Senin, 28 April 2014

Minggu Paskah 2 - A (2014)


DAMAI SEJAHTERA BAGI KAMU


Pengantar
Pentingnya proyek perdamaian di tengah kisruh atau konflik yang sedang berlangsung. Sangat membutuhkan orang atau sarana yang bisa mendamaikan dan mendinginkan suasana.
Kedua Paus, Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II, yang hari ini dikanonikasi menjadi orang kudus “santo” adalah tokoh-tokoh perdamaian sejati.

Exegese KS
Pada hari Minggu ini, Gereja memberikan kita gambaran tentang kebangkitan Yesus dan bagaimana setelah 8 hari, Yesus menampakkan diri lagi kepada para Rasul yang sedang takut, dan terutama kepada Thomas.
Terdapat dua episode dalam Injil Yohanes hari ini. Episode pertama tentang penampakkan Yesus kepada semua rasul yang sedang takut, kecuali Thomas. Kepada mereka Yesus menyalami: “Damai sejahtera bagi kamu”. Inilah ucapan yang menguatkan para rasul dan murid yang sedang ketakutan, yang sedang bersembunyi, yang sedang gelisah dan sedang trauma dengan peristiwa penyaliban dan kematian Yesus yang sangat ngeri itu. Dalam ketakutan itu, para rasul merasakan sebuah kedekatan dengan Yesus ketika mereka masih hidup bersama. Kedekatan itu sekarang tidak hanya soal rasa, melainkan sebuah kenyataan bahwa Yesus yang dulu hidup bersama mereka, kini hadir di tengah-tengah mereka, menyalami mereka “salam damai”. Yesus tidak ingin meninggalkan mereka, tetapi ingin berada bersama mereka setiap hari. Yesus yang bangkit itu ingin kembali mengulangi masa-masa indahnya dengan para rasul dan murid, saat-saat di mana ada kedamaian. Nah, ketika sdg takut, Yesus ingin memberikan mereka rasa damai itu, rasa nyaman itu, rasa tenang dan rasa bahagia itu kepada para rasul dan murid yang sedang ketakutan dan sedang berada di tempat bersembunyi.
Episode kedua ialah penampakkan Yesus 8 hari kemudian. Rupanya dalam penampakkan sebelumnya, rasul Thomas tidak ada. Bisa jadi Thomas sedang sibuk dengan kunjungan keluarga, atau sibuk dengan kerja menangkap ikan di danau Tiberias, atau sedang ketakutan dan ingin pergi ke keluarga untuk menghilangkan rasa takutnya setelah penyaliban Yesus. Singkatnya, Thomas memang tidak hadir, karena kesibukannya berada di luar tempat persembunyian para rasul yang sedang takut kepada ahli Taurat dan serdadu bangsa Yahudi. Kesibukan dan ketidakhadirannya ini membuat dia tidak tahu kalau Yesus sudah bangkit dan menampakkan diri kepada para rasul.
                                                                  
Aplikasi-Praksis.
Kedua episode yang terdapat dalam Injil Yohanes hari ini, mengajak kita juga untuk melakukan apa yang menjadi pesan sang penulis Injil ini dalam tiga hal.
Yang pertama ialah bahwa, dalam kehidupan kita sehari-hari, hendaklah kita selalu berusaha mengucapkan “Damai sejahtera bagi kamu”. Itulah tugas perutusan kita setelah percaya akan kebangkitan Kristus. Yesus Kristus menugaskan kita untuk menyalami semua orang yang kita jumpai setiap hari. Mengatakan “damai sejahtera bagi kamu” adalah sebuah ajakan bagi kita untuk menciptakan kenyamanan, ketentraman dan kedamaian di antara kita, serta menyingkirkan sikap-sikap arogansi, sombong, curiga, permusuhan dan kebencian. Tanda bahwa kita telah ikut bangkit bersama Kristus ialah bahwa kita telah mempu menyingkirkan unsur-unsur negatif dari dalam diri kita dan mengenakan sikap-sikap damai dan saling menghargai satu sama lain.
Yang kedua ialah, bahwa Yesus mendesak kita juga untuk percaya bahwa Dia telah bangkit. Sikap Thomas yang tidak percaya adalah sebuah kritikan penulis Injil kepada kita yang mungkin rasa percaya kita itu tidak seperti yang diharapkan oleh Yesus dan oleh para rasul. Sikap ragu-ragu kita mungkin lebih kuat dari sikap keyakinan kita. Kebangkitan Kristus adalah tanda bahwa Yesus tidak meninggalkan kita sendirian, tetapi Dia datang dan hidup bersama kita, menemani kita juga. Tetapi bisa jadi, ketika kita memiliki masalah dalam hidup, kita kehilangan keyakinan bahwa Allah sedang bersama kita. Kita kadang berguman bahwa Allah tidak ada, klo Dia ada, mengapa tidak pernah menjawab dan mengabulkan permohonanku? Mengapa penderitaanku terus-terusan ada walau aku sudah terus memohon kesembuhan kepada Tuhan?
Yang ketiga ialah bahwa peristiwa kebangkitan Yesus Kristus adalah peristiwa yang memberikan rasa kedamaian untuk kita semua. Kedamaian itu dilambangkan dalam bacaan pertama dari kisah para rasul, yaitu “mereka memecah-mecahkan roti secara bergilir dari rumah ke rumah”. Jemaat Kristen pertama memang jemaat yang cinta akan kedamaian, mereka selalu saling berbagi roti (makanan) bersama, serta selalu berdoa bersama. Mereka mementingkan kebersamaan, dan dalam kebersamaan mereka saling berbagi roti, saling menolong, saling membuat orang lain kenyang, dan juga sama-sama berdoa. Inilah juga yang seharusnya kita upayakan dalam hidup bersam kita. Tidak membiarkan orang lain terasing dan jauh dari pergaulan kita, tetapi berusaha merangkul dan melibatkan semua orang (terutama mereka-mereka yang seiman dengan kita) untuk mengalami kedamaian itu.

Telukdalam, 27 April 2014
Email: giuslay.zone@gmail.com

Minggu, 20 April 2014

Minggu Paskah - A (2014)


Yang sifatnya liturgis adalah penting namun bukan sekadar yang lahiriah, sebab MINGGU PASKAH adalah hari raya PALING UTAMA dalam kehidupan Gereja. Pada hari inilah Gereja merayakannya dengan sangat meriah, melebihi hari raya lainnya. Mengapa demikian? Karena pada MINGGU PASKAH itulah seluruh misteri penebusan manusia direnungkan, sehingga bagi kita, meskipun telah merayakan Malam Paskah, merayakan Minggu adalah kewajiban besar kita. Berbeda dengan hari Minggu dan hari raya lainnya, Gereja tetap mengarah pada misteri keselamatan Paskah, tetapi bagian per bagian saja. Oleh karena itu, hari Paskah disebut juga sebagai hari raya dari segala hari raya. (Solemnity of solemnities, summa sollemnitas). 

Maka, sejenak kita renungkan sebagian makna dari Injil pada hari raya Paskah yang setiap tahun kita baca dan dengarkan. Yohanes melukiskan bagaimana situasi iman para murid yang diwakili oleh Petrus dan salah satu murid yang lain. Setelah mendengar di sana, murid yang lain itu melihat sama seperti yang dilihat Petrus, namun ia percaya. Demikianlah, bahwa hanya orang yang memiliki kasih yang besar kepada-Nya dapat menangkap tanda kebenaran akan misteri kebangkitan-Nya. 

Semoga, kita yang mengasihi-Nya juga dapat menangkap tanda kebenaran Kristus yang telah bangkit itu di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita ini sedang menghadapi banyak persoalan, tantangan dan godaan, entah yang ringan atau yang berat, entah yang sifatnya pribadi maupun komunal, entah yang di tengah masyarakat maupun pemerintahan. 

Oleh karena itu, biarkanlah pada hari Paskah kali ini, kita dikuatkan oleh tanda itu, jejak-jejak kebangkitan-Nya yang samar namun dapat memberi kekuatan dan harapan baru kepada kita. Selamat Paskah!
Sumber: http://renunganpagi.blogspot.com/search/label/Renungan%20Minggu%20dan%20Hari%20Raya#gsc.tab=0

Telukdalam, 20 April 2014
sgl

Vigilia Paskah - A (2014)

“Ia telah bangkit.” Inilah kabar suka cita bagi manusia. Kita patut mewartakannya kepada setiap orang, kepada sanak keluarga, tetangga, teman sekantor. Supaya pewartaan kita tidak hanya kata-kata saja, kita perlu mengimani bahwa Yesus bangkit dan kita akan dibangkitkan pula. Bagaimana caranya? Yesus yang bangkit itu selalu hadir dalam Sakramen Ekaristi. Hadirilah selalu Perayaan Ekaristi dan jika tidak ada dosa berat, sambutlah Komuni Kudus. Kita tentu akan bangkit seperti Dia, karena kita telah menyantap Tubuh-Nya yang telah bangkit. Inilah tawaran Tuhan yang terbesar bagi manusia, bagi kita. Jika kita menghidupi apa yang kita imani, orang lain akan bertanya mengapa kita begitu yakin akan selamat, mengapa kita perlu mengaku dosa, mengapa kita perlu menerima Komuni Kudus, dan lain sebagainya. Itulah kesempatan kita mewartakan Dia yang telah bangkit.

Sumber: http://renunganpagi.blogspot.com/search/label/Renungan%20Minggu%20dan%20Hari%20Raya#gsc.tab=0

Telukdalam, 19 April 2014
sgl

Jumat Agung - A (2014)

Pada Jumat Agung ini, pantaslah kita fokus pada keagungan pribadi Yesus. Tidak ada keraguan dalam bertanya “siapa yang kamu cari?” karena kemudian muncul jawaban yang berani bahwa “Akulah yang kamu cari”. Dia tidak mau melibatkan pada murid-Nya dalam penderitaan yang harus ditanggung-Nya; tetapi sekaligus menunjukkan teladan, ajaran dan tanggung jawab kepada mereka. Dia mengajarkan kebenaran di tempat semua orang berkumpul dan tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi atau menyembunyikan kebenaran. Dia tegas kepada semua pemimpin dalam menyuarakan kesejatian iman dengan berkata, “Jika kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya; tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” (Yoh 18:23).

Marilah kita bertanya, mengapa saya lemah dan tidak berani masuk ke dalam diri? Apa yang harus kulakukan dan bagaimana caranya? Aristoteles pernah berkata, keberanian merupakan kualitas pertama manusia. Lao Tze mengatakan bahwa manusia memiliki tiga harta: cinta yang dalam, kesederhanaan dan keberanian memenangkan dunia. Dengan cinta yang dalam seseorang akan jadi pemberani. Dengan kesederhanaan seseorang akan jadi dermawan. Dengan keberanian memenangkan dunia seseorang akan menjadi pemimpin dunia.
   

 Yesus kuat dan berani karena Ia tahu siapa diri-Nya, yaitu Putra Allah. Kekuatan-Nya adalah cinta akan Bapa-Nya dan tanggung jawab perutusan-Nya untuk menebus dunia. Ia berani karena ia berjalan dalam kebenaran dan percaya bahwa Bapa tidak akan meninggalkan Dia. Mari kita sadar bahwa kita putra-putri Allah. Milikilah cinta-Nya supaya punya kekuatan dan percaya bahwa Bapa selalu beserta kita. Bersama Dia, kita kuat dan berani.

Sumber: http://renunganpagi.blogspot.com/search/label/Renungan%20Minggu%20dan%20Hari%20Raya#gsc.tab=0

Telukdalam, 18 April 2014
sgl

Sabtu, 29 Maret 2014

Minggu Prapaskah 4 - A

Kotbah Minggu Prapaska 3, - A (2014)
Bacaan Pertama     : 1 Samuel 16,1b.6-7.10-13a
Mazmur Tggpn      : 23
Bacaan Kedua        : Efesus 5,8-14
Bacaan Injil            : Yohanes 9,1-41

“KERINDUAN UNTUK DISEMBUHKAN”

Pengantar
Fungsi utama mata adalah untuk melihat. Tuhan menganugerahkan mata kepada kita agar dapat melihat. Melalui mata, kita bisa melihat dunia yang ada di sekitar kita dengan segala keindahannya. Mata adalah jendela dunia, maka berbahagialah yang dapat melihat dunia sekitar. 

Exegese KS
 Pada hari Minggu Prapaskah IV ini, Injil Yohanes mengisahkan tentang Yesus yang menyembuhkan orang yang buta sejak lahir. Yesus tahu bahwa semua orang ingin melihat, termasuk orang yang buta sejak lahir ini. Oleh karena itu, Yesus mewujudkan kerinduan orang tersebut dengan cara menyembuhkannya. Setelah disembuhkan, orang tersebut tidak hanya melihat dunia sekitarnya, melainkan juga melihat Yesus. Melihat Yesus berarti melihat Tuhan yang peduli dengan penderitaan dan kerinduannya. Penglihatan itulah yang membuat iman orang buta itu mengalami perkembangan. Dia tidak hanya percaya bahwa Yesus itu seorang nabi, tetapi bahkan Anak Manusia (Yoh 9:17.36.38). dan berkat kepercayaannya itu, dia tidak takut diasingkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Peristiwa penyembuhan ini bukan hanya peristiwa Yesus membuka mata jasmani orang buta, tapi Yesus yang membuka hati dan iman orang buta itu. Berkat Yesus, tidak hanya matanya yang dapat melihat, melainkan juga imannya. Melalui iman, dia bisa melihat Yesus sebagai Allah yang penuh belas kasih. Dan pengalaman iman akan Allah seperti inilah yang tidak mudah digoyahkan oleh apa pun. Tantangan apa pun tidak akan mampu menghancurkannya. Sebab, iman seperti ini bisa bertumbuh dalam kondisi apa pun, bahkan di tempat yang tandus pun bisa berkembang dengan baik.

Aplikasi-praksis.
Bagaimana dengan iman kita? Apakah kita sudah memiliki iman sebesar yang dipunyai orang buta tersebut? Bila dibandingkan dengan keadaan orang buta tersebut, pasti keadaan kita jauh lebih baik. Sudah sejak lahir kita diberi karunia mata dan dapat melihat dengan baik, tapi apakah iman kita lebih besar dari orang buta itu? Kita harus mengakui dengan jujur bahwa iman kita tidak lebih besar dari orang buta yang dikisahkan dalam Injil hari ini. Mengapa? Jangan-jangan kita sudah banyak melihat dunia sekitar kita, namun belum pernah melihat Yesus dalam kehidupan kita. Setiap Minggu kita pergi ke gereja dan mengikuti Misa Kudus, tapi tidak pernah melihat Yesus. Kita sudah pernah melihat pemandangan alam yang indah, tapi tidak pernah melihat Penciptanya. Kita pernah mengalami kebaikan sesama, namun tidak pernah merasakan kehadiran Yesus dalam diri orang tersebut. Hal itu terjadi karena mata kita hanya melihat dengan mata jasmani, tapi kurang mampu melihat semua pengalaman itu dengan mata hati dan iman kita.

Dalam situasi demikian, sesungguhnya kita mengalami kebutaan rohani, di mana hati dan iman kita tidak mampu melihat Yesus. Maka, hari ini kita juga membutuhkan kehadiran Yesus sebagaimana orang buta tersebut. Yesus berkenan menyembuhkan kebutaan kita, sehingga kita mampu melihat Yesus dengan situasi, kondisi dan diri siapa pun.

Hari Raya Kabar Sukacita - A


"TERJADILAH PADAKU MENURUT KEHENDAK-MU"


Pasangan suami isteri baru, saat mendengar bahwa sang isteri mulai mengandung, pasti sangat bersukacita. Kiranya mereka pun akan tergerak untuk mewartakan sukacita atau kegembiraannya kepada orang tua dan sanak saudaranya. Sebaliknya, siapa pun orangnya, tak terkecuali Maria ketika mendengar atau mendapat kabar bahwa seorang perawan mengandung, hamil tanpa laki-laki tentu bukanlah kabar yang menggembirakan. Kalau begitu kenyataannya, mengapa Gereja hari ini merayakan Bunda Maria menerima Kabar Sukacita? Di manakah letak sukacitanya?

Entah orang jahat atau orang baik pasti membutuhkan, minimal menginginkan keselamatan. Allah juga menghendaki keselamatan itu bagi semua orang. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Untuk melakukan sesuatu tinggal bersabda, dan apa pun yang disabdakan-Nya pasti akan terjadi. Namun, untuk melaksanakan karya keselamatan, Allah mengajak manusia untuk berpartisipasi, ambil bagian di dalamnya. Ini semua dilakukan karena Allah memandang manusia begitu tinggi. Itulah sebabnya Allah mengundang manusia (Maria) untuk bekerja sama dalam karya keselamatan. 

Maria, gadis sederhana dari Nazaret, menerima kabar dari Allah melalui malaikat-Nya bahwa ia akan mengandung seorang anak laki-laki karena Roh Kudus. Secara manusiawi hal ini kiranya tidak menggembirakan, bahkan sungguh menakutkan. Namun, itulah kehendak Allah. Ia mengutus Pribadi kedua menjadi manusia melalui rahim Maria. Maria terpilih sebagai wakil umat manusia untuk bekerja sama dalam perwujudan rencana Allah. Karenanya kesanggupan Maria untuk mengandung karena Roh Kudus sungguh merupakan kabar sukacita. 

Hari Raya Kabar Sukacita kiranya membawa kita kepada permenungan yang mendalam tentang misteri Inkarnasi Putra Allah. Logos (Sang Sabda) yang dari kekal adalah Allah Bapa sendiri mewahyukan atau memperkenalkan diri-Nya dan menjadi dekat dengan manusia. Bahkan, Ia menjadi sama seperti manusia dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Dia adlaah Imanuel, artinya Allah beserta kita. Dalam diri Yesus, Sang Logos yang menjelma menjadi manusia itu, “walaupun dalam rupa Allah, Kristus Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama menjadi manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:6-8). 

Iman adalah rahmat. Ketaatan iman Maria juga merupakan rahmat Allah yang ditanggapinya dengan hati terbuka. Ketaatan iman Maria terwujud dalam kesediaannya menanggapi tawaran Allah yang disampaikan melalui Malaikat Gabriel, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38; bdk. Yes 7:11-12). 

Berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia memang harus berjuang dan berkorban, sebagaimana dilakukan oleh Maria. Maria mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah demi keselamatan atau kesejahteraan umum, seluruh umat manusia. Kiranya sudah layak dan pantas memberi persembahan kepada Allah adalah sesuatu yang paling baik, paling berharga atau paling bernilai. Karenanya, bersama Bunda Maria secara sadar mari kita berserah diri dan berkata kepada Allah, “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.”

Minggu Prapaska 3 - A


Kotbah Minggu Prapaska 3, - A (2014)
Bacaan Pertama      : Keluaran 17,3-7
Mazmur Tggpn       : 95
Bacaan Kedua         : Roma 2,1-2,5-8
Bacaan Injil             : Yohanes 4,5-48

“PANGGILAN UNTUK PEDULI”

Pengantar
Pada hari Minggu ketiga masa Prapaska ini, Gereja mengajak kita untuk meningkatkan sikap kepedulian kita kepada sesama. Kepedulian rupanya menjadi inti ajaran Kristus selama kita menjalani masa Prapaska ini.

Exegese KS
Bacaan pertama dari Kitab Kejadian memberikan sebuah gambaran tentang kepedulian Allah kepada bangsa Israel selama pengembaraan dan perjalanan mereka di padang gurun. Bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang suka menggerutu, suka nyinyir, suka ngamuk-ngamuk, protes, selama mereka berjalan dari Mesir menuju Tanah Terjanji, melewati Padang Gurun. Seperti dalam bacaan pertama, mereka malah menuntut agar YAHWE itu harus tampak di depan mata mereka. Akhirnya memang YAHWE tampak kepada mereka, walaupun bukan wajah-Nya yang tampak, melainkan dalam bentuk tampak sebagai batu karang Israel dan sumber air yang memberi hidup kepada mereka. Di sini jelas bahwa YAHWE itu hadir sebagai Air Hidup yang memberikan kesejukan, memberikan kenyamanan, memberikan hidup untuk bangsa Israel.
Inilah gambaran Allah yang peduli itu, Allah yang selalu memperhatikan kebutuhan manusia, memperhatikan kebutuhan bangsa Israel, dan tidak menginginkan mereka binasa. Kenakalan dan sikap menggerutu tidak membuat YAHWE lari dari sikap peduli, tetapi justru semakin menampakan kepedulian itu kepada bangsa Israel.
Dalam Injil hari ini, Yesus menyatakan rasa peduli terhadap seorang wanita Samaria. Ia tahu bahwa wanita ini dijauhi banyak orang, terutama oleh orang-orang yang tinggal sekampung dengannya. Apakah buktinya bahwa dia adalah orang yang dijauhi oleh sesamanya? 
Pertama-tama, wanita ini mengambil air pada waktu tengah hari. Padahal, dalam budaya Samaria, setiap orang mengambil air pada waktu pagi hari. Alasannya, tidak panas dan banyak kesempatan untuk bisa berinteraksi dengan orang lain. Wanita ini tidak melakukan hal demikian. Ia hidup dalam keterasingan dan malah mengasingkan dirinya dari pergaulan terbuka dengan orang lain, tidak mau berinteraksi dengan orang lain. Mengapa? Karena dia dianggap sebagai wanita tidak baik, dan sekarang, dia sedang hidup dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Dan Yesus sendiri tahu dengan baik keperibadiannya walaupun mereka belum bertemu.
Yesus melihat bahwa hidup wanita ini sungguh perih dan pahit. Oleh karena itu, Yesus pun berusaha untuk menolong dia. Namun, apakah cara yang dipakai Yesus itu harus halus dan lembut? Tidak. Sebaliknya, Yesus justru menggunakan shock teraphy untuk menyadarkan wanita tersebut. Yesus pertama-tama membuka aib yang dilakukan oleh wanita tersebut, terutama mengenai hidup perkawinannya yang tidak beres. Yesus dengan terus terang membuka hal-hal yang berkaitan dengan wanita itu secara langsung kepadanya, dan ini tentu saja hal itu menyakitkan. Siapakah orang yang tidak malu dan marah jika aib yang ditutup-tutupinya diketahui, bahkan dibeberkan oleh orang yang baru saja dikenalnya? Namun, Yesus tanpa ragu dan malu melakukan itu semua karena Ia sangat peduli pada kehidupan wanita tersebut. Rasa peduli yang Yesus tunjukkan kepadanya jauh dari kesan halus, sebaliknya sedikit kasar. Tetapi, tindakan Yesus ini ternyata justru dapat menyadarkan wanita tersebut. Ia menjadi sadar bahwa tindakan Yesus yang kasar dan tidak elegan tersebut menyelamatkan dia. 

Aplikasi-praksis.
Melalui tindakan Yesus yang kita dengar dan kita saksikan hari ini kita sekalian dapat belajar bahwa rasa peduli dan rasa belas kasih memang sangat diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan seseorang.
Dalam masa Prapaskah ini, kita juga diajak untuk semakin peduli dengan orang lain, semakin meningkatan sikap berbela rasa terhadap orang lain, sikap menaruh perhatian kepada orang lain, sikap yang menguntungkan orang lain, dan dengan itu kita dapat mempersiapkan Paskah kita dengan hati yang lebih baik dan pantas. Namun, kita pun mesti ingat bahwa peduli tidak selalu identik dengan kelemahlembutan. Mari kita mohon rahmat agar Tuhan selalu memampukan kita untuk dapat bertumbuh dalam kasih-Nya, dan bertumbuh dalam sikap yang selalu peduli kepada diri kita, kepada orang lain dan kepada Allah sendiri.
(bisa juga diselipkan contoh-contoh sikap peduli dari kehidupan harian)

RETREAT TAHUNAN KAPAUSIN KUSTODI GENERAL SIBOLGA 2023

  Para saudara dina dari Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga, pada tanggal 6 s/d 10 Noveember 2023, mengadakan retreat tahunan yang dilaksa...