Jumat, 12 Februari 2021

MENGELOLA HIDUP BERSAMA BEDA GENERASI

Sdr. Sergius Lay, OFMCap 

  1. 1. Catatan Pengantar 


Mungkin terlalu gegabah mengatakan bahwa “kebanyakan orang-orang dewasa medior dan senior mengeluh tentang sifat dan karakter dari orang-orang muda atau yunior sekarang ini seperti: kurang daya juang, malas, santai, hidup seturut kemauan, sering terlambat, kurang hormat kepada orang yang lebih tua, kurang sopan, sering egois dan individualis, malas, ke mana-mana dalam jarak dekat harus berkendaraan, cenderung memiliki alat-alat komunikasi seperti HP, Laptop, notebook, Tablet yang mahal dan secara sembunyi-sembunyi, kurang jujur dan masih banyak lagi litani keluhan yang dibebankan kepada mereka”. 


Kadang muncul juga komentar, “beda cara hidup orang-orang muda sekarang ya!” kata orang-orang dewasa. Namun ada juga komentar: “akh...! Tidak jamannya lagi. Pikiran mereka terlalu kolot, ketinggalan jaman. Masa orang dilarang pakai HP. Masa dikasih sama kita HP-HP tulit-tulit yang warna hitam putih layarnya. Masa diberikan sama kita HP yang harga Rp. 380.000. Masa beli Laptop untuk kita yang RAM nya hanya 2 GB atau 4 GB. Mengapa bukan beli HP yang RAM nya 8 GB dan hardiksnya 1TB!” kata orang-orang muda atau yunior. 

Senin, 18 Januari 2021

REVOLUSI MENTAL DI SEKOLAH-SEKOLAH KATOLIK

 Oleh: Sergius Lay *

1.      Catatan Pengantar


Dalam debat-debat capres dan cawapres Jokowi dan Yusuf Kalla menjelang PEMILU Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014 yang lalu, satu program dan menjadi terminologi yang dikenal publik adalah “revolusi mental”. Secara umum revolusi mental merujuk kepada perubahan mentalitas dari cara berpikir dan bertindak yang kurang baik kepada cara berpikir dan merasa yang baik.

Jansen Sinamo, seorang bapak etos kerja di Indonesia, mengatakan bahwa “mental adalah komponen non fisik manusia yang menentukan cara berpikir, cara memahami, cara meyakini, cara bersikap, cara berbicara, cara bergaul, cara makan minum – berbusana, dan cara bekerja pada umumnya; termasuk cara merayakan kemenangan dan cara menerima kekalahan”.[1]

Perubahan dalam tata kelakuan atau pola tingkah, pola berpikir dan pola berbicara dari yang “lama” kepada yang “baru” itulah yang hendak juga dikembangkan dalam dunia pendidikan, termasuk juga dalam dunia pendidikan / sekolah katolik.

 

Rabu, 13 Januari 2021

QUALITAS GURU YANG EFEKTIF

Sebuah Refleksi Pedagogis – Edukatif untuk Para Pendidik

Oleh: Sergius Lay

 

1.      Pengantar

Tugas utama para guru adalah mengajar. Mengajar secara umum dimengerti sebagai suatu tindakan guru dalam mentransferkan pelbagai informasi atau pengetahuan kepada para siswa dalam sebuah proses tatap muka. Dan lagi, kegiatan tatap muka yang selalu disebut dengan proses belajar mengajar, hampir selalu dilaksanakan di dalam ruang kelas dari suatu sekolah (lembaga pendidikan formal). Pengelolaan proses belajar mengajar (kegiatan pentransferan ilmu) bukanlah hal yang mudah untuk kebanyakan guru. Ini bisa menjadi perjuangan dan usaha serius agar ilmu pengetahuan yang ditransferkan itu tidak tercecer, melainkan sungguh-sungguh dapat diakses secara baik dan utuh.

Fokus pemikiran dalam tulisan ini adalah guru. Secara umum,  tulisan ini hendak menampilkan apa itu muatan kata efektif, yang dikenakan kepada konsep”guru efektif” dan kemudian dideskripsikan tentang bagaimana cara untuk menjadi seorang guru efektif. Dalam hal ini, kita ingin melihat bagaimana kehadiran mereka dalam setiap pertemuan di kelas dan dilihat sebagai sebuah kehadiran efektif dalam seluruh proses pembelajaran yang dilakukan di kelas bersama dengan para siswa. Dengan keefektifan kehadiran tersebut, akhirnya membawa suatu pengaruh bahwa pengajaran yang dilakukan juga efektif.

Tulisan ini mencoba menghadirkan kepada kita tentang maksud dan tujuan dari alasan yang telah dikemukakan di atas.

 

Minggu, 09 Agustus 2020

Akulah Roti yang Turun dari Surga

Minggu Biasa 19 – B (2015)
Bacaan 1. 1Raj 19,48; Mzr Tggpn 34; Bacaan 2. Ef 4,30-5,2; dan Injil Yoh 6,41-51


“AKULAH ROTI HIDUP,
YANG TURUN DARI SURGA!


EXORDIUM:
Sudah sejak hari Minggu ke-17 (yaitu tanggal 26 Juli 2015), kita mulai disuguhkan bacaan Injil tentang Roti Hidup, yang selalu didukung oleh bacaan pertama dari Perjanjian Lama. Pada Minggu Biasa ke-19 ini, bacaan Injil dan Bacaan Pertama juga berkaitan dengan Roti Hidup.
Minggu-Minggu ini adalah hari-hari Minggu yang sangat baik bagi kita untuk merenungkan tentang makna atau arti sesungguhnya dari Roti Hidup. Hari ini pada Minggu Biasa ke-19, kita mendengar Injil dari Yohanes bab 6,41-51, yang termasuk dalam kitab pertama yang disebut dengan Kitab Tanda-Tanda. Dalam Kitab Tanda-Tanda yaitu dari bab 2 – 12, (kitab kedua ialah Kitab Kemuliaan), terdiri dari 7 episode, dan pembicaraan tentang Roti Hidup terdapat dalam episode ketiga.

Selasa, 04 Agustus 2020

Empat Pola Pengajaran untuk Siap Hadapi Tantangan Masa Depan

Ini adalah berita yang diambil dari laman kemdikbud.go.id yang diterbitkan beberapa waktu lalu. Sangat baik untuk dijadikanr eferensi dalam bacaan tentang dunia pendidikan.
Selamat membaca.

Makassar, Kemendikbud --- Berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif adalah empat pola pengajaran yang dapat diterapkan kepada peserta didik agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan. Jika dulu pendidikan lebih menekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, maka pendidik masa depan adalah pendidik yang mampu membaca perubahan zaman.
 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, empat pola pengajaran tersebut sifatnya adalah mengajarkan, menginspirasi, dan menggerakkan. Jika seorang guru dapat melakukan empat pola ini, secara tidak langsung mengajak siswa untuk melihat tantangan masa depan.
 
 "Guru yang menjadi teladan untuk berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif sangat dibutuhkan bagi para guru masa depan," katanya pada acara pertemuan dengan 500 pendidik dan tenaga kependidikan, di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (03/08/2015).
 
Mendikbud mengatakan, dengan pendidikan yang menginspirasi dan menggerakkan, para siswa akan dapat bersaing di masanya. Dan gurunya, kata dia, dengan menjadi seorang inspirator bagi siswanya tentu akan diingat sepanjang masa.
 

RETREAT TAHUNAN KAPAUSIN KUSTODI GENERAL SIBOLGA 2023

  Para saudara dina dari Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga, pada tanggal 6 s/d 10 Noveember 2023, mengadakan retreat tahunan yang dilaksa...