut, dan terutama kepada Thomas.
Terdapat dua episode dalam Injil Yohanes hari ini. Episode pertama tentang penampakkan Yesus kepada semua rasul yang sedang takut, kecuali Thomas. Kepada mereka Yesus menyalami: “Damai sejahtera bagi kamu”. Inilah ucapan yang menguatkan para rasul dan murid yang sedang ketakutan, yang sedang bersembunyi, yang sedang gelisah dan sedang trauma dengan peristiwa penyaliban dan kematian Yesus yang sangat ngeri itu. Dalam ketakutan itu, para rasul merasakan sebuah kedekatan dengan Yesus ketika mereka masih hidup bersama. Kedekatan itu sekarang tidak hanya soal rasa, melainkan sebuah kenyataan bahwa Yesus yang dulu hidup bersama mereka, kini hadir di tengah-tengah mereka, menyalami mereka “salam damai”. Yesus tidak ingin meninggalkan mereka, tetapi ingin berada bersama mereka setiap hari. Yesus yang bangkit itu ingin kembali mengulangi masa-masa indahnya dengan para rasul dan murid, saat-saat di mana ada kedamaian. Nah, ketika sdg takut, Yesus ingin memberikan mereka rasa damai itu, rasa nyaman itu, rasa tenang dan rasa bahagia itu kepada para rasul dan murid yang sedang ketakutan dan sedang berada di tempat bersembunyi.
Episode kedua ialah penampakkan Yesus 8 hari kemudian. Rupanya dalam penampakkan sebelumnya, rasul Thomas tidak ada. Bisa jadi Thomas sedang sibuk dengan kunjungan keluarga, atau sibuk dengan kerja menangkap ikan di danau Tiberias, atau sedang ketakutan dan ingin pergi ke keluarga untuk menghilangkan rasa takutnya setelah penyaliban Yesus. Singkatnya, Thomas memang tidak hadir, karena kesibukannya berada di luar tempat persembunyian para rasul yang sedang takut kepada ahli Taurat dan serdadu bangsa Yahudi. Kesibukan dan ketidakhadirannya ini membuat dia tidak tahu kalau Yesus sudah bangkit dan menampakkan diri kepada para rasul.
                                                                  
Aplikasi-Praksis.
Kedua episode yang terdapat dalam Injil Yohanes hari ini, mengajak kita juga untuk melakukan apa yang menjadi pesan sang penulis Injil ini dalam tiga hal.
Yang pertama ialah bahwa, dalam kehidupan kita sehari-hari, hendaklah kita selalu berusaha mengucapkan “Damai sejahtera bagi kamu”. Itulah tugas perutusan kita setelah percaya akan kebangkitan Kristus. Yesus Kristus menugaskan kita untuk menyalami semua orang yang kita jumpai setiap hari. Mengatakan “damai sejahtera bagi kamu” adalah sebuah ajakan bagi kita untuk menciptakan kenyamanan, ketentraman dan kedamaian di antara kita, serta menyingkirkan sikap-sikap arogansi, sombong, curiga, permusuhan dan kebencian. Tanda bahwa kita telah ikut bangkit bersama Kristus ialah bahwa kita telah mempu menyingkirkan unsur-unsur negatif dari dalam diri kita dan mengenakan sikap-sikap damai dan saling menghargai satu sama lain.
Yang kedua ialah, bahwa Yesus mendesak kita juga untuk percaya bahwa Dia telah bangkit. Sikap Thomas yang tidak percaya adalah sebuah kritikan penulis Injil kepada kita yang mungkin rasa percaya kita itu tidak seperti yang diharapkan oleh Yesus dan oleh para rasul. Sikap ragu-ragu kita mungkin lebih kuat dari sikap keyakinan kita. Kebangkitan Kristus adalah tanda bahwa Yesus tidak meninggalkan kita sendirian, tetapi Dia datang dan hidup bersama kita, menemani kita juga. Tetapi bisa jadi, ketika kita memiliki masalah dalam hidup, kita kehilangan keyakinan bahwa Allah sedang bersama kita. Kita kadang berguman bahwa Allah tidak ada, klo Dia ada, mengapa tidak pernah menjawab dan mengabulkan permohonanku? Mengapa penderitaanku terus-terusan ada walau aku sudah terus memohon kesembuhan kepada Tuhan?
Yang ketiga ialah bahwa peristiwa kebangkitan Yesus Kristus adalah peristiwa yang memberikan rasa kedamaian untuk kita semua. Kedamaian itu dilambangkan dalam bacaan pertama dari kisah para rasul, yaitu “mereka memecah-mecahkan roti secara bergilir dari rumah ke rumah”. Jemaat Kristen pertama memang jemaat yang cinta akan kedamaian, mereka selalu saling berbagi roti (makanan) bersama, serta selalu berdoa bersama. Mereka mementingkan kebersamaan, dan dalam kebersamaan mereka saling berbagi roti, saling menolong, saling membuat orang lain kenyang, dan juga sama-sama berdoa. Inilah juga yang seharusnya kita upayakan dalam hidup bersam kita. Tidak membiarkan orang lain terasing dan jauh dari pergaulan kita, tetapi berusaha merangkul dan melibatkan semua orang (terutama mereka-mereka yang seiman dengan kita) untuk mengalami kedamaian itu.

Telukdalam, 27 April 2014
Email: giuslay.zone@gmail.com

Minggu, 20 April 2014

Minggu Paskah - A (2014)


Yang sifatnya liturgis adalah penting namun bukan sekadar yang lahiriah, sebab MINGGU PASKAH adalah hari raya PALING UTAMA dalam kehidupan Gereja. Pada hari inilah Gereja merayakannya dengan sangat meriah, melebihi hari raya lainnya. Mengapa demikian? Karena pada MINGGU PASKAH itulah seluruh misteri penebusan manusia direnungkan, sehingga bagi kita, meskipun telah merayakan Malam Paskah, merayakan Minggu adalah kewajiban besar kita. Berbeda dengan hari Minggu dan hari raya lainnya, Gereja tetap mengarah pada misteri keselamatan Paskah, tetapi bagian per bagian saja. Oleh karena itu, hari Paskah disebut juga sebagai hari raya dari segala hari raya. (Solemnity of solemnities, summa sollemnitas). 

Maka, sejenak kita renungkan sebagian makna dari Injil pada hari raya Paskah yang setiap tahun kita baca dan dengarkan. Yohanes melukiskan bagaimana situasi iman para murid yang diwakili oleh Petrus dan salah satu murid yang lain. Setelah mendengar di sana, murid yang lain itu melihat sama seperti yang dilihat Petrus, namun ia percaya. Demikianlah, bahwa hanya orang yang memiliki kasih yang besar kepada-Nya dapat menangkap tanda kebenaran akan misteri kebangkitan-Nya. 

Semoga, kita yang mengasihi-Nya juga dapat menangkap tanda kebenaran Kristus yang telah bangkit itu di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita ini sedang menghadapi banyak persoalan, tantangan dan godaan, entah yang ringan atau yang berat, entah yang sifatnya pribadi maupun komunal, entah yang di tengah masyarakat maupun pemerintahan. 

Oleh karena itu, biarkanlah pada hari Paskah kali ini, kita dikuatkan oleh tanda itu, jejak-jejak kebangkitan-Nya yang samar namun dapat memberi kekuatan dan harapan baru kepada kita. Selamat Paskah!
Sumber: http://renunganpagi.blogspot.com/search/label/Renungan%20Minggu%20dan%20Hari%20Raya#gsc.tab=0

Telukdalam, 20 April 2014
sgl

Vigilia Paskah - A (2014)

“Ia telah bangkit.” Inilah kabar suka cita bagi manusia. Kita patut mewartakannya kepada setiap orang, kepada sanak keluarga, tetangga, teman sekantor. Supaya pewartaan kita tidak hanya kata-kata saja, kita perlu mengimani bahwa Yesus bangkit dan kita akan dibangkitkan pula. Bagaimana caranya? Yesus yang bangkit itu selalu hadir dalam Sakramen Ekaristi. Hadirilah selalu Perayaan Ekaristi dan jika tidak ada dosa berat, sambutlah Komuni Kudus. Kita tentu akan bangkit seperti Dia, karena kita telah menyantap Tubuh-Nya yang telah bangkit. Inilah tawaran Tuhan yang terbesar bagi manusia, bagi kita. Jika kita menghidupi apa yang kita imani, orang lain akan bertanya mengapa kita begitu yakin akan selamat, mengapa kita perlu mengaku dosa, mengapa kita perlu menerima Komuni Kudus, dan lain sebagainya. Itulah kesempatan kita mewartakan Dia yang telah bangkit.

Sumber: http://renunganpagi.blogspot.com/search/label/Renungan%20Minggu%20dan%20Hari%20Raya#gsc.tab=0

Telukdalam, 19 April 2014
sgl

Jumat Agung - A (2014)

Pada Jumat Agung ini, pantaslah kita fokus pada keagungan pribadi Yesus. Tidak ada keraguan dalam bertanya “siapa yang kamu cari?” karena kemudian muncul jawaban yang berani bahwa “Akulah yang kamu cari”. Dia tidak mau melibatkan pada murid-Nya dalam penderitaan yang harus ditanggung-Nya; tetapi sekaligus menunjukkan teladan, ajaran dan tanggung jawab kepada mereka. Dia mengajarkan kebenaran di tempat semua orang berkumpul dan tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi atau menyembunyikan kebenaran. Dia tegas kepada semua pemimpin dalam menyuarakan kesejatian iman dengan berkata, “Jika kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya; tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” (Yoh 18:23).

Marilah kita bertanya, mengapa saya lemah dan tidak berani masuk ke dalam diri? Apa yang harus kulakukan dan bagaimana caranya? Aristoteles pernah berkata, keberanian merupakan kualitas pertama manusia. Lao Tze mengatakan bahwa manusia memiliki tiga harta: cinta yang dalam, kesederhanaan dan keberanian memenangkan dunia. Dengan cinta yang dalam seseorang akan jadi pemberani. Dengan kesederhanaan seseorang akan jadi dermawan. Dengan keberanian memenangkan dunia seseorang akan menjadi pemimpin dunia.
   

 Yesus kuat dan berani karena Ia tahu siapa diri-Nya, yaitu Putra Allah. Kekuatan-Nya adalah cinta akan Bapa-Nya dan tanggung jawab perutusan-Nya untuk menebus dunia. Ia berani karena ia berjalan dalam kebenaran dan percaya bahwa Bapa tidak akan meninggalkan Dia. Mari kita sadar bahwa kita putra-putri Allah. Milikilah cinta-Nya supaya punya kekuatan dan percaya bahwa Bapa selalu beserta kita. Bersama Dia, kita kuat dan berani.

Sumber: http://renunganpagi.blogspot.com/search/label/Renungan%20Minggu%20dan%20Hari%20Raya#gsc.tab=0

Telukdalam, 18 April 2014
sgl

RETREAT TAHUNAN KAPAUSIN KUSTODI GENERAL SIBOLGA 2023

  Para saudara dina dari Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga, pada tanggal 6 s/d 10 Noveember 2023, mengadakan retreat tahunan yang dilaksa...