Minggu, 12 Oktober 2014

Kotbah Minggu Biasa ke 25 - A

IRI HATIKAH ENGKAU, 
KARENA AKU MURAH HATI?

Bacaan 1: Yesaya 55,6-9; Mazmur Tggp 144; Bacaan 2: Filipi 1,20c-24.27a; Bacaan Injil: Matius, 21,1-16a

INTRODUKSI

“Cemburu”. Mungkin itulah salah satu aspek negatif yang manusia miliki ketika melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang lebih darinya. Suatu kali, seorang kepala tukang mencari beberapa tenaga tukang dan memperkerjakan mereka dalam suatu pembangunan gereja stasi. Setelah seminggu bekerja, para tukangpun menerima upah mereka, masing-masing Rp. 180.000,. untuk 6 hari kerja. Setelah sebulan berlalu, kepala tukang akhirnya berpikir, “saya harus membayar lebih kepada tukang A karena dia lebih sungguh-sungguh bekerja dan sangat bertanggung jawab. Karena itu, ketika hari sabtu berikutnya, sang kepala tukangpun membayar lebih Rp. 10.000,. kepadanya, menjadi Rp. 190.000,. Melihat ini, teman-teman yang lainpun mengamuk dan bertanya kepada kepala tukang: “Mengapa engkau berlaku tidak adil, dan mengapa si A menerima lebih dari kami yang lain? Bukankah sudah kita sepakati bahwa gaji per hari adalah Rp. 30.000.,?

URAIAN KITAB SUCI
Bacaan hari Minggu ini mengisahkan perumpamaan tentang “majikan yang baik”. Majikan yang baik ditunjukkan dalam sikap yang tidak mengutamakan aturan-aturan standar (seperti membayar upah berdasarkan kesepakatan awal) melainkan membayarkan upah secara lebih kepada siapa saja, dengan tetap mengutamakan dahulu standar minimal. Matius penginjil mengatakan bahwa inilah ciri khas keadilan yang ditunjukan oleh majikan yang baik itu.
Sang majikan telah membayar sesuai dengan aturan, yaitu kesepakatan yang telah dibuat di pagi hari kepada kelompok yang masuk pertama, di pagi hari. Jika pada sore hari, sang majikan membayar secara lebih kepada mereka yang baru masuk kerja di sore hari, dan mungkin hanya 30 menit kerja, maka itu bukanlah pelanggaran kesepakatan tetapi itu adalah sikap “memperhatikan dan mengasihi secara lebih”. Cinta kasih dan keadilan majikan tidak dihayati dan dilaksanakan berdasarkan kesepakatan, tetapi dilaksanakan secara lebih berdasarkan belas kasih dan cinta yang ditunjukkannya.
Matius mencatat bahwa inilah sifat Allah, bahwa Dia mencintai dan mengasihi manusia bukan hanya berdasarkan kesepakatan, melainkan atas dasar belas kasihnya yang tidak terhingga, yang secara bebas diberikan kepada semua orang tanpa harus diminta dan disepakati dengan manusia.
Perhatian dan cinta kasih dari Allah diberikan oleh Yesus dalam konteks cerita Injil hari ini ialah ketika “semakin meningkatnya perlawanan kepada Yesus”. Pewartaan Yesus nampaknya telah merusak kenyamanan orang Farisi dan Ahli Taurat, dan ditambah lagi karena mereka tidak menerima pewartaan Yesus. Kedegilan hati mereka inilah yang tidak disukai oleh Yesus, dan karena itu Ia katakan bahwa “iri hatikah kamu kalau Aku murah hati”?
Dalam Injil, Matius memberikan perbedaan pemahaman tentang kemurahan hati: yaitu antara kemurahan hati manusia dan kemurahan hati Allah. Manusia memikirkan bahwa kemurahan hati (dalam tradisi semit), adalah sikap adil yang harus ditunjukkan berdasarkan aturan-aturan yang telah disepakati. Sedangkan pemahaman tentang kemurahan hati dari pihak Allah ialah bahwa “Allah bebas untuk memberikan dan menganugerahkan kepada siapapun, ke manapun dan kapanpun; lepas dari apakah itu disepakati dengan manusia atau tidak”. Di sini nampak bahwa Allah berbuat baik bukan atas dasar aturan hukum, melainkan atas apa yang dianggap perlu untuk manusia.
Di sini juga nampak apa yang ditekankan oleh nabi Yesaya dalam bacaan pertama, bahwa “pikiran Allah adalah berbeda secara mendasar dari pikiran manusia”. Manusia memikirkan belas kasih berdasarkan aturan atau hukum, sedangkan Allah memikirkan berdasarkan ketulusan dalam memberi.
Dengan itu Yesus ingin mengatakan kepada orang Yahudi untuk menjauhkan diri dari sikap sombong dan tinggi hati. Di hadapan Allah, kamu tidak memiliki apa-apa. Yesus justru menuntut untuk percaya kepada-Nya, namun karena mereka lama dan lambat untuk percaya, maka merekalah yang akhirnya menjadi terakhir diselamatkan.
Ini sejalan dengan kata Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, bahwa jemaat Filipi akan kehilangan keselamatan karena tidak percaya kepada Kristus. Paulus mengatakan bahwa Kristus menjadi yang utama. Karena itu Paulus mengatakan “Bagiku hidup adalah Kristus”. Paulus yakin bahwa dengan menempatkan Kristus yang paling utama dan pertama, ia akan mendapatkan keselamatan. Paulus ingin menempatkan cintanya kepada Kristus sebagai yang paling utama dan pertama, karena ia yakin akan keselamatan yang akan diberikan kepadanya.

APLIKASI - PRAKTIS
Ada beberapa pesan Tuhan untuk kita pada hari minggu biasa ke-25 hari ini:
  1. Kita diajak oleh Gereja dan oleh Tuhan untuk dari hari ke hari menempatkan pikiran Allah dalam pikiran kita. Kita diajak untuk membiarkan Allah, melalui sabda-Nya, untuk menguasai pikiran kita, dan menghindari menempatkan pikiran kita ke dalam pikiran Allah. Kalau kita memaksa menempatkan pikiran kita ke dalam pikiran Allah atau menjadi pikiran Allah, maka kita menguasai Allah, dan kita akhirnya menjadi manusia yang tinggi hati dan sombong karena mau menguasai Allah. Inilah yang disebut dengan dosa asal dan dosa pertama: menguasai Allah melalui pikiran kita.
  2. Dalam kegiatan mengasihi, kita diajak untuk melakukan hal baik secara jujur dan tulus, dari hati, dan bukan karena ada aturan  khusus dalam melakukan perbuatan baik. Banyak orang berbuat baik karena ingin melaksanakan salah satu dari ke-10 perintah Allah., atau karena takut dihukum oleh Allah, atau karena ingin dipuji atau dinilai baik oleh orang lain. Padahal Yesus mengajarkan kita hari ini: “Jika kita ingin bermurah hati, bermurah hatilah secara tulus”, lepas dari apakah kemurahan hati kita akan dibalas atau tidak.
  3. Sifat dasar negatif kita ialah cemburu dan iri hati. Melalui bacaan-bacaan, terutama Injil hari ini, kita diajak untuk mengurangi sikap cemburu dan iri hati jika suatu ketika kita melihat ada seseorang yang berbuat baik. Kita kadang lebih sibuk bertanya dalam hati: “mengapa dia berbuat baik”, ada maksud apa dia berbuat baik, apakah ada udang di balik batu? Hari ini kita diajak untuk berpikir secara positip tentang setiap perbuatan baik yang dikerjakan oleh sesama kita, dan menghindari pikiran-pikiran negatif, yang justru dapat merusak kebersamaan hidup. Amin

Telukdalam, 21 Septemberi 2014

Kotbah Minggu Biasa ke 22 - A

ENYAHLAH IBLIS, 
KARENA ENGKAU BUKAN MEMIKIRKAN 
APA YANG DIPIKIRKAN ALLH!
Bacaan 1: Yeremia 20,7-9; Mazmur Tggp : 62; Bacaan 2 Roma 12,1-2; Bacaan Injil : Matius, 16,21-27

INTRODUKSI

Kisah dua keluarga di kampung yang membangun rumah. Mereka sama-sama merantau, kuliah, bekerja (di Hotel dan juga di salah satu jabatan di birokrasi). Setelah mereka memiliki pekerjaan, mereka menikah, dan juga berusaha membangun rumah. Yang bekerja di birokrasi, membangun secara perlahan namun pasti, walaupun jenis bangunan rumahnya tidak terlalu indah,  namun bagus untuk dihuni. Sedangkan yang bekerja di hotel ini, nampaknya dia begitu cepat selesai dan mungkin hanya dalam tempo 2 bulan, semuanya sudah selesai.
Orang-orang pun mulai bertanya, mengapa diaa begitu cepat membangun rumahnya, padahal dia hanya sekedar pegawai hotel di salah satu kota propinsi. Setelah dicari tahu, rupanya dia sering meminta tambahan dana secara diam-diam kepada tamu hotel, dan membuat juga tamu-tamu hotel tidak suka kepadanya dan menjadi enggan untuk datang menginap di hotel itu. Pengunjungpun makin sedikit, dan setelah diselidiki, diketahui bahwa penyebabnya ialah dia, dan karena itu, pemilik hotelpun memecat dia dari pekerjaannya.
Sedangkan yang bekerja di salah satu kantor pemerintahan, tetap menikmati rumahnya yang sederhana itu dengan perasaan bahagia bersama keluarganya.
  
URAIAN KITAB SUCI
Bapak, ibu... untuk mencapai situasi dan status bahagia sejati, bukanlah hal yang gampang dan mudah. Membutuhkan usaha, kesetiaan dan keseriusan dalam menekuni jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati itu. Dalam tulisan-tulisan biblis, orang sering mengatakan bahwa sering kali bahwa hal-hal yang sulit itulah yang dikategorikan sebagai jalan pikiran Allah, sedangkan jalan pikiran manusia sering mengambil jalan pintas, ingin cepat selesai, ingin yang gampang-gampang dan mendapatkan hasil yang banyak. Tentu beda, antara apa yang dipikirkan Allah dan apa yang dipikirkan manusia. Pada hari Minggu biasa yang ke 22 ini, kita diajak untuk memikirkan yang dipikirkan Allah.
Kisah Petrus dalam Injil dan Yeremia dalam bacaan pertama, memiliki kesamaan. Walau Yeremia diejek, dicemoohkan dan dihina oleh orang Israel, namun dia tetap bersusaha setia melaksanakan rencana Allah, mengajak orang Israel bertobat. Walaupun Petrus sering menjawab pertanyaan yang tidak pas, namun dia tetap menjadi andalan dalam untuk melaksanakan misi dan visi keselamatan yang dibawa oleh Yesus sendiri.
Misi Yesus itu rupanya sering tidak sesuai dengan misi Petrus. Misi Yesus sering bertentangan dengan misi manusia. Dalam Injil, diketengahkan pertentangan ini: misi Yesus dengan misi Petrus (dan para murid). Misi Yesus ialah pergi ke Yerusalem untuk menderita dan mati, sedangkan misi Petrus (dan para murid) ialah menghindari diri, atau bahkan melarikan diri dari rasa sakit dan kematian di Yerusalem.
Karena pertentangan misi inilah, makanya Yesus katakan kepada Petrus, “Enyahlah iblis”! Yesus tahu bahwa untuk sampai kepada keselamatan, jalan satu-satunya ialah melalui salib. Salib di sini dilihat sebagai simbol perjuangan dan simbol usaha untuk sampai kepada kebahagiaan dan keselamatan.
Nabi Yeremia dalam bacaan pertama juga sangat menghayati hal ini, bahwa dia, walau diejek, dicemoohkan dan bahkan dihina oleh rekan-rekannya, namun dia tetap berusaha berjuang mengatakan tentang pertobatan kepada bangsa Israel. Teman-temannya melihat bahwa usaha Yeremia adalah sia-sia dan tidak bermanfaat, namun Yeremia yakin bahwa, apa yang dikatakannya akan memberi dampak positip di mana bangsa Israel akan selamat. Yeremia tidak mau lari atau tidak mau menghindar dari situasi itu, tetapi dengan berani menghadapi situasi itu.
Dalam Injil, Yesus menegur Petrus yang mau menghindarkan diri, atau melarikan diri dari misi Yesus, namun Yesus dengan tegas mengatakan: “Enyahlah iblis”. Hanya ada dua pilihan Petrus dan Yeremia: mengikuti kehendak Allah dengan tetap menderita dan bahkan resiko mati, atau menyelamatkan diri dari masalah itu dengan memilih hal-hal yang menyenangkan namun tidak menyelamatkan.

APLIKASI - PRAKTIS
Bapa,ibu..., dalam hidup, kita selalu berhadapan dengan dua pilihan besar, melaksanakan kehendak Allah atau melaksanakan kehendak pribadi; melaksanakan apa yang dipikirkan Allah, atau melaksanakan apa yang kita pikirkan; melaksanakan hal sulit yang membawa kebahagiaan, atau melaksanakan hal mudah namun membawa kepada kerugian dan siap-siap berhadapan dengan hukum positip; berusaha bekerja dengan tekun, serius dan kerja keras sampai merasa sakit, atau bekerja dengan duduk-duduk dan santai-santai tetapi akhirnya mendapatkan keuntungan yang tidak terhingga dan menyebabkan penderitaan karena dikejar rasa takut.
Hari ini, kita diajak untuk menghormati dan menghargai kerja keras kita, bahwa kebahagiaan sempurna dan utuh akan kita peroleh melalui sebuah pengorbanan dan kerja keras. Yesus telah menunjukkan contoh itu, bahwa untuk sampai pada keselamatan dan membuat orang lain selamat, harus dijalani melalui jalan salib, pergi ke Yerusalem untuk menderita dan mati di sana. Ini juga mau mengajak kita untuk rela berkorban dan berjuang, dan tidak ingin cari gampang. Untuk sampai pada kebagiaan sejati, kita harus melalui kerja keras dan pengorbanan itu... Amin

Telukdalam, 13 Juli 2014

Kotbah Minggu Biasa ke 21 - A


PENTINGNYA PENGENALAN  JATI DIRI



INTRODUKSI

Bapa, ibu..., “kunci”. Apa yang bisa kita lakukan jika memiliki kunci? Apa yang bisa kita lakukan jika seseorang memberikan kunci rumahnya kepada kita? Apa yang bisa kita lakukan jika seseorang memberikan kunci lemari kepada kita? Apa yang bisa kita lakukan jika seseorang memberikan kunci sepeda motor kepada kita? Apa yang bisa kita lakukan jika seseorang memberikan kunci atau “pasword” email, atau pasword Facebooknya, atau pasword atau PIN ATM kepada kita?
Dengan kunci, atau pasword, atau PIN, telah diserahkan kepada kita semacam kuasa, kewenangan dan otoritas untuk melakukan apa yang dapat kita lakukan. Kita memiliki kewenangan seluas-luasnya dalam menentukan dan menggunakan apa yang seharusnya dapat kita lakukan.
Namun, tentu ada syarat sehingga sehingga seseorang mempercakan kunci tertentu kepada kita. Seseorang tidak beri begitu saja kunci itu, namun dia harus tahu dan kenal dengan baik, siapa orang yang akan diserahi kunci rumah / sepeda motor / mobil / atau bahkan PIN ATM. Tentu hanya orang yang sudah sungguh dipercaya dan memiliki sebuah hubungan kesalingpercayaan di antara mereka; karena menyerahkan kunci, pasword ataupun PIN kepada seseorang, itu sama dengan menyerahkan sebagian atau bahkan seluruh apa yang dia miliki kepada orang lain.

URAIAN KITAB SUCI
Sabda Tuhan hari minggu ini, mengetengahkan dan mengajak kita untuk merenungkan tentang makna kunci, tetapi bukan tentang kunci rumah, atau kunci kendaraan, atau pasword atau PIN ATM, melainkan tentang “kunci Kerajaan Allah”.
Dalam bacaan pertama, dikatakan bahwa Yakwe meletakkan kunci rumah Daud kepada Elyakim bin Hilkia. Sebelumnya kunci rumah Daud itu ada di tangan kepada istana raja Daud, yitu Sebna, tetapi karena dia tidak dapat mengatur rumah Daud dengan baik, maka Yahwe mengambilnya dan menyerahkannya kepada Elyakim bin Hilkia. Tuhan sangat percaya kepada Elyakim dan akhirnya mengambil dan menyerahkan kunci rumah Daud itu kepadanya. Itu berarti kuasa mengurus rumah Daud diserahkan kepada Elyakim.
Hal yang lebih indah lagi dikatakan dalam bacaan Injil hari ini, tentang relasi dekat antara Yesus dan para murid. Yesus sadar bahwa sudah sekitar hampir 3 tahun Ia hidup bersama para murid, namun Yesus belum tahu apakah mereka telah mengenal Dia atau belum. Yesus sadar bahwa Dia sekarang sedang menuju ke Yerusalem untuk menderita dan mati di sana, dan karena itu Dia harus mempersiapkan murid-muridNya untuk memimpin visi dan misi pewartaan Kabar Gembira di dunia ini.
Karena itu Yesus harus mengecek terlebih dahulu mutu atau kualitas pengenalan mereka terhadap Yesus sendiri. Akhirnya Dia memulai membuat ujian sederhana dengan bertanya: “Siapa aku ini menurut orang-orang banyak”? dan dengan jujur para murid juga menjawab (seperti yang mereka tahu), bahwa ada yang menyebut Yohanes Pembaptis, ada yang menyebut Elia atau bahwa seorang dari para nabi. Tetapi setelah itu, Yesus memakai pertanyaan ini sebagai pertanyaan pengantar yang nanti terarah kepada para murid. Sekarang tibalah saatnya pertanyaan kepada para murid: “Siapakah Aku ini menurut kamu”? Petrus yang adalah “juru bicara” para murid, menjawab: “Engkau adalah Mesias, Putera Allah yang hidup!”.
Inilah jawaban yang sangat tepat, sebagai hasil pemikiran dan renungan Petrus selama hampir 3 tahun bersama Yesus. Petrus, dalam kelebihan dan kekurangannya, telah mengenal Yesus sebagai Mesias, yang mungkin saja tidak dimiliki oleh para murid lainnya. Dia tampil sebagai seorang yang sudah sungguh mengenal Yesus, dan pengenalannya ini memiliki suatu resiko atau konsekwensi besar. Nah, konsekwensi apa itu? Konsekwensi itu ialah bahwa Yesus makin menaruh kepercayaan kepadanya, dan karena sudah begitu percaya, maka Yesus juga akhirnya menyerahkan “kunci”. Nah, kunci apa yang diserahkan? Ialah “kunci perkumpulan jemaat” atau “kunci ecclessia”, atau “kunci jemaat Allah”. Yesus tidak ragu-ragu lagi dengan Petrus (dan para murid lainnya), dan karena itu menyerahkan kunci itu kepada Petrus, sebagai seorang pemimpin jemaat atau ecclessia. Melalui kunci itu juga, Petrus memiliki kuasa untuk, selain memimpin Gereja perdana (gereja para rasul), juga memimpin penyebaran Injil kepada orang-orang atau bangsa-bangsa kafir, terutama ke Yunani dan sampai di Roma. Dalam dalam kemimpinannya, Petrus mampu memelihara Gereja (jemaat) serta membesarnya menjadi sebuah agama yang tersebar sampai ke keseluruh dunia.

APLIKASI - PRAKTIS
Sebagai orang kristen, kita juga disebut dan dipanggil sebagai murid-murid Kristus. Sejak menerima baptisan Gereja, ketika itu kita juga sudah menerima kunci Kerajaan Allah, sebagai simbol bahwa kita juga memiliki kewenangan dan kuasa atas tugas pewartaan Injil, pewartaan tentang Yesus kepada semua orang, termasuk kepada mereka yang hampir atau juga belum mengenal Kristus.
Hanya saja, kita mungkin belum mengenal Kristus secara mendalam, kita mungkin hanya mengenal Kristus hanya kulit-kulit luarnya saja, kita mungkin memiliki kunci itu, namun kualitas pengenalan kita akan Yesus tidak baik, dan itu menyebabkan bahwa kita hanya pandai bicara namun tanpa dasar pengetahuan dan pengenalan yang kuat dan baik tentang Yesus. Kita masih sekedar asal tampil, asal omong, sekedar pamer diri bahwa kita hebat (pura-pura hebat atau sok-sok hebat) tetapi sebenarnya omongan yang tidak punya nilai dan membuat orang berubah. Hari ini Yesus memberikan kunci (yang adalah simbol kekuasaan dan pelayanan) itu kepada Petrus, karena Yesus sudah tahu mutu atau kualitas pribadi Petrus. Kualitas iman kita pasti lebih rendah dari Petrus, namun kita diminta untuk meningkatkan kualitas iman kita dan kualitas pengenalan kita akan Kristus, sehingga pada hari terakhir ketika kita berada di dunia ini, kita akan sudah memiliki jawaban yang tepat tentang “siapakah Yesus itu”.

Telukdalam, 13 Juli 2014
giuslay.zone@gmail.com

Kotbah Minggu Biasa ke 15 - A

MENJADI LAHAN YANG BAIK 
UNTUK PERTUMBUHAN SABDA TUHAN


Bacaan 1, Yes 55,10-11; Mzm Tggp: 64; Bacaan 2: Rom 8,18-23; Injil: Mat 13,1-23

INTRODUKSI
Irene, berusia 4 tahun dan tinggal di sebuah kampung di pegunungan. Suatu hari, Irene diajak oleh pamannya untuk jalan-jalan ke pasar dan kebetulan masuk ke salah satu toko mainan anak-anak untuk membeli boneka.
Setelah membeli dan membayar boneka itu, Irene segera keluar dari toko mainan itu, dan seketika itu juga pamannya melihat bahwa Irene keluar tanpa sendal di kakinya. Melihat itu, pamannya bertanya: “Irene, di mana sendalmu, nak”? Dan Irene menjawab dengan polos, “Itu ada di pintu keluar, dan saya sudah melepaskan tadi di situ”. Rupaya Irene ingat kata-kata ibunya bahwa, jika memasuki rumah orang, maka sendal di kaki harus ditanggalkan di pintu dan dilarang untuk dibawa masuk ke rumah. Nasihat itu rupanya terus diingat dan akhirnya dihayatinya sampai Irene berumur lebih dari 4 tahun.
Kisah lain lagi yang nyaris sama, yaitu teknisi radio SUAKA, pak Louis, yang selalu melepaskan sendalnya di pintu masuk ke ruang makan pastoran....

URAIAN KITAB SUCI
Bap ibu, hari Minggu Biasa ke-15 ini, kita mendengarkan kisah tentang penabur benih. Baik bacaan pertama dan terutama Injil pada hari ini, mengajak kita untuk menyediakan hati dan pribadi kita sebagai lahan untuk persemaian Firman-Nya sendiri.
Bacaan pertama dari Kitab Nabi Yesaya, adalah sebuah teks pendek yang berbicara tentang hubungan antara hujan dan tanah yang subur. Nabi Yesaya mengatakan bahwa tanah akan dapat subur, jika terdapat hujan yang baik yang mengairi tempat atau areal tanah tertentu. Hujan akan selalu ada, entah tanah itu baik atau tidak, siap atau tidak, untuk membasahi tanah dan menyuburkannya. Selain itu, air hujan itu tidak tinggal menetap di situ, namun dia akan mengalir dan membasahi areal tanah itu dan menyuburkan tanam-tanaman, dan tanam-tanaman itu akan bertumbuh dan berbuah.
Nah, Nabi Yesaya mau mengatakan bahwa dan menuntut bangsa Israel untuk menyiapkan hati dan pribadi mereka sebagai lahan yang baik, yang siap sedia mendengarkan Firman Tuhan serta melaksanakannya. Sikap-sikap bersungut-sungut dan protes kepada Tuhana hendaklah dihindari, dan tanamkanlah sikap rendah hati untuk mendengarkan Firman Tuhan, dan janganlah memperlakukan Firman Tuhan itu berlalu tanpa bekas, atau hanya sekedar cerita-cerita tanpa makna.
Dalam bacaan Injil juga, bapa, ibu dan saudara/i. Yesus menyampaikan kisah tentang penabur dan tentang benih yang ditaburkan. Namun, Injil Matius bukan mau mengajak kita untuk menjadi penabur yang baik, entah huruf “p” itu ditulis dan dipahami dengan huruf kecil atau huruf besar, tetapi yang ditekankan Matius ialah tanah yang bakal digarap dan yang sudah ditaburi dengan benih itu. Yesus di sini mau menguji dan menggugah kebijaksanaan batin kita. “Bila melihat benih yang jatuh di tanah yang begini atau begitu, bagaimana reaksi kita”?
Pendengar diajak untuk melihat bahwa terdapat dua macam tanah, yang baik dan yang tidak baik. Ada tanah yang dapat memberikan hasil dan ada tanah yang mandul. Penyebab tanah yang mandul bermacam-macam: kehilangan benih, memang kersang, atau ditumbuhi semak berduri. Dalam konteks Injil Matius, tanah yang mandul ini ialah orang-orang yang tidak bersedia menerima Yesus dan pewartaannya. Mereka itu disebut kaum Farisi. Orang Farisi ini sebenarnya pernah dihimbau Yohanes Pembaptis agar menghasilkan buah sesuai dengan perubahan sikap ("pertobatan") yang mereka niatkan ketika minta dibaptis olehnya (Mat 3:8), namun mereka menolak Yesus. Mereka itu tanah yang sudah disemai benih tetapi tidak bisa menikmati pertumbuhannya karena sudah kehilangan benih itu sendiri. Mereka itu juga tanah kersang, bahkan tanah yang hanya bisa ditumbuhi duri. Lalu siapa tanah yang subur? Dalam Mat 12:50 Yesus berkata, "Siapa saja yang melakukan kehendak Bapaku di surga, dialah saudaraku laki-laki, saudaraku perempuan dan ibuku." Mereka yang menjalankan kehendak Bapa-Nya menjadi tanah yang memberi hasil. Arti "menjalankan kehendak" itu ialah menuruti, mendengarkan. Jelas mendengarkan Bapa berarti menerima yang disampaikan olehNya kepada manusia, yakni Yesus sendiri. Orang Farisi menolaknya, karena itu mereka jadi tanah mandul. Para murid menerimanya dan mereka menjadi tanah subur bagi benih sabda.
Dalam ay. 18-23 perumpamaan tadi diterapkan pada kehidupan iman para pengikut Yesus:
v  Orang dihimbau agar menjadi tanah yang subur yang memungkinkan benih tumbuh dan berbuah berlipat ganda. Juga diajarkan bagaimana menjaga agar sabda yang telah ditaburkan tidak hilang atau terhimpit.
v  Bila disadari bahwa benih sabda terancam si jahat (ay. 19), maka orang perlu berjaga-jaga agar benih itu tidak gampang terampas. Secara tak langsung diajarkan agar siapa saja yang mau menjadi murid berani mengusahakan agar semakin banyak benih menemukan tanah yang baik dan tidak membiarkannya tinggal di tanah kersang atau lahan yang beronak duri dan berkeras kepala mengharapkan tanah seperti itu akan bisa membaiki.
v  Tanah kersang dijelaskan sebagai penganiayaan dan intimidasi yang sering dialami kaum beriman. Apa yang bisa diperbuat? Pendengar diminta berpikir. Bisa jadi sikap paling bijaksana ialah secara proaktif mencegah terjadinya keadaan itu. Bila toh terjadi, keadaan sulit tak selalu perlu dihadapi secara frontal. Ada kalanya lebih baik menghindarinya. Beriman tidak identik dengan jadi pahlawan atau martir. Kita dihimbau agar menemukan kebijaksanaan dalam beriman. Dengan demikian kita akan pandai-pandai menghadapi "kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan" yang menghimpit benih sabda (ay. 22).
Penjelasan Yesus berakhir dengan pernyataan bahwa tanah yang baik itu ialah orang yang "mendengar sabda dan mengerti" dan karena itu dapat berbuah berlipat ganda (ay. 23). Bagi mereka yang mengusahakan diri menjadi murid dan pengikutnya, ikhtiar yang sesuai kiranya terletak dalam usaha membuat tanah yang telah ditaburi benih betul-betul menjadi lahan subur. Bila perlu mencari tanah yang lebih baik. Mengerti juga berarti mengusahakan agar tokoh yang mereka ikuti, yakni benih yang tersemai dalam diri mereka, semakin menjadi bagian dalam kehidupan.

KESIMPULAN
Bapa, ibu dan saudara/i terkasih...
Sabda Tuhan akan selalu datang kepada siapa, kepada kita semua. Entah kita siap atau tidak, entah kita suka atau tidak, namun Sabda Tuhan itu akan tiba-tiba kita dengar. Sabda itu bisa melalui Firman Tuhan yang kita dengar dalam bacaan-bacaan Kitab Suci, bisa juga melalui kata-kata nasehat dan juga bimbingan orang tua atau orang lain kepada kita.
Terhadap Firman Tuhan ini, kita diajak untuk mendengarkan, mencermati dan melaksanakannya untuk kebaikan kita. Semuanya tergantung kepada kebebasan kita, apakah kita menyediakan hati kita untuk menjadi tanah yang subur, atau tanah yang berbatu-batu, tanah yang penuh duri, tanah yang tandus. Tentu Yesus mengajak kita untuk menjadikan hati kita seperti tanah yang subur, yang siap menerima sabda Tuhan, meresapkannya, dan melaksanakannya dalam hidup.
Pertanyaan untuk kita, manakah tanda-tanda bahwa hati kita dan pribadi kita telah menjadi tanah yang subur, yang telah membiarkan Firman Tuhan itu bersemai, bertumbuh dan berbuah dalam hidup kita? Amin

Telukdalam, 13 Juli 2014

Minggu, 17 Agustus 2014

Minuman Soda Bantu Singkirkan Asam Urat



Minuman berkarbonasi alias minuman bersoda selama ini sering dihindari karena dianggap kurang sehat. Padahal, minuman yang punya efek menyegarkan ini juga bisa membantu mengurangi tumpukan kristal asam urat. 

Menurut Prof Made Astawan, ahli gizi dan pangan dari Institut Pertanian Bogor, minuman bersoda bersifat basa sehingga reaksi dengan asam urat yang bersifat asam akan menghasilkan garam. Hal tersebut sesuai dengan prinsip kimia, senyawa basa dicampur dengan senyawa asam akan menjadi netral ditambah garam. 

"Penumpukan kristal asam urat diubah menjadi garam yang kemudian bakal dikeluarkan dari tubuh dari kotoran," tutur Made dalam seminar kesehatan bertajuk "S.O.D.A (Smart on Doing Activity) - Jangan Takut Makan Enak", Rabu (3/7/2013), di Jakarta. 

Kendati demikian, minuman bersoda pun tidak boleh dikonsumsi berlebihan. Kandungan gula yang tinggi dalam minuman bersoda jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup bisa berujung ada obesitas dan pelbagai penyakit lainnya. 

Penyakit asam urat merupakan akibat dari konsumsi makanan-makanan yang tinggi kandungan purin, seperti makanan yang berasal dari tubuh makhluk hidup. Purin diolah tubuh menjadi asam urat, tetapi jika kadar asam urat berlebih ginjal tidak mampu mengeluarkannya sehingga kristal asam urat menumpuk di persendian. 

Gejala yang umum timbul dari penyakit asam urat antara lain rasa nyeri, bengkak, dan meradang di persendian. 

Konsumsi makanan yang disarankan bagi penderita asam urat antara lain makanan tinggi potasium, seperti kentang atau pisang, dan makanan tinggi vitamin C, seperti buah jeruk, buah naga, atau tomat. Serta makanan yang mengandung karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau roti gandum.
Sumber: kompas.com

PSL

5 Faktor Pemicu Asam Urat


Rasa nyeri akibat serangan asam urat bisa membuat kita sulit beraktivitas. Asam urat atau gout sebenarnya merupakan salah satu jenis radang sendi yang disebabkan penumpukan kristal urat sehingga timbul peradangan. Selain karena faktor makanan, penyakit ini juga bisa dipicu oleh lima faktor berikut:


1. Usia
Gout lebih banyak ditemukan pada orang berusia 45 tahun ke atas, meski tak sedikit juga orang yang baru menginjak usia 30 tahun sudah menderita asam urat.

"Semakin tua seseorang, risiko menderita asam urat akan semakin besar," kata Theodore Fields, MD, profesor dan ahli sendi. Pasalnya, usia yang menua berarti fungsi ginjal berkurang. Hal ini berakibat pada kadar asam urat yang bertambah. Obat-obat yang dipakai seiring bertambahnya usia juga dapat meningkatkan risiko terkena asam urat.

2. Jenis kelamin
Penderita penyakit ini kebanyakan memang laki-laki. Ketika gout menyerang di usia muda, penyakit ini bisa berkelanjutan hingga seumur hidup. Laki-laki memang memiliki asam urat yang lebih tinggi ketimbang wanita, kata Dr Fields. Hormon estrogen pada wanita cenderung melindunginya dari asam urat sejak anak-anak. Namun, setelah menopause, risiko terkena asam urat menjadi sama dengan kaum pria.

3. Kondisi kesehatan
Orang yang mengidap penyakit lain cenderung terkena asam urat, misalnya kegemukan atau diabetes. Penderita obesitas punya risiko empat kali lebih besar menderita asam urat dibanding yang berberat badan normal.

Resistensi insulin dan diabetes juga memicu terbentuknya asam urat karena kondisi tersebut mengganggu fungsi ginjal. Penderita tumor ganas pun juga dapat mempunyai kadar asam urat yang tinggi.

4. Konsumsi alkohol 
Minuman beralkohol juga bisa membuat Anda merasakan sengatan nyeri asam urat. Walauwine tidak membuat asam urat, tapi tidak demikian halnya dengan bir. Jika Anda sudah terdiagnosis memiliki kadar asam urat yang tinggi, mulailah menghentikan kebiasaan minum. 

5. Obat-obatan
Beberapa jenis obat-obatan juga dapat meningkatkan risiko terserang gout. Misalnya, obat diuretik, aspirin, atau obat untuk keperluan transplantasi. Memang beberapa jenis obat tersebut penting dan tidak bisa dihentikan. Solusinya adalah mengonsumsi obat tambahan yang bisa menurunkan kadar asam urat. Konsultasikan hal ini kepada dokter.
Sumber: kompas.com (kolom kesehatan)

PSL

5 Tipe Orang yang Paling Rentan Bunuh Diri

Kematian seseorang yang disebabkan bunuh diri tentu menyebabkan luka mendalam sekaligus mengejutkan bagi orang terdekatnya. Seperti kabar kematian aktor dan komedian Robin Williams yang menuai duka dari keluarga, teman, dan orang-orang yang mengenalnya.
Bunuh diri umumnya adalah hasil dari kondisi depresi, suatu perasaan sedih luar biasa sehingga tidak mampu lagi merasakan arti hidup. Dalam kondisi depresi, seseorang akan mengalami kekacauan pikiran, perasaan, dan tindakan. Karena tak bisa lagi menikmati hidup, keputusan bunuh diri sering dianggap menjadi jalan pintas terbaik.
Namun ternyata di samping depresi, bunuh diri juga dapat terjadi pada orang-orang dengan kepribadian dan perilaku tertentu. Lantas, seperti apa tipe orang yang mengindikasikan risiko bunuh diri yang tinggi?
1. Perokok

Merokok tidak hanya merusak kesehatan fisik, tetapi juga mental. Peneliti dari Washington University School of Medicine menemukan, peningkatan pajak harga rokok berhubungan dengan penurunan kasus bunuh diri di suatu daerah. Mereka menyimpulkan, merokok berhubungan dengan tindakan nekat tersebut. Diperkirakan dampak merokok terhadap bunuh diri berhubungan dengan sifat adiksi yang diberikan rokok.

2. Remaja dengan gegar otak

Cidera otak karena trauma dapat merusak kesehatan saraf remaja yang masih bertumbuh. Sebuah studi baru-baru ini menemukan, gegar otak juga berhubungan dengan kematian dini, yang paling sering adalah akibat bunuh diri. Remaja yang mengalami gegar otak tiga kali lebih mungkin untuk bunuh diri.

3. Pemusik

Steve Sack, direktur di Center for Suicide Research dan profesor di Wayne State Uniersity menjelaskan, laju bunuh diri di antara pemusik tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional. Ini karena pekerja seni, termasuk penulis, aktor, atau pelukis, lebih rentan terpapar depresi dan pikiran-pikiran bunuh diri.

4. Dewasa dengan asperger

Sindrom asperger merupakan salah satu gangguan spektrum autis. Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang mengalami kesulitan berkomunikasi dan gangguan perilaku. Sebuah studi baru-baru ini pada populasi di Inggris menunjukkan, orang dengan asperger sembilan kali lebih mungkin untuk memikirkan bunuh diri di beberapa titik dalam hidupnya. Ini mungkin dikarenakan mereka cenderung merasa depresi akibat isolasi sosial, kesepian, tidak berprestasi, dan pengangguran.

5. Remaja yang diadopsi

Banyak remaja yang diadopsi yang menunjukkan tanda-tanda gangguan psikotik sekaligus penyalahgunaan narkoba. Sebuah studi baru-baru ini yang melibatkan remaja asal Minnesota mengungkapkan, 47 dari 56 kasus bunuh diri dilakukan oleh remaja yang diadopsi. Ini biasanya dipicu oleh perselisihan keluarga, stres akademis, perilaku lingkungan, dan moodnegatif.
Sumber:  www.medicaldaily.com

PSL

RETREAT TAHUNAN KAPAUSIN KUSTODI GENERAL SIBOLGA 2023

  Para saudara dina dari Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga, pada tanggal 6 s/d 10 Noveember 2023, mengadakan retreat tahunan yang dilaksa...