Sabtu, 25 Januari 2014

CONTOH KERANGKA TULISAN ILMIAH HASIL PENGAMATAN

MINAT REMAJA DI NIAS TERHADAP KESENIAN TRADISIONAL,
SUATU TINJAUAN KASUS TERHADAP TARI MAENA DAN MOYO
Oleh Karina La'ia


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penelitian

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Hakikat Kesenian Tradisional
2.2.1  Maena
2.2.2  Moyo
2.2  Kelompok Masyarakat Kesenian Tradisional
2.2.1  Kelompok Pendukung
2.2.2  Kelompok Bukan Pendukung
2.2.3  Kelompok Acuh Tak Acauh


BAB III
PROSES PENELITIAN

3.1  Lokasi Penelitian
3.2  Cara Pengambilan Data
3.3  Cara Menganalisis Data


BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1  Hasil Observasi
4.2  Hasil Angket
4.3  Hasil Wawancara
4.4  Analisis Data
4.4.1  Maena
4.4.2  Moyo


BAB V
PEMBAHASAN

5.1  Hasil Observasi
5.2  Hasil Angket


BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1  Kesimpulan
6.2  Saran

(Sumber: Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI, KTSP 2006. Penerbit Erlangga, hlm. 138 sd 143)

Minggu, 05 Januari 2014

Penampakan Tuhan - 5 Januari 2013

Kotbah HR Penampakan Tuhan, 05.01.2013 - A
Bacaan Pertama       : Yesaya 60,1-6
Mazmur Tggpn       : 71
Bacaan Kedua          : Efesus 3,2-3a.5-6
Bacaan Injil             : Matius, 2,1-12


Kerinduan terdalam akan Allah

EXORDIUM:
Ada sebuah kisah yang menceritakan seorang bapa (orang kudus) imam yang kebiasaannya naik ke menara Gereja dengan maksud supaya dekat dengan Tuhan. Dia meniru Musa yang naik ke Gunung untuk menyatakan kabar sukacita kepada umatnya. Suatu hari dia merasa bahwa dia mendengar suara Tuhan tetapi tidak terlalu jelas. Oleh karena itu dia memanjat dan naik ke menara Gereja. Setelah sampai di atas, dia berteriak ,”Di manakah Engkau Tuhan? Saya tidak mendengar suara-Mu dengan jelas?” Lalu Tuhan menjawab teriakan bapak itu, “Saya ada di bawah, di tengah-tengah teman-temanmu pak. Emang bapak ada di mana?”

CORPUS
Penampakan Allah melalui Tanda-Tanda
Menarik sekali melihat bacaan Injil pada hari ini yang mengisahkan tentang bagaimana bintang berperan dengan sangat baik, untuk menghantar ketiga orang majus itu menemui dan mempersembahkan harta-harta berharga mereka kepada bayi Yesus yang baru lahir itu.
Hal yang sangat menonjol dalam Injil ialah bintang. Dikatakan menonjol karena bintang menjadi penentu dari kepercayaan mereka bertiga dan diyakini mampu membawa mereka kepada seseorang yang sedang mereka cari: bayi Yesus.
Di wilayah Babilonia dan Persia dulu, sekarang Irak & Iran utara, ada orang-orang bijak yang mahir dalam ilmu perbintangan. Mereka biasanya juga berperan sebagai ulama agama setempat. Matius menyebut mereka sebagai "orang-orang majus". Dalam kisah ini mereka mewakili orang-orang bukan Yahudi yang datang dari jauh untuk menghormati dia yang lahir di Betlehem yang bakal menjadi pemimpin umat manusia. Kebijaksanaan para majus ini membawa mereka ke sana.
Bintang adalah tanda atau symbol kehadiran ilahi yang siap menuntun manusia di daerah Timur Tengah untuk memperoleh sesuatu yang sangat berharga. Ketiga orang majus juga percaya bahwa kehadiran bintang yang tiba-tiba itu memberikan sebuah perubahan dalam pencarian mereka akan seorang Raja yang sedang dinantikan orang banyak.

Para Majus: Mewakili bangsa-bangsa di luar Yahudi.
Matius penginjil sengaja menampilkan ketiga orang majus ini untuk mengajarkan kepada umatnya bahwa Allah hadir tidak hanya di Israel, di wilayah bangsa Yahudi, melainkan Allah hadir untuk seluruh dunia, untuk seluruh umat manusia. Allah bukanlah Allah yang egois, tetapi Allah yang terbuka kepada keselamatan seluruh bangsa.
Para majus sebenarnya mewakili kita semua yang non Israel, yang memiliki kerinduan mencari dan bertemu dengan Tuhan, yang merasa tidak puas jika belum bertemu dengan Tuhan, walaupun hanya melalui tanda-tanda, atau peristiwa atau kejadian setiap hari.
Kerinduan itu digambarkan oleh bacaan pertama, di mana bangsa-bangsa bukan Yahudi akan datang berduyun-duyun ke Sion untuk menyembah Allah” dan malah dalam Injil yang lain dikatakan Yesus sendiri: “akan tiba saatnya bahwa orang tidak akan menyembah Allah di gunung ini, tetapi juga di tempat-tempat yang lain”.

Persembahan: Membuka sebuah Pemberian Tulus Kepada Tuhan
Kita kenal juga nama ketiga orang majus dari timur itu: Gaspar, Baltasar dan Melkior dan mereka membawa mur, emas dan kemenyan. Di sini Matius mau menggarmbarkan kemuliaan Kristus sebagai Tuhan yang hadir untuk seluruh bangsa. Dan bangsa-bangsa menanggapi penampakan itu dengan memberikan apa yang paling berharga dalam hidup mereka yaitu, mur, emas dan kemenyan. Inilah bentuk pemberian dari hati, pemberian yang tidak punya harapan untuk dikembalikan, pemberian yang tidak mengharapkan balasan, dan bentuk pemberian atau persembahan inilah yang disebut dengan persembahan tulus, persembahan dari hati, persembahan yang semata-mata menyenangkan Tuhan dan sesama umat manusia.

Keselamatan: Terbuka kepada Bangsa-Bangsa
Melalui kisah penampakan ini, Injil dan Yesaya serta Rasul Paulus mau mengatakan bahwa, sejak kelahiran Yesus, keselamatan itu diperuntukan kepada seluruh manusia. Keselamatan itu diadakan Tuhan untuk semua manusia, tetapai apakah dalam bentuk gratis atau bagaimana?
Melalui peristiwa bintang, Matius mau mengatakan bahwa keselamatan itu ada pada semua manusia, tetapi dia akan bekerja efektif jika orang yang bersangkutan mau mendengarkan Allah yang berbicara melalui tanda-tanda atau kejadian-kejadian serta berusaha melaksanakannya; bukan hanya mendengarkan, tetapi juga mencari dan mendapatkan serta menyembahnya.

CONCLUSIO
Melalui bacaan-bacaan kitab suci yang kita dengarkan pada hari ini, mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal penting untuk pertumbuhan iman kita:
  1. Allah berbicara kepada kita melalui penampakkan-penampakkan yang terjadi dalam kehidupan harian kita. Kata-kata dan nasehat sesama (orang dekat atau orang jauh) adalah bukti kehadiran Allah yang berbicara kepada kita. Menghadapi ini, kita kadang meremehkan orang itu karena mungkin statusnya sangat rendah, tidak ada apa-apanya dalam masyarakat. Menghadapi ini, kita seharusnya berusaha untuk melihat hal-hal baik dalam diri sesama, serta berusaha untuk melaksanakannya untuk kebaikan kita.
  2. Bacaan-bacaan kitab suci juga mengajak kita untuk memiliki kerinduan mendalam untuk mencari dan menjumpai Allah. Kita percaya bahwa Allah ada di mana-mana. Tetapi dalam pengertian kita dikatakan bahwa Allah itu ada di dalam Gereja. Pertanyaannya: apakah kita sudah memiliki kerinduan yang sangat untuk selalu berjumpa dengan Yesus dalam diri sesama dan juga dalam rupa ekaristi setiap hari dan setiap hari minggu yang kita rayakan? Atau justru kita sebenarnya tidak memiliki kerinduan itu? Jika kita punya kerinduan itu, kita tidak perlu mencarinya ke atas atap, atau ke atas menara, tetapi kerinduan untuk mencari Allah yang hadir dalam diri orang-orang yang hidup bersama kita (dalam diri istri, suami, anak-anak, rekan kerja, dll) karena melalui merekalah Allah menyapa kita, Allah menampakkan diri kepada kita semua.
  3. Melalui bacaan-bacaan hari ini, kita diajak untuk bisa memiliki sikap terbuka untuk mengulurkan bantuan, entah berupa apapun itu, dan terutama kepada orang-orang yang secara material dan spiritual miskin, dan kita melakukannya secara tulus, tanpa ada maksud untuk mendapatkan balasan dalam bentuk lain atau bentuk yang sama. Ketulusan dalam memberi adalah sebuah keutamaan kristiani yang patut kita kembangkan selalu.

Telukdalam, 5 Januari 2014
Email: giuslay.zone@gmail.com

Senin, 30 Desember 2013

Maria Bunda Allah: Kotbah Tahun Baru, 1 Januari

Kita semua kenal pipa air. Kita juga kenal St. Maria yang menjadi Ibu Yesus. Yang menjadi pertanyaan di awal renungan ini adalah: Apa persamaan antara Pipa dengan St. Perawan Maria Bunda Allah? Persamaan antara Pipa dengan Sta. Perawan Maria Bunda Allah sebetulnya terletak pada : Perannya sebagai penyalur.

Pipa Air berfungsi menyalurkan air dari sumbernya sampai ke dalam rumah sehingga seluruh anggota keluarga dalam rumah boleh menikmati air dari sumbernya melalui pipa tersebut.

Sta. Maria Bunda Allah adalah penyalur rahmat dari Tuhan sebagai sumber rahmat sempurna kepada semua manusia sehingga manusia mengalami keselamatan dalam Yesus.

Sebagai penyalur, ada satu ciri yang ada dalam dirinya. Pipa air sebagai penyalur air dari sumber air kepada manusia, tidak pernah mengeluh dalam memberikan diri sebagai tempat aliran air yang memuaskan dahaga manusia melintas batas, tanpa membeda-bedakan.

Bunda Maria sebagai penyalur rahmat, tidak ingat diri, tidak egois, selalu mengingat dan mengutamakan keselamatan banyak orang, mengutamakan kebaikan banyak orang, mengutamakan kesejahteraan banyak orang, mengutamakan kedamaian dan kebahagiaan banyak orang.

Pada Hari Raya St. Perawan Maria Bunda Allah ini, kita menyadari Bahwa Tuhan Yesus adalah rahnat terbesar yang Tuhan berikan kepada kita untuk keselamatan universal, melalui Bunda Maria Bunda Allah.

Tuhan Yesus Kristus disebut sebagai Adam Baru, sangat berbeda dengan Adam Pertama yang disebut sebagai Adam Lama. Adam Lama memporakporandakan Firdaus yang indah sempurna yang diberikan Tuhan, dengan dosa egoisme dan kesombongannya. Sedangkan Yesus Kristus sebagai Adam Baru, menciptakan kembali Firdaus yang telah hilang itu, dan membuka pintu bagi banyak orang untuk masuk di dalam Firdaus Baru di dalam diriNya.

Yesus Kristus adalah Penyalur Rahmat dari Tuhan kepada manusia dan menjadi pintu bagi manusia menuju Tuhan di dalam Surga, melalui Korban di Salib, wafat, dan bangkit pada hari ketiga.


Kita masuk Tahun Baru dengan Pribadi Baru. Syaratnya satu,  jadikan diri penyalur rahmat bagi sesama. Sesama itu adalah keluarga besar Timor di Timika. Sesama itu adalah Keluarga kita di Timor yang kita tinggalkan. Sesama itu adalah mereka yang ada di sekitar kita lintas batas.

Untuk itu kita harus korban. Korban pikiran, tenaga, dan materi. Ini kita miliki berarti kita adalah manusia baru di tahun baru. Kita harus korban dalam kehidupan sosial masyarakat, maupun dalam kehidupan iman kita, untuk kepentingan bersama.

Dasar korban kita adalaha Iman kita akan Yesus yang berkorban bagi keselamatan kita. Maka kita pun harus berkorban untuk keselamatan sesama. Dengan itu kita merayakan Tahun Baru Pribadi Baru.

Maria Bunda Allah

PENGANTAR
Tahun Masehi dimulai dan dirayakan pada tanggal 1 Januari, seminggu sesudah kelahiran Yesus. Secara liturgis hari ini masih termasuk dalam Oktaf Natal. Sebelum Konsili Vatikan II hari awal Tahun Baru Masehi dirayakan sebagai Pesta Sunat Yesus dan sebagai Pesta Nama Kudus Yesus. Sesudah KV II hari ini dirayakan sebagai Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Dan juga disebut sebagai Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian. Kalau Gereja memberi pelbagai nama kepada Tahun Baru, bukankah itu suatu ajakan kepada kita sebagai orang Kristiani, untuk bukan hanya merayakan Tahun Baru secara profan lahiriah betapapun meriahnya, namun juga bahkan terutama sebagai Hari Raya Rohani?

HOMILI
Di dunia Bagian Timur pemberian nama kepada anak adalah ungkapan ciri khas pribadi, hidup dan perbuatan, yang diharapkan dari anak yang dilahirkan. Yesus dalam kata asli Ibrani atau Aramais berarti “Yahwe menyelamatkan”.

Sesudah Konsili Vatikan II pada tanggal 1 Januari selanjutnya setiap tahun dirayakan Hari Raya Bunda Maria Bunda Allah. Kata Maria berasal dari kata Ibrani Miriam, yang mungkin berasal dari kata Mesir, yang berarti “yang dikasihi”. Dalam kenyataannnya Maria adalah teladan pendengar asli sabda Allah. Ia menerima dan taat sepenuhnya akan sabda Allah, walaupun ia tidak tahu bagaimana sabda ilahi itu akan menjadi kenyataan. Maria tidak selalu mampu memahami sabda Allah itu lewat segenap hidup Yesus. Namun penuh kepercaya-an dan keyakinan Maria selalu setia akan jawabannya “Fiat”, “Terjadilah padaku”, yang disampaikannya kepada malaikat Gabriel. Maria selalu “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:1). Baru sekitar tigapuluh tiga tahun di kemudian hari, pada hari Jumat siang di Kalvari, di kota Yerusalem, Maria dapat mengalami dan menghayati tanggung-jawabnya sepenuhnya atas “Fiat”, “Ya, terjadilah padaku” yang diucapkannya.

Maria adalah Bunda Yesus Penebus kita. Memang peranan Maria sebagai Bunda Penebus bukanlah peranannya sebagai Penebus itu sendiri. Namun seluruh umat manusia, kita semua ini, ditebus dan diselamatkan oleh Yesus berkat kerelaan dan kesediaan Maria menjadi Bunda Yesus sebagai manusia seperti kita!

Karena itulah Gereja mengajak kita umat kristiani pada awal tahun 2013 ini mengarahkan perhatian kita kepada Maria Bunda Allah, Bunda Yesus Kristus dan Bunda kita, agar ia menyertai kita dalam menempuh perjalanan hidup dan pelaksanaan tugas panggilan kita dengan sikap dasar hatinya: Fiat! Kita diajak untuk melangkah ke depan dengan kesediaan hidup dan bertindak seperti Maria!

Renungan ini diambil dari kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm link: http://imankatolik.or.id/homili_mgr_hadisumarta_ocarm.html

Sergius Lay

Minggu, 29 Desember 2013

Keluarga Kudus Nazareth, 2013 - A

EXORDIUM:
Kita semua hidup dan bertumbuh di dalam keluarga. Dan bagaimana situasi dalam keluarga kita, kita semua bisa mengalami sendiri. Namun secara umum, kita sering mendengarkan situasi kehidupan berkeluarga, baik kita sendiri maupun orang lain.
Karena itu, tidak heran jika kita mendengar cerita dan melihat dari dekat bahwa keluarga si A itu selalu rukun, baik, selalu bersama-sama kalau bepergian, ada doa bersama waktu makan dan sebelum dan setelah bangun tidur, dan lain-lain. Tetapi tidak heran juga kita dengar dan kita lihat bahwa ada keluarga yang tidak akur, tidak pernah ada makan bersama dalam keluarga setelah 5 atau 6 tahun menikah, bertengkar terus setiap hari, masing-masing tidak tahu siapa pergi ke mana dan kapan juga kembali, ada juga salah seorang dari mereka yang lari kembali ke rumah orangtuanya, ada juga yang disebut dengan single parent, ada juga kekerasan dalam rumah tangga, dan masih banyak lagi.
Hari ini, Gereja Katolik kita memestakan hari Keluarga Kudus Nazareth. Pesta Keluarga Kudus Nazareth ini ditetapkan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1893 yang dirayakan antara tanggal 7 sd 13 Januari setiap tahunnya. Namun sejak tahun 1969, dirayakan pada hari Minggu Pertama setelah Natal, antara Natal dan Tahun Baru.
Paus Leo XIII menetapkan Hari Raya Keluarga Kudus dengan maksud agar semua orang dan keluarga Katolik, terutama setelah Natal, bisa sebentar mengarahkan perhatian mereka secara khusus kepada hidup keluarga kudus di Nazareth sebagai model atau contoh kehidupan keluarga mereka.
  
CORPUS
Bagaimana bacaan-bacaan pada hari mengajarkan kita tentang ciri khas dari hidup keluarga kudus itu?
Bacaan pertama dari Kitab Putera Sirakh, mengatakan bahwa ciri bahwa sebuah keluarga adalah “keluarga kudus”, ditandai kesetiaan dan ketakwaan anak-anak dalam menghormati ibu-bapanya. “Barang siapa menghormati bapanya memulihkan disa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta… barang siapa memuliakan bapanya, akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan akan menenangkan hati ibunya. Tekanan utama yang menjadi ciri dari keluarga kudus dalam bacaan pertama ialah sikap dari anak-anak untuk menghormati, menghargai dan dan mengasihi orangtua secara tulus. Kekudusan seorang anak ditandai dengan sikap-sikap tersebut dan mewarnai seluruh hidup dan pertumbuhan anak dalam keluarga.
Dalam mazmur juga mengatakan tentang ciri dari keluarga kudus itu. Dikatakan bahwa sebuah keluarga disebut sebagai keluarga kudus, kalau seorang istri dapat tumbuh subur bagaikan pohon anggur, anak-anak selalu mengelilingi meja bagaikan tunas zaitun dan seorang suami adalah orang yang sungguh-sungguh bertakwa kepada Tuhan, yang takut akan Tuhan dan yang selalu melaksanakan perintah-perintah Tuhan.
Rasul Paulus dalam bacaan kedua, menasihati jemaatnya yang ada di Kolose untuk menghidupi keutamaan-keutamaan dalam hidup berkeluarga dalam nama Yesus Kristus. Keutamaan-keutamaan itu antara lain: mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Paulus juga mengajar suami, istri dan anak-anak untuk bisa melaksanakan tugasnya masing-masing sesuai dengan kewajibannya.
Dan seluruh ciri dari keluarga kudus yang dikatakan oleh kitab Sirakh, Mazmur dan Paulus tadi terangkum sungguh-sungguh dalam kehidupan keluarga Yusuf, Maria dan Yesus; yang selalu disebut dengan keluarga Nazareth.
  
KELUARGA NAZARETH
Yusuf Pelindung dan Penurut
Dalam Injil Matius, Yusuf dilihat sebagai seorang suami yang penurut terhadap apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Tidak tidak pernah protes dalam melaksanakan perintah Tuhan, walaupun itu hanya melalui mimpi. Ketika Tuhan menyuruh dia untuk mengambil Maria sebagai istri, dia laksanakan. Ketika disuruh untuk bawa ke Mesir dan kembali dari Mesir anak dan istrinya Maria, juga juga ikut saja.
Sikap Yusuf juga nampak bahwa dia sebagai seorang suami dan ayah yang selalu melindungi Maria dan Yesus. Ketika ada ancaman dari Raja Herodes, dia cepat mengikuti perintah Tuhan untuk menyelamatkan Maria dan Yesus ke Mesir.
Maria: Penurut dan Perawat
Sejak Maria diperkenalkan oleh malaikat bahwa Ia telah mengandung dari Roh Kudus, Maria dikenal sebagai seorang pribadi yang bersahaja, pendiam (tidak banyak bicara) tetapi justru menyimpan semua perkara di dalam hatinya, setia merawat dan membesarkan bayi Yesus itu. Di hadapan Tuhan Maria adalah pribadi yang penurut dan pendengar setia.
Selain itu, Maria juga setia membesarkan dan mendidik Yesus sebagai pribadi yang kokoh dan kuat. Kita tahu bahwa selama 12 tahun, Yesus hidup dan bertumbuh bersama Maria dan Yusuf dan tentu, Yesus dididik dan dirawat dengan sangat baik. Anak yang baik dan sukses muncul dari orangtua yang setia merawatnya dengan setia, sabar dan bertanggung jawab.
Yesus: Penurut dan Taat
Sementara tentang Yesus sendiri tidak banyak dikatakan sampai DIA berumur 12 tahun. Hanya di bagian lain dari Injil dikatakan bahwa, Yesus bertumbuh dan menjadi dewasa di dalam keluarga Yusuf dan Maria. Tetapi kita bisa bayangkan bahwa kalau Yesus bisa menjadi seorang pribadi yang kuat dan dewasa karena dididik dan dibesarkan secara baik dan secara bersama-sama oleh Maria dan Yusuf.

CONCLUSIO
Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Kenapa keluarga Yusuf dan Maria disebut keluarga kudus? Apakah karena mereka tidak pernah cekcok? Apakah karena mereka selalu rajin pergi ke sinagoga atau apakah mereka tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidup berkeluarga? Saya yakin bukan! Mereka disebut Keluarga Kudus karena hadir di sana, Yesus Kristus Putra Allah. Kehadiran Yesus menguduskan hidup keluarga itu secara lahir maupun batin. Suasana hidup keluarga dipengaruhi oleh kasih dan damai yang dibawa Yesus.
Oleh karena itu, kalau kita orang-orang percaya ini mau menjadikan keluarga kita sebagai keluarga kudus, pertama-tama bukan berarti keluarga kita harus bebas dari salah, bukan berarti tiap-tiap anggota tidak melakukan kekeliruan, melainkan keluarga kita mau menerima serta membiarkan diri dipengaruhi oleh Yesus, yang kita imani.
Yang paling penting ialah bagaimana kita berusaha untuk menciptakan sebuah sebuah keluarga (dan juga komunitas) sebagai Gereja mini dan rumah makan mini di dalamnya ada doa, ada makan bersama, ada cerita bersama, ada saling menghormati, patuh, setia, dan lain sebagainya. Keluarga bukanlah sebuah apartemen, di mana masing-masing boleh datang, tidur, makan dan pergi seenaknya, tapi keluarga adalah sebuah kebersamaan di dalam Allah, kebersamaan di dalam Kristus.
Dan salah satu tugas kita semua ialah bagaimana membuat semua anggota keluarga kita untuk merasa nyaman dan memiliki kerinduan untuk pulang dan tinggal di dalam rumah keluarga kita.
(Mereka tidak lepas dari segala persoalan, Yusuf dan Maria yang selalu berkorban, dan taat kepada kehendak Tuhan)
(beri contoh tentang sikap anak-anak)


Telukdalam, 29 Desember 2013

Sabtu, 28 Desember 2013

Keluarga Kudus Nazareth, Model keluarga Bahagia

Manusia seringkali terperangah dengan sistem dan cara kerjanya sendiri. Bahkan tidak jarang pula manusia jatuh dalam pemiskinan dan arogansi moral yang berlebihan. Anak-anak yang mulai khawatir bahkan lari dari kehidupan orang tuanya. Ayah, ibu, maupun anak-anaknya mulai bertindak tanpa dilandasi dengan sebuah nilai-nilai moral yang benar. Pimpinan yang selalu menuntut ini dan itu tanpa dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasionalistis. Anggota-anggota Gereja yang mulai enggan untuk mengikuti kegiatan peribadatan, dan lain sebagainya. Terhadap fakta-fakta ini Romo Magnis Suseno, S.J.  mengatakan demikian: “manusia mewujudkan nilai moral bukan dengan memperhatikan realitas  melainkan dengan bertekad untuk  bertindak secara moral. Dalam dunia kersang bebas tanpa nilai itu kehendak bergerak secara lepas, terisolasi tanpa substansi, bak bayang-bayang berpegang pada bayang-bayang, sebuah solipsisme moral yang menyedihkan”.
Kita umat Kristiani turut prihatin atas kemerosotan-kemerosotan yang terjadi akhir-akhir ini. Atas dasar sebuah realitas dan fakta yang demikian perlulah kita menggali kembali apa yang menjadi pedoman dan spiritualitas dalam melakukan sebuah karya pelayanan baik dalam keluarga, komunitas, Lingkungan tempat tinggal maupun dalam lingkungan kerja. Kita perlu menimba kembali hal-hal yang menjadi dasar spiritualitas kita dalam melakukan sebuah karya pelayanan, dalam memaknai kehidupan. Bertepatan dengan hal tersebut, dalam bulan Desember ini kita merayakan dua perayaan besar yakni perayaan Natal dan Tahun Baru   dan pesta Keluarga Kudus Nazareth. Karena itu dalam artikel kecil ini saya mencoba untuk menggali Spiritualitas Keluarga Kudus Nazareth dalam kerangka karya pelayanannya di dunia ini.
Hakekat Keluarga
Keluarga merupakan persekutuan antara orang tua dan anak-anak. Keluarga dapat disebut sebagai lembaga sosial alami. Sebab kebutuhan dan keterikatan anak-anak, kasih sayang dan usaha-usaha alami dari orangtua serta ikatan-ikatan darah dengan semua kekerabatan badani dan rohani mampu menyatukan dan melampaui berbagai macam rintangan. Sasaran dan tugas-tugas keluarga ini berupa membesarkan anak-anak serta memperhatikan kebutuhan sehari-hari para anggotanya.  Dapat kita katakan bahwa terdapat 3 fungsi utama keluarga yakni Pertama,  keluarga adalah satuan ekonomi dasar. Sebagai satuan ekonomi dasar keluarga menyediakan bagi manusia kebutuhan sehari-harinya akan makanan, perumahan dan pakaian. Semua yang termasuk dalam keluarga bersangkutan dan yang mampu menyumbangkan kerja atau pendapatan mereka untuk perawatan rumah tangga diharapkan terlibat dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga tersebut.
Kedua, Keluarga adalah satuan pendidikan dasar. Perkembangan intelektual dan moral pribadi manusia amat bergantung pada pendidikan di dalam keluarga. Dalam keluarga inilah masing-masing individu anak menerima pengetahuan dan pemahaman pertama tentang dunia di sekitarnya. Dalam keluarga inilah mereka pertama kali diajarkan tentang cinta kasih timbal balik tanpa pamrih. Di dalam kehidupan keluarga ini juga mereka mengalami berbagai macam nilai-nilai kehidupan seperti keadilan, kesediaan untuk menolong sesama, tenggang rasa, kejujuran, keikhlasan, ketekunan dan lain sebagainya.  Pendidikan yang dialami ini tidak hanya dirasakan oleh pihak anak semata tetapi juga membawa serta pengaruh edukatif bagi orang tua itu sendiri. Orang tua ditantang untuk menampilkan kemampuan dirinya yang terbaik guna menggapai tujuan agung dan mulia yakni sebuah keluarga yang bahagia. Tanggungjawab orang tua merupakan suatu stimulus bagi orang tua itu sendiri. Demikianlah “anak-anak dengan cara mereka sendiri ikut serta menguduskan orang tua mereka” (GS 48).
Ketiga, Keluarga adalah persekutuan spiritual dasar bagi manusia. Kehidupan keluarga yang berlandaskan pada kasih, kepercayaan, penghormatan dan penghargaan dapat membawa sebuah wahana spiritual. Di sana terdapat sebuah sikap yang saling bertukar pendapat, keyakinan, nilai dan tingkah laku, sharing pengalaman kegembiraan dan dukacita, keberhasilan dan cobaan, kerinduan untuk berkomunikasi, bersahabat, keindahan, permainan,dan rekreasi. Hal-hal tersebut   tidak ditemukan dalam kelompok manapun selain mendapat kepenuhannya yang paling dasar dalam lingkaran orangtua, saudara-saudari dan sanak kerabat. Keluarga menyediakan sentuhan pribadi, lingkungan insani yang hangat, persahabatan dan kasih sayang yang sangat dibutuhkan orang dimana saja. Keluarga adalah rumah tangga iman yang dipanggil untuk mewariskan iman para leluhur, membudidayakan tradisi keagamaan serta menterjemahkan keyakinan-keyakinan religius ke dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tradisi dan perayaan ini memberi kepada keluarga suatu cita rasa keikatsatuan dan jati diri religius.

Keluarga Kudus Nazareth
Dalam lingkup keluarga,  Yusuf, Maria dan Yesus mengalami dan merasakan kepenuhan akan kebutuhan jasmani maupun rohani yang sangat mendalam. Berdasarkan pada latarbelakang masing-masing, mereka diutus untuk bersatu membentuk sebuah keluarga baru yang di dalamnya saling memberi dan menerima, mendidik dan dididik. Mereka saling belajar satu sama lainnya baik dalam menyelesaikan berbagai macam masalah kehidupan maupun dalam meningkatkan perkembangan rohaninya. Walau mereka memiliki keterikatan batin yang kuat namun ketiganya tetaplah pribadi-pribadi yang tidak melebur dalam pribadi yang lainnya. Masing-masing tetap memiliki kekhasannya, pribadi yang mandiri dan utuh serta yang memiliki perannya masing-masing. Dalam pemahaman yang lebih jauh, mereka memiliki kesamaan  problem yang membutuhkan keterlibatan dari masing-masing pribadi mereka. Kepadanya, masing-masing mereka harus mampu mengambil sebuah tindakan tegas untuk ikut serta dalam karya keselamatan Allah atau tidak. Karena itu dalam kebebasan, tanpa paksaan dari apapun  dan siapapun keputusan penting harus mereka ambil. Sambil berdiri dihadapan misteri Ilahi, mereka menemukan bahwa mereka hanya mempunyai satu hidup yang harus dihidupi yakni hidup demi Allah. Menerima kenyataan tersebut dan menghayatinya berarti mereka menerima rahmat dan menemukan bahwa semua yang dari kehidupan adalah baik.
Kehadiran Keluarga Kudus Nazareth ini diawali dengan memperlihatkan tokoh Yusuf keturunan Daud yang kemudian menurunkan daftar silsilah Yesus. Laki-laki yang rendah hati ini berdiri pada awal dan fajar keselamatan. Dialah yang menurut hukum Yahudi memberikan kaitan Yesus dengan umat Israel. Pribadi Yusuf  dipilih Allah untuk menjadi ayah biologis dari Yesus. Pilihan Allah terhadap Yusuf ini tidak hanya didasarkan pada sebuah  sikap kebetulan semata, yang pada waktu itu dia sedang bertunangan dengan Maria tetapi juga karena merupakan rencana yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri. Injil Matius menegaskan bahwa manusia Yesus termasuk  dalam deretan keluarga-keluarga dan generasi-generasi Daud yang rajawi, ahli waris janji-janji mesianik. Seorang Mesias yang akan datang berasal dari keturunan Daud (Mat 1:1-17). Tokoh Yusuf kemudian dihadapkan pada sebuah pilihan hidup yang sangat penting. Ikut terlibat dalam tawaran yang telah Allah berikan kepadanya, yakni untuk menjadi Bapa bagi penyelamat dunia ataukah tidak. Allah memberikan kebebasan kepadanya untuk memutuskan apakah ia tetap mengambil Maria sebagai istrinya dengan konsekuensi bahwa menerima Maria yang telah mengandung ataukah tidak. Berkat kekuatan dan peneguhan malaikat yang datang melalui mimpinya, ia memutuskan untuk tetap mengambil Maria  sebagai istrinya. Kepercayaan dan penyerahan diri secara total dalam rencana karya penyelamatan Allah ini memberikan konsekuensi kepadanya untuk berani bertanggungjawab terhadap keputusan yang telah dipilihnya tersebut. Sebagai seorang kepala keluarga ia harus mampu menjaga, melindungi, mendidik dan memberikan nafkah kepada keluarganya. Kenyataannya bahwa Ia dengan setia dan penuh iman menaruh seluruh kepercayaannya kepada Allah. Bersama Maria istrinya yang sedang mengandung, ia pergi ke Bethlehem untuk mendaftarkan diri kepada Kaisar dan mencari penginapan bagi istrinya untuk melahirkan Putra pertamanya. Dalam pencariannya, tidak satupun tempat penginapan yang mau menampung istrinya sehingga kandang dombapun dijadikannya sebagai tempat penginapan. Tidak hanya itu, sesudah kelahiran puteranya, ia diajak Tuhan untuk membawa keluarganya ke tanah Mesir yang kemudian menetap di Nazareth. Dengan kata lain, berkat kesetiaan, kepercayaan dan penyerahan dirinya secara total kepada Allah,  Ia memberanikan dirinya untuk mau menanggung segala resiko dan terus menerus mencari kehendak Allah bagi dirinya.
Maria, yang dalam kerendahan hatinya, mampu menjadi suri teladan bagi keluarganya. Maria adalah makhluk yang tiada duanya dalam dirinya sendiri dan yang mempunyai relasi dengan Allah  secara istimewa. Maria dilukiskan oleh para penginjil sebagai seorang tokoh yang unggul. Keunggulannya nyata dalam cara hidup dan sikap hatinya yang miskin serta rendah hati di hadirat Allah (Luk 1:38). Para penginjil menyebut Maria sebagai kaum anawim yakni kaum yang merasa diri bukan apa-apa dan tidak mempunyai apa-apa di hadapan Allah. Semua harapan mereka ada di hadapan Allah dan hanya dalam Dia mereka mencari dan menemukan keselamatan kekal. Atas dasar imannya, Maria mengenal cara Allah terlibat dalam sejarah hidup umat pilihannya. Tindakan Allah seperti menciptakan alam semesta, membebaskan bangsa terpilih, penyeberangan laut merah, mukjizat-mukjizat di padang gurun dijadikan sebagai sasaran madah pujian bagi Allah (Luk1:46-55). Karena itu Allah berkenan memberikan kerelaan dan memberkatinya. Bentuk konkret rahmat Allah dan penyertaan Allah dalam dirinya dirasakan oleh orang lain. Melalui dirinya kehadiran Allah semakin dirasakan  melindungi, menyelamatkan, menggembirakan, dan memuaskan kerinduan. Elisabeth saudarinya menyebutnya berbahagia. Sebab, Allah telah mempercayakan tugas pelayanan yakni menjadi Bunda Ilahi dan rencana Allah tersebut diterimanya dengan rela hati.
Kesatuan Maria dengan Puteranya, Yesus Kristus terjalin dalam iman dan kasih (LG 53). Cinta kasih yang tiada taranya dan yang dibangun atas dasar penyerahan total kepada Allah. Walaupun kehidupannya begitu dekat dengan Allah dan Putranya Yesus, namun Maria yang bereksistensi di dunia tetap merupakan sebuah peziarahan iman. Artinya, Maria masih terus mencari jalannya rencana Allah yang tidak diberitahukan terlebih dahulu. Maria tidak pernah luput dari segala problem penderitaan dan godaan. Namun Ia menjadi teladan bagi para beriman sebab ditengah duka derita insani, ia tetap mempertahankan pengabdiannya kepada Tuhan. Ia tidak pernah melarikan diri dari kesulitan-kesulitan yang muncul sebagai konsekuensi imannya. Bahkan ia dituntut untuk tetap setia pada Tuhan hingga peristiwa penyaliban Puteranya dan Maria mampu melaksanakannya dengan sepenuh hatinya.
Yesus sebagai Putera dari Maria danYusuf  hidup dan dididik dalam pengalaman dan pengaruh iman yang teguh. Walau secara rohani Ia adalah Putera Allah, namun secara manusiawi Ia tetap tunduk dan taat kepada kedua orang tuanya.  Ia mau diasuh dan dididik oleh manusia dalam wujud Yusuf dan Maria. Secara ekonomis Ia tidak mengalami kekurangan sebab ayahnya seorang tukang kayu. Tukang kayu pada zaman itu seringkali digolongkan ke dalam kelompok kelas menengah ke atas. Secara pendidikan Ia dididik dan dibesarkan dalam tradisi Yahudi. Sehingga seluruh pengalaman inderawinya itu sungguh-sungguh terpatri dalam diriNya. Dan secara spirituil Ia sungguh merasakan cinta dan kasih yang begitu besar dari kedua orang tuanya. Cinta kasih yang mengarahkan dirinya untuk sungguh-sungguh mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah BapaNya melalui peristiwa penyaliban. Sebuah pengorbanan yang tak dapat dinilai dengan apapun. Cinta kasih inilah yang pada akhirnya menjiwai seluruh kehidupan pribadi dan ajaranNya.
Walau posisinya sebagai anak, namun Yesus tetap memberikan pengaruh positif bagi keluarganya. KedudukanNya sebagai Putera Allah meneguhkan Iman kedua orang tuanya. Kedua orangtuanya sungguh merasakan kehadiran Allah yang begitu dekat bahkan sekaligus terlibat aktif dalam kehidupan mereka. Di dalam keluarga yang sederhana itu, Allah Putra, Imam abadi utusan Bapa, menjadi manusia. Ia memancarkan cahya kabar gembira dengan tidak  membiarkan mereka menghadapi kesulitan dan tantangan hidup sendirian.
Atas dasar inilah hubungan cinta kasih timbal balik antara ayah, ibu dan anak terjalin. Keluarga Kudus Nazareth saling hormat penuh cinta, bersatu dan berdoa bersama. Dalam  keluarga Nazareth yang beriman itu, tampak gambaran manusia yang hidup dalam pelayanan, kerukunan dan kedamaian.  Yesus, Maria dan Yosef merupakan  pribadi-pribadi yang sungguh murni dalam kesetiaan, iman, pengharapan dan pelayanan. Mereka mampu menangkap dan menjawab panggilan Tuhan.

Cinta 
Gabriel Marcel menyatakan demikian  bahwa hubungan manusia dengan manusia lain selalu ditandai dengan kata “kehadiran”.  Kehadiran di sini tidak diartikan sebagai berada ditempat yang sama dalam kategori-kategori ruang dan waktu melainkan komunikasi antara dua orang  tanpa mencapai taraf kehadiran. Keduanya baru dapat dikatakan hadir bila mereka saling mengarahkan diri satu sama lain dengan cara yang berbeda dari cara mereka menghadapi objek-objek. kehadiran orang lain yang oleh Immnuel Levinas menyebutnya sebagai pertemuan kita dengan “mukanya” membawa kita melampaui ciri-ciri fisiknya. Dalam muka ini, orang lain menyatakan diri sebagai betul-betul yang lain dari saya. Muka sabagai muka ini tidak dapat kita kuasai, kita pegang (hidung, mulut) ataupun diperbudak. Hal yang dapat dilakukan berhadapan dengan muka ini adalah hanya dengan meniadakannya (ia dibunuh). Namun dalam ketelanjangan dan ketidakberdayaan muka itu menyampaikan himbauan ampuh yakni “jangan membunuh”. Karena itu, dalam setiap pertemuan dengan orang lain dan sebelum segala sikap dan komunikasi yang sengaja, kita berhadapan dengan tuntutan dasar etika yakni “Jangan Membunuh Aku!”.
Sebaliknya dalam pandangan satu-satunya yang membawa ke individu-individu tertentu hanya dapat ditangkap dan direalisasikan melalui dan di dalam yang oleh Max Scheler menyebutnya sebagai sikap cinta. Jadi nilai persona sebagai individu hanya dapat kita tangkap melalui cinta. Mencintai memberikan sebuah pendasaran melampaui segala rasionalisme-rasionalisme belaka (sifat-sifatnya perbuatannya, tindakannya, kelakuannya). Masing-masing fakta tersebut terus menerus berubah atau bahkan menghilang tanpa kita dapat berhenti mencintai pribadi itu. Karena itu alasan yang terus menerus berganti-ganti yang suka kita berikan kepada kita sendiri, mengapa kita mencintai seseorang, menunjukan bahwa alasan-alasan itu hanya dicari-cari belakangan dan diantaranya tidak ada yang sungguh-sungguh menjadi alasannya. Kesatuan persona yang dialami tidak dapat dikenal dan tidak dapat ditangkap dalam pengetahuan objektif semata. Persona hanya dapat kita tangkap apabila kita “ikut melaksanakan” sikap-sikapnya dari sudut pengetahuan dalam “pengertian” dan dalam “ikut mengalami” yang secara etis “menjadi pengikut”.

Pelayanan Kristiani
Dalam ajaran Kristiani, kasih kepada sesama mempunyai warna yang khas. Ketika ditanyai oleh seorang ahli Taurat, manakah hukum yang paling utama, Yesus menjawab: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu; itulah hukum yang pertama dan utama. Dan hukum yang kedua adalah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 22:37-39). Mengasihi Allah dan mengasihi sesama merupakan sebuah sikap yang dituntut oleh orang yang menyebut dirinya sebagai pengikut Kristus. Mengasihi Allah harus diimbangi juga dengan sikap mengasihi sesama. Sebab ia tidak mungkin mampu mengasihi Allah yang tidak dilihatnya sebelum ia mengasihi saudara yang dilihatnya. Karena itu Yesuspun berkata: “Aku mengasihi Allah dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta” (1Yoh 4:20).
Dalam kasih kepada sesama kasih kepada Allah menjadi nyata. Kasih kepada sesama merupakan pengejewentahan kasih kepada Tuhan. “Barang siapa mengasihi sesama manusia ia sudah memenuhi hukum kasih (Rm.13:8.10). Allah sungguh menjadi nyata dalam diri sesamanya. Maka ia ditantang untuk tidak hanya berhadapan dengan kehidupannya semata melainkan juga harus berhadapan dengan kehidupan orang lain. Ia harus “memandang sesama tanpa kecuali, sebagai dirinya yang lain terutama dengan mengindahkan perihidup beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan untuk hidup yang layak.” (Gaudium et Spes 27).
Henri J.M. Nouwen menyatakan setiap orang Kristiani adalah pelayan yang berusaha untuk hidup dalam terang Injil Yesus.  Pelayanan memuat pemahaman  bahwa sebuah usaha yang dilakukan sendiri, dengan kepahitan dan kegembiraannya, putus asa dan harapannya, siap dipakai oleh mereka yang ingin menggabungkan diri dalam pencarian itu tetapi tidak tahu jalannya.  Oleh karena itu pelayanan sama sekali bukanlah suatu hak istimewa. Sebaliknya pelayanan adalah inti hidup kristiani. Tidak seorangpun dapat disebut Kristiani  jika dia bukan seorang pelayan. Masing-masing orang Kristiani, imam dan umatnya dapat menjadi pembawa pelayanan dalam perubahan sosial tanpa harus terperangkap dalam manipulasi dunia yakni dalam bahaya kekuasaan dan kesombongan. Menurutnya terdapat tiga perspektif perubahan yakni Pertama, Perspektif Harapan. Pengharapan yang dimaksudkan bukanlah sebuah pengharapan yang bersifat fisik semata yakni berfikir agar apa yang diinginkan terpenuhi. Seolah-olah menantikan Santa Clause yang tugasnya memenuhi semua keinginan dan kebutuhan khusus. Jika keinginan konkret ini tidak terpenuhi maka kekecewaan, sakit hati, marah atau tidak peduli mulai menghinggapi dirinya sendiri. Dalam hal ini Nouwen mengkritik keras sikap para pelayan Kristiani dan imam yang menjadi korban dari cara berpikir ini. Karena itu menurutnya yang paling hakiki bagi harapan adalah menginginkan sesuatu, tetapi kita berharap pada. Dalam pengharapan orang tidak menuntut jaminan, tidak menetapkan sejumlah syarat untuk tindakannya, tidak meminta tanggungan tetapi menantikan segala sesuatu dari yang lain tanpa memberi batas pada kepercayaannya. Orang yang penuh harapan dapat memberikan seluruh tenaga, waktu dan kemampuannya bagi orang-orang yang dilayaninya. Dia tidak cemas akan hasil kerjanya sebab dia percaya bahwa Tuhan akan memenuhi janji-janjinya.
Kedua, Kesediaan menerima yang kreatif. Dengan mengembangkan kesediaan untuk menerima dalam diri sendiri maupun orang lain  seorang pelayan Kristiani dapat mencegah agar orang tidak jatuh dalam godaan kekuasaan.
Ketiga, Berbagi tanggung jawab. Menjadi pembawa perubahan sosial, berarti siap berbagi kepemimpinan dengan orang lain. Konsekuensinya bahwa tidak ada satu pemimpin yang bekerja sendiri tanpa melibatkan orang lain dalam pekerjaannya.
Atas dasar pelayanan kasih, pelayanan Kristiani akan mencapai puncaknya ketika teringat akan sabda Yesus “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13). Mengapa orang mau memberikan hidupnya bagi sahabat-sahabatnya? Satu jawaban yang dapatdiperoleh yakni untuk memberikan hidup baru. Semua funsi pelayanan adalah memberikan hidup baru. Semua bertujuan untuk membuka perspektif baru, menawarkan pemahaman baru, memberikan kekuatan baru, memutuskan rantai kematian dan kehancuran, dan menciptakan hidup baru yang dapat diakui. Dalam arti semua ini mengajar, berkotbah, pelayanan pastoral, berorganisasi dan merayakan merupakan tindakan pelayanan yang melebihi keahlian profesional. Sebab dalam tindakan-tindakan itu pelayan dituntut untuk memberikan hidupnya bagi sahabat-sahabatnya. Mengajar menjadi pelayanan jika guru melangkah lebih jauh daripada sekedar menyampaikan ilmu. Ia bersedia memberikan pengalaman hidupnya sendiri kepada muridnya sehingga kecemasan yang melumpuhkan dapat disingkirkan, pemahaman yang membebaskan dapat terjadi dan belajar yang sesungguhnya dapat berjalan. Kotbah menjadi pelayanan jika pengkotbah melangkah lebih jauh daripada sekedar “menceritakan kisah” dan membuat diri pribadinya yang paling dalam  tersedia bagi para pendengarnya mereka mampu menerima sabda Allah. Pastoral menjadi pelayanan jika  orang yang menyediakan dirinya untuk menolong melangkah lebih jauh dari sekedar menjaga keseimbangan antara memberi dan menerima. Kesediaan untuk mengambil resiko atas hidupnya sendiri dan tetap setia pada kawanannya yang menderita, juga kalau nama dan ketenarannya berada dalam bahaya. Organisasi menjadi pelayanan jika orang yang berorganisasi melangkah lebih jauh daripada sekedar menginginkan hasil yang nyata  dan memandang dunianya dengan harapan yang tak pernah padam untuk diperbaharui seutuhnya. Perayaan menjadi pelayanan jika orang yang memimpin perayaan melangkah lebih jauh daripada sekedar upacara-upacara yang memberikan rasa aman dan ketaatan aturan formalitas belaka menuju ke penerimaan yang taat kepada kehidupan sebagai anugerah. Oleh karena itu, kalau orang ingin menjadi seorang pelayan, hendaknya dia bergembira dengan membuat  kelemahannya menjadi kebanggaannya sehingga kekuasaanYesus tinggal dalam dirinya… karena jika ia lemah maka ia kuat. (2Kor12:9-10).

VIKTOR SATU  S.S.
Daftar Pustaka
Henri J.M. Nouwen, Pelayanan yang Kreatif, Kanisius 1986
Dokumen Konsili Vatikan II
Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi, Kanisius 1996.
Proff. Ignasius Suharyo, Pr., Dunia Perjanjian Baru, Kanisius 1991
Karl-Heinz Peschke, SVD., Etika Kristiani Jilid III: Kewajiban Moral dalam  Hidup Pribadi, Ledalero 2003
Etika Kristiani Jilid IV: Kewajiban Moral dalam  Hidup Pribadi, Ledalero 2003
K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX jilid II: Prancis, PT. Gramedia Pustaka Utama 1996.
A. Eddy Kristiyanto, OFM., Maria dalam Gereja: Pokok-Pokok Ajaran Konsili Vatikan II Tentang Maria dalam Gereja Kristus, Kanisius 1987
Franz magnis Suseno, Etika abad kedua Puluh, Kanisius 2006
Dr. Nico Syukur Dister, OFM., Kristologi: Sebuah Sketsa, Kanisius 1987.

Selasa, 24 Desember 2013

Kotbah Malam Natal - A (2013)


KESERHANAAN, KEGEMBIRAAN DAN KESELAMATAN

EXORDIUM:
Ada sebuah kisah menarik, yang saya dapat dari artikel on line. Begini ceritanya:
Tahun 1994 dua orang Amerika diundang oleh Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar moral dan etika berdasarkan Alkitab di sekolah-sekolah dan panti asuhan. Mereka menceritakan kisah Natal di sebuah panti asuhan. Untuk pertama kalinya anak-anak yatim piatu itu mendengar kisah Natal, yaitu perjalanan Maria dan Yusuf  ke Betlehem di mana mereka terpaksa harus menginap di kandang domba. Kemudian datanglah sekelompok gembala dan orang majus dari Timur untuk menjumpai bayi Yesus yang sedang tidur dalam sebuah palungan dan memberi hadiah kepadaNya. Sepanjang kisah itu diceritakan, baik anak2 maupun pengurus panti mendengarkan dengan khidmat. Untuk menghidupkan suasana malam Natal itu, setiap anak disuruh membuat palungan tempat Yesus dibaringkan.
Anak-anak itu pun membuat palungannya masing-masing. Suasana hening sejenak. Salah satu dari orang Amerika itu berjalan-jalan dan memperhatikan karya anak-anak itu. Ia tiba di tempat si kecil Jessica, seorang anak yang berusia 6 tahun. Saat melihat palungan yang dibuat oleh si kecil Jessica, ia terheran-heran. Mengapa ada dua bayi dalam satu palungan, bukankah seharusnya hanya ada satu bayi? Ia memanggil penerjemah agar me-nanyakan hal itu kepada Jessica. Sambil melihat palungannya, Jessica kecil mengulang kisah Natal itu dengan lancar. Memasuki bagian di mana Maria meletakkan bayi itu ke dalam palungan, Jessica bercerita dengan kalimat penutup yang dibuatnya sendiri. “Aku hadir di sana saat Maria menaruh Yesus di palungan. Yesus melihat aku dan bertanya apa aku punya tempat tinggal? Aku bilang, aku tak punya mama juga tak punya papa, jadi aku tak punya tempat tinggal sendiri. Yesus bilang aku sih boleh tinggal dengan dia. Tapi aku bilang, tidak bisa, aku kan tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah, seperti para gembala dan orang majus dari Timur itu. Tapi aku begitu ingin tinggal bersamaNya, aku ingin memberi apa yang aku miliki untuk dijadikan hadiah. Pikirku, kalau aku dapat membantu menghangatkan Dia, itu pasti jadi hadiah yang bagus. Aku bertanya pada Yesus, “Kalau aku menghangatkanMu, cukup tidak itu sebagai hadiah?” Yesus menjawab, “Kalau engkau menghangatkan Aku, itu bakal menjadi hadiah terbaik yang pernah diberikan siapapun kepadaKu.” Kemudian aku masuk dalam palungan itu, lantas Yesus mengajakku tinggal bersamaNya untuk selamanya.”

CORPUS
Sejarah keselamatan umat manusia adalah sejarah besar, sejarah agung yang terbentang dari Perjanjian Lama sampai ke Perjanjian Baru dan diteruskan ke jaman Gereja.
Namun seluruh proses sejarah itu dibingkai oleh sebuah rahmat besar, berkat besar, dan juga hadiah terbesar Allah kepada kita. Hadiah itu ialah Anak-Nya sendiri yang diberikan kepada kita, dan untuk mengajarkan kita seluruh kebajikan dan keutamaan yang membekali kita untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, Keluarga Allah.
Istilah “dianugerahkan” oleh Nabi Yesaya dalam bacaan pertama menunjuk kepada sebuah hadiah seorang anak kepada kita. Istilah “Rahmat” dala surat Rasul Paulus kepada Titus juga menunjuk kepada “hadiah” yang kini lahir, yang kini muncul atau yang kini hadir di tengah-tengah kita.  Dan kisah “kelahiran” Yesus dikadang Betlehem malam hari ini berdasarkan Injil Lukas, menunjuk kepada pemberian atau hadiah Allah terbesar yang disebut juga PENYELAMAT kita semua.


CONCLUSIO
Kehadiran Allah dan Ajakan Hidup Sederhana
Peristiwa kelahiran di Betlehem ialah peristiwa sederhana. Kesederhanaan itu terjadi dengan tidak diduga oleh para gembala. Kesederhanaan ini tampak dari Allah yang hebat dan besar itu hanya nampak dari diri seorang bayi mungil (seperti manusia) dan dilahirkan di kandang doma-domba. Keserderhanaan itu tampak dari situasi “tidak punya rumah, hanya di dalam palungan, ditemani oleh kedinginan, tidak banyak orang, ditemani nyamuk, dll”. Di sini Allah mengajak kita untuk melihat fakta bahwa Allah berbicara melalui kejadian-kejadian sederhana dan kita diajak untuk tanggap kepada hal-hal yang sederhana itu. Keserhanaan inilah yang seharusnya membuat kita semua bergembira dan bersukacita dan bersyukur dalam Allah. Tidak perlu menunggu kejadian dan keberuntungan besar dan kita baru bersyukur dan bersukacita.

Kehadiran Allah dan Pemberian Kehangatan
Kelahiran Allah dalam diri Yesus adalah sebuah pemberian kehangatan kepada dunia dan kita semua. Natal adalah peristiwa kegembiraan dan sukacita. Dan di mana ada sukacita dan kegembiraan, di sana tertemukan kehangatan. Setelah lama kita menunggu kelahiran Tuhan, maka malam ini, kita mendapatkan Yesus yang memberikan kehangatan kita: yang membuat kita bergembira dan bersukacita, yang membuat kita tertawa, yang membuat kita yakin bahwa kita tidak akan ditinggalkan, kita punya Allah yang berciri “Immanuel” dan selalu mendengarkan doa-doa kita. Jenis hadiah kehangatan macam manakah yang kita berikan kepada Yesus dan kepada sesama kita dalam hidup kita? Kehangatan yang membuat orang bersukacita dan bergembira, kehangatan yang memberikan rasa nyaman kepada sesama kita; atau kehangatan yang menghancurkan, kehangatan yang membunuh, kehangatan yang menciptakan kebencian dan iri hati?
Yesus yang lahir ini, adalah bentuk hadiah terindah, yang tidak akan pernah ada. Ketika Jessika, dalam cerita tadi, masuk ke dalam palungan Yesus, Yesus mengajak Jessica untuk tinggal dengan di dalam palungan selamanya. Jessica berhenti bercerita, matanya berkaca-kaca dan air mata membasahi pipinya. Kepalanya tertunduk dan seluruh tubuhnya bergetar, ia menangis dan menangis. Yatim piatu yang kecil ini telah menemukan seseorang yang tak akan pernah melupakan dan meninggalkannya, seseorang yang tinggal dan menemaninya untuk selama-lamanya.
Sudahkah Anda memberikan hadiah terbaik; yang menggembirakan dan memciptakan sukacita, bagi Yesus dan bagi orang-orang yang hidup bersama kita setiap hari?

Telukdalam, 24 Desember 2013

RETREAT TAHUNAN KAPAUSIN KUSTODI GENERAL SIBOLGA 2023

  Para saudara dina dari Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga, pada tanggal 6 s/d 10 Noveember 2023, mengadakan retreat tahunan yang dilaksa...