Minggu, 15 Desember 2013

Minggu Adven III - 2013 (A)


Adven: Penantian, Pengharapan Dan Kegembiraan


Bacaan Pertama, Yesaya, 35,1-6°,10
Mazmur Tggpn, 146
Bacaan Kedua, Yak 5,7-10
Bacaan Injil, Matius 11,2-11


EXORDIUM:
Hari ini adalah hari Minggu penantian, pengharapan dan kegembiraan. Seluruh masa Adven adalah masa penantian, doa, pengharapan, dan masa sukacita. Bagaimana dihadirkan bagi kita pengharapan dan kegembiraan ini berdasarkan sabda Allah pada hari Minggu ini?

CORPUS
Pengharapan dan kegembiraan itu nampak dari pewartaan Nabi Yesaya kepada bangsa Israel (bangsa pilihan Tuhan) dalam bacaan pertama, yang dilihat sebagai sumber kegembiraan itu. “Allah ikut campur tangan dan menyelamatkan bangsa-Nya setelah sebuah periode sulit yaitu sebagai budak di tanah pembuangan Babilonia serta situasi sulit yang sedang dikuasai atau dijajah oleh bangsa-bangsa sekitar, seperti bangsa Asiria.
Bangsa pilihan ini akan kembali ke Sion (tanah terjanji) dan Tuhan akan mengadili kepada semua orang. Dikatakan bahwa pada hari itu, orang-orang jahat akan mendapat pembalasan dan umat terpilih mendapat pahala / keberuntungan. Inilah bentuk jalan “keluaran” baru yang akan ditandai oleh penyembuhan-penyembuhan ajaib, yang mempersiapkan keselamatan itu. Tuhan akan datang memperkenalkan diri-Nya sendiri kepada bangsa pilihan-Nya serta menyelamatkan mereka. Ini adalah sebuah kegembiraan dan sukacita besar, namun masih dalam bentuk pengharapan dan penantian. Sukacita sejati itu belum secara penuh kelihatan, namun Yesaya meminta kepada bangsa pilihan ini untuk terus berharap dan membiarkan dirinya bertobat, kembali kepada jalan Allah, dan tidak hidup semakin jauh dari nilai-nilai Kerajaan-Nya. Karena itu, berharaplah da bersukacitalah senantiasa, bahwa Allah akan menyelamatkan dari segala penindasan, kesedihan dan tidak usah takut, sedih, lemah lesu.
Apa yang dikatakan oleh Nabi Yesaya tersebut, ditegaskan kembali oleh Matius pengarang Injilnya melalui bacaan Injil hari ini, bahwa pengharapan akan sukacita itu telah ada dan telah hadir dalam diri seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis. Dan itu dinyatakan dalam tanda-tanda yang mencengangkan, yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Tuhan adalah setia, yang melaksanakan keadilan bagi yang tertindas, memberikan makanan kepada yang lapar, membebaskan para tahanan, membuat orang buta melihat, membuat jalan orang-orang yang jatuh, mencintai orang-orang benar dan melindungi orang asing dan para janda, dan pemerintahannya adalah pemerintahan kerajaan keadilan.
Seluruh karakteristik ini ada dalam diri Yesus, dan karena ini didengar oleh Yohanes Pembaptis, maka ia mengutus murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus, “apakah DIAlah yang sedang dinanti-nantikan seperti yang dikatakan oleh Nabi Yesaya, atau justru harus menantikan seorang lain lagi”? Dan di sinilah Yesus mulai memperkenalkan diri-Nya sebagai seorang Anak Allah yang diwartakan oleh Yesaya dan Yohanes Pembaptis. “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat”. Dari sini Yesus memuji Yohanes dan memberikan gelar kepadanya sebagai seorang utusan yang mendahului-Nya, seorang nabi besar yang belum pernah ada sebelumnya, seorang yang datang lebih dahulu mempersiapkan jalan bagi-Nya; “Sesungguhnya di Antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes”. Namun di sisi lain, Yohanes juga memuji kehadiran Yesus, bahwa Yesuslah yang lebih besar: “Akan datang seorang yang lebih besar daripadaku; membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak”. Melihat sikap Yesus dan Yohanes ini, kita dapat melihat bahwa Adven adalah masa penantian, pengharapan dan sukacita untuk saling memuji, dan bukan untuk saling mengkritik.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Rasul Yakobus dalam bacaan kedua pada hari ini. Yakobus menasihati agar umatnya harus bersabar hati, sebab hari kedatangan Tuhan sudah mendekat. Tuhan yang adalah Hakim itu bukan hanya telah mendekat, tetapi justru telah hadir. Karena itu selain berharap dan menanti kedatangan Hakim yang adil itu, Yakobus mengajak umatnya untuk bersukacita. Tidak usah bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, tetapi bersukacitalah dan bergembiralah karena Tuhan sudah dekat dan malah sudah ada di tengah-tengah kita. Karena itu, Adven ialah masa penantian, pengharapan dan kegembiraan di dalam Tuhan.

 CONCLUSIO
 Masa Adven ialah masa penantian, pengharapan dan sukacita. Bagaimanakah cara kita menanti, bagaimanakah cara kita berharap, dan bagaimanakah cara kita bersuka cita dalam mengisi masa Adven itu?
  1. Kita masih di Masa Adven. Karena masa Adven ialah masa menanti dan berharap, maka marilah kita sungguh-sungguh mengisinya dengan sebuah penantian dan pengharapan. Dalam menanti dan berharap, kita mempersiapkan diri dengan baik, membuat diri bertobat dulu dengan baik, baru nanti bersukacita di hari pesta kelahiran Tuhan. Karena itu jangan kita cepat-cepat dulu merayakan Natal, sebelum kita bertobat, sebelum kita menata ulang pola hidup, tingkah laku dan pemikiran menjadi baik. Tidak enak merayakan Natal, jika hati kita belum bertobat. Tidak enak memasang lampu natal di pojok ruangan rumah kalau masih ada ganjalan-ganjalan kebencian yang melekat di hati kepada sesama kita. Tidak enak mendendangkan lagu-lagu natal sementara hati kita masih menumpukkan sikap egoisme dan sikap serakah terhadap sesama. Adven ialah masa penantian, pengharapan dan sukacita.
  2. Relasi dan sikap mengutamakan orang lain sebagai yang lebih besar dan lebih penting menjadi contoh pertobatan sejati untuk kita. Dalam hidup, kita sulit memuji orang lain, kita sulit mengakui keunggulan orang lain, kita sulit melihat bahwa orang lain lebih hebat dari kita sendiri. Dalam Injil, Yesus memuji Yohanes bahwa “dari antara semua yang dilahirkan dari peremuan, tidak ada yang lebih besar dari Yohanes”, tetapi di sisi lain, Yohanes juga telah memuji Yesus bahwa “akan datang yang lebih besar dari padaku, membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak”. Di sini kita diajak untuk memberi pujian kepada orang, walau hasil kerjanya sangat kecil. Kita lebih cenderung mencela orang lain, membusukan orang lain, menjatuhkan orang lain. masa Adven ialah masa di mana kita saling membuat satu sama lain untuk bersukacita, bukan masa untuk membuat orang lain stress atau tertekan batin.
  3. Masa Adven ialah masa pengharapan, penantian dan sukacita. Suatu hari, Juliana menerima karangan bunga segar di kantornya. Kaget , karena tidak ada peringatan pada hari itu, atau hari ulang tahunnya atau alasan lain untuk merayakan, ia mulai bertanya-tanya siapa yang mengirim karangan bunga itu. Dia mencoba berpikir, menelusuri kembali semua orang yang mencintainya. Tidak ada. Setiap hari saling menatap wajah, orangtua, teman-teman, saudara/i, rekan-rekan kantor, dan mencoba mengungkap misteri itu, tapi ia tidak bisa menemukan alasan yang cukup baik mendapat jawaban. Pada malam hari , ketika ia kembali ke rumah, telepon berdering. Wow, itu Carla, teman masa kecilnya . Dia berkata, "Saya telah mengirim bunga kepada Anda, saya melihat Anda merasa tertekan kemarin, karena tidak ada tiket untuk penerbanganmu ke luar kota. Karena Anda saya lihat tertekan, maka saya mengirimkan Anda karangan bunga yang indah itu. 
Telukdalam, 15 Desember 2013
PSL

Jumat, 13 Desember 2013

Sosok Guruku - Puisi Siswa

Cerah bersinar terlintas begitu terang
secangkir kopi ditiup seiring detik jam
Panas menebal aktifitaspun datang
Sebagai pembimbing penuh pertanggungjawaban

Apa yang engkau ucapkan
Semua yang engkau ajarkan
Adalah Amanah dan titipan

Hatimu senang saat aku bisa dan mengerti
Tapi rasa itu hilang saat aku menentang
Kerap kali aku membuatmu marah
Membuatmu membisu memikirkan aku

Bila tanpa dirimu jadi apa aku? Untuk apa aku?
Dan itulah aku
Seakan awan yang bergoyang
Tak tentu arah dan tujuan
Segenggam cerita terurai bagai tinta
Diukir pada selembar kertas
Suatu hari nanti aku merindukan sosok dirimu
Sesosok budi yang terpuji
Dana dalam lamunan, aku bercermin di atas lantai

Kemarin... Hari ini... Bahkan nanti
Goresanmu tak akan pernah luntur

Garis penaku terasa lelah dan kaku,
Seakan enggan menggores, Tapi tidak untuk spidolmu
Tak hentinya nmengisi kekosonganmu
Setiap kata demi kata tak akan putus akan tajamnya waktu
Jasamu akan terus tergores dalam terowongan waktu yang tak berujung

Hatiku begitu puas saat aku bisa menginjak bekas telapak kakimu
Menjadi sepertimu...
Guruku...

By. Sulastri Dakhi
Kelas XI-IPA,1 SMAS Katolik Bintang Laut - Telukdalam, Nias Selatan

Kamis, 12 Desember 2013

Minggu Adven II 2013


Bertobatlah! Kerajaan Surga Sudah Dekat!


Bacaan 1: Yesaya 11,1-10
Mzr : 72,1-2,7-8,12-13,17
Bacaan 2: Roma 15,4-9
Injil: Matius 3-1-12

Ajakan untuk bertobat

Salah satu kelemahan kemanusiawian kita ialah sulit mendengarkan nasihat dan ajakan. Ketiga bacaan kitab suci pada hari minggu adven kedua ini mengajak kita untuk memiliki sikap taat kepada nasihat dan ajakan sebagai bagian dari pertobatan kita. Pertanyaan besar kita ialah bertobat untuk apa? Matius mengajarkan kita bertobat untuk menyambut Kerajaan Allah yang sudah sangat dekat itu, yang dibawa oleh Yesus. Dan siapakah yang mewartakan kedatangan Kerajaan Allah ini? Yaitu Yohanes Pembaptis.
Yohanes Pembaptis ditampilkan sebagai tokoh penting dalam jaman peralihan: yaitu dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Yohanes ditentukan oleh Allah untuk mewartakan kedatangan Kerajaan Allah itu dalam diri Yesus Kristus sendiri, yang hadir dalam peristiwa kelahiran-Nya di Betlehem, yang akan kita rayakan tidak lama lagi.
Dalam bacaan Injil, Yohanes ditampilkan sebagai seorang yang terus berseru-seru, yang terus berteriak-teriak, yang terus mengajak, dan yang terus mendesak orang-orang pilihan Allah, yaitu bangsa Israel, untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kerajaan Allah itu.

Bersiaplah dan Bertobatlah
Yohanes Pembaptis tampil pada saat umat Israel sedang menantikan seorang Juru Selamat yang akan membebaskan Israel. Dan Yohanes Pembaptis tahu benar bahwa sang Almasih yang akan datang itu, adalah benar-benar seorang pribadi yang diingini dan dirindukan oleh bangsa Israel.
Inti warta Yohanes Pembaptis menurut Matius Penginjil ialah bersiaplah dan bertobatlah. Lain tidak, hanya bersiap diri dan bertobat. Namun warta dan teriakan Yohanes Pembaptis ini tidak didengarkan oleh bangsa Yahudi. Mereka hanya menantikan terus tetapi tidak mau mempersiapkan diri dengan baik untuk menyambut Kerajaan Surga itu sendiri.

Pengharapan Yang Mendalam
Teriakan dan seruan Yohanes Pembaptis dianggap kurang bernilai oleh bangsa Israel, dan karena itu Yohanes tetap konsisten berteriak sampai sungguh-sungguh bangsa pilihan itu mempersiapkan kedatangan Kerajaan Allah itu. Yohanes tahu bahwa bangsa pilihan Israel sedang memiliki sebuah pengharapan yang sangat dalam, akan kedatangan seorang nabi besar dari keturunan Isai untuk membebaskan mereka dari ketertindasan dan ketidakcukupan hidup. Dan itulah yang ditekankan oleh nabi Yesaya dalam bacaan pertama tadi.

Pada abad 8 sebelum Masehi, pengaruh militer adikuasa Asiria amat dirasakan di utara yaitu Samaria. Asiria berebut pengaruh dengan negeri adikuasa lain, yakni Mesir, di wilayah yang terjepit di antara keduanya yakni negeri Israel di utara dan Yehuda di selatan. Tentu saja di utara kehadiran militer Asiria lebih terasa. Penguasa kerajaan utara (pusatnya di Samaria) berupaya tidak terlalu berada di bawah pengaruh militer Asiria antara lain dengan bersekutu degan kerajaan selatan (Yehuda, pusatnya di Yerusalem), dan juga negeri adikuasa Mesir. Gerakan ini malah membuat Asiria semakin memperkuat pengaruhnya di utara dan akhirnya menganeksi seluruh wilayah itu setelah merebut Samaria pada tahun 722 dan mendeportasikan penduduknya ke wilayah-wilayah lain yang sudah dikuasai.

Demikian punahlah kerajaan utara. Keadaan ini mengkhawatirkan orang di selatan. Yehuda memang segera menjadi semacam negeri satelit Asiria meski masih memiliki pemerintahan dan pertahanan sendiri. Keadaan seperti telur di ujung tanduk ini menimbulkan kekhawatiran jangan-jangan nanti mereka mengalami nasib seperti kerajaan utara. Di dalam negeri sendiri ada pendapat macam-macam dan bahkan pertentangan. Dalam keadaan ini tampillah di Yesaya bin Amos, seorang intelektual yang dekat kalangan raja di Yerusalem. Ia berusaha membesarkan hati dan tidak membiarkan orang hidup dalam kekhawatiran melulu dan tubruk sana tubruk sini, kendati ia sendiri tentu sadar ancaman dari Asiria itu amat nyata. Dihidupkannya harapan akan seorang pemimpin yang bijaksana dari kalangan istana yang dapat memberi rasa aman kepada penduduk. Dan bagian yang dibacakan kali ini, Yes 11:1-11, ialah salah satu hasil karyanya yang paling memberi semangat dan harapan.

Yesaya mengatakan bahwa Immanuel itu akan hadir dari keturunan Daud dan akan meraja sendiri atas bangsa Israel. Tetapi bangsa Israel tidak mengakui dan tidak menerima semuanya. Mereka tidak mendengar kata nabi Yesaya. Banyak orang Israel yang mencoba menutup telinganya, dan terus asyik dengan hal-hal yang tidak perlu dalam hidup. Mereka tidak ingin mendengar ajakan Yesaya untuk mencintai kebenaran, kesetiaan dan keadilan. Seolah-olah mereka benci akan kesetiaan, mereka benci akan keadilan dan mereka benci akan kejujuran. Alergi rasanya mendengar kata adil, allergi mendengar kata jujur, dan allergi mendengar kata setia. Berkali-kalipun Yesaya mengajak mereka untuk percaya, tetapi mereka tidak mengikuti ajakan itu.
Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan Yohanes Pembaptis. Namun Yohanes tidak patah semangat, melainkan terus berusaha mengajak bangsa Israel untuk bersiap-bersiap dan bertobat, serta mengajak untuk meluruskan jalan bagi Tuhan yang akan datang itu. Yohanes Pembaptis menempatkan proyek pewartaannya itu sebagai primadona pewartaannya, sehingga dia mengatakan dengan bahasa yang sangat kasar, yaitu menilai bangsa Israel sebagai keturunan ular beludak. Penginjil Matius mau mengatakan bahwa bangsa Israel yang tidak mengikuti ajakan atau pewartaannya ialah sebagai “keturunan ular beludak”, sebuah kalimat yang kasar. Tetapi itu karena bangsa Israel tidak mau mendengarkan ajakannya.

Matius mau mengajak jemaatnya untuk percaya dan berharap akan seorang Penyelamat umat manusia. Dan itulah yang ditekankan oleh Paulus kepada jemaat di Roma dalam bacaan kedua bahwa umat kristen harus terus berharap akan kedatangan Yesus itu dan selalu bersiap-siap menyambut-Nya. Karena itu dibutuhkan sikap ketekunan yang terus menerus dan tidak santai dan terlena dengan apa yang enak dan asyik akan hal-hal duniawi yang sebenarnya tidak dapat menyelamatkan mereka.
Ketiga bacaan kitab suci serta mazmur pada hari Minggu kedua masa Adven ini mengajak kita untuk memahami dan melaksanakan beberapa keutamaan kristiani:

1. Ajakan untuk bersiap-siap dan bertobatlah. Dalam hidup, kita sering mendengarkan ajakan orang lain atau teman-teman kita di kantor atau di tempat kerja kita untuk menata hidup dengan lebih baik, apalagi ketika orang lain tahu bahwa cara hidup, cara bertindak dan kebijakan kita sudah tidak sesuai dengan norma-norma yang ada, alias sudah melenceng dari apa yang seharusnya kita kerjakan. Namun karena kita tidak suka, atau kita mau menutup hati terhadap ajakan itu, maka orang lain itu kita benci dan berusaha untuk menyingkirkannya dari lingkungan pergaulan dan kerja kita. (ada contoh)?

2.  Dalam masa persiapan ini, kita diajak untuk mengikuti warta nabi Yesaya, yaitu untuk selalu mengenakan pada diri kita keutaman kebenaran dan kesetiaan. Entah dalam situasi sulit, kita tetap diajak untuk mengutamakan kebenaran dan kesetiaan dalam setiap kebijakan yang kita ambil.

3.  Mengikuti ajakan rasul Paulus, bahwa kita juga diajak untuk selalu bermohon kepada Allah selama masa Adven ini, yaitu untuk selalu tekun  berusaha untuk hidup dalam kesatuan dengan teman-teman kita, dan bukannya berusaha menyingkirkan mereka dari hidup kita. Pertobatan berarti berusaha merangkul semua orang ke dalam lingkungan dan pergaulan kita dan bukannya menyingkirkan mereka.
Marilah kita bersama dan secara pribadi, berusaha untuk membuka telinga dan hati kita terhadap ajakan baik dari orang-orang lain, karena itu adalah ajakan Yohanes Pembaptis kepada kita semua pada hari Minggu ini. Amin

Telukdalam, 1 Desember 2013
Email: giuslay.zone@gmail.com

Catholic University Of America

Beberapa foto pribadi selama berada di Washington - USA, Agustus 2010.





Foto-Foto


Selasa, 10 Desember 2013

Menyongsong Kelahiran Kristus

Renungan minggu-minggu terakhir adven penuh pengharapan. Inilah sedikit renungan yang dapat bermanfaat.

Minggu, 08 Desember 2013

Pendidikan Ketrampilan di Sekolah

Perlu ya ada perhatian terhadap ketrampilan. Mungkin ini menjadi topik menarik juga tentang dunia pendidikan kita.

Kamis, 05 Desember 2013

Minggu Adven I - 2013

Berjaga-jagalah karena keselamatan kita sudah dekat


Hari ini adalah hari pertama dalam tahun baru liturgi Gereja Katolik. Selama tahun Baru Liturgi ini, kita akan sering mendengar hampir seluruh bacaan Injil pada misa hari minggu dan hari biasa dari Injil Matius.
Di hari pertama (minggu pertama) tahun liturgi ini, Gereja mengajak kita semua untuk merenungkan makna keberadaan kita sebagai orang beriman untuk berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan Anak Manusia, yang diartikan dalam tiga gagasan: 1) kedatangan Kristus untuk pertama kalinya melalui penjelmaan-Nya – kelahiran-Nya, 2) mempersiapkan kedatangan-Nya secara sakramental pada masa Natal, dan 3) mempersiapkan kedatangan-Nya pada akhir jaman. Matius mengartikan kedatangan Anak Manusia ini tejadi pada akhir jaman.

Ungkapan Anak Manusia
Ungkapan Anak Manusia dalam pembicaraan tentang akhir jaman, mengingatkan kita akan warta Nabi Daniel yang mengatakan kedatangan seorang Anak Manusia yang baru akan tampil setelah kekuatan-kekuatan jahat yang mengurung alam semesta ini punah. Bahwa dunia yang dikuasai oleh kekuatan jahat akan punah dan digantikan dengan kekuatan baik dan benar yang ada dalam diri Anak manusia itu. Anak Manusia baru yang dimaksud ialah Yesus, yang datang dengan kuasa Allah sendiri. Akan tiba saatnya nanti semua manusia akan menyepelekan dia, meremehkan dia, mengkhianati dia, tidak menghiraukan diri, dan pada saat itu mereka yang punya sikap-sikap seperti itu akan ketinggalan kesempatan. Tetapi kepada kita hanya diminta untuk “berjaga-jagalah dan bersiapsiagalah, karena keselamatan kita sudah dekat”.

Kedatangan Anak Manusia = Kedatangan Kerajaan Allah
Banyak isu, banyak gossip, banyak informasi, banyak khabar angin akan kedatangan Anak Manusia ini. Dan isu ini sering datang dari “orang pintar” yang seolah-olah tahu kapan persis kedatangan Anak Manusia itu. Mereka sering mengatakan kalau mereka itu tahu tanda-tandanya (gempa bumi, penyakit, kekacauan, dsb), tapi kenyataannya bahwa mereka justru tidak tahu, karena tidak pernah terjadi. Tetapi kepada kita hanya diminta untuk “berjaga-jagalah dana bersiapsiagalah, karena keselamatan kita sudah dekat”.
Kita tidak perlu memikirkan bagaimana tanda-tandanya (menghabiskan waktu saja), tetapi yang paling bijaksana ialah bagaimana kita berjaga-jaga menyongsong kedatangan Anak manusia itu. Matius hanya menggambarkan bahwa pada waktu kedatangan Anak Manusia itu, aka nada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain ditinggalkan; kalau ada dua wanita yang sedang memutar batu kilangan, yang satu akan dibawa dan yang lain ditinggalkan. Kedatangan-Nya itu seperti pencuri, yang tidak kita tahu kapan dia akan masuk ke rumah kita dan mencuri harta benda kita. Tetapi kepada kita hanya diminta untuk “berjaga-jagalah dan bersiapsiagalah, karena keselamatan kita sudah dekat”.
Karena itu, yang paling penting untuk menyikapi hari kedatangan Anak Manusia ini ialah, seperti yang dianjurkan oleh nabi Yesaya dalam Injil, untuk “naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita menempuhnya…, karena Ia akan menjadi hakim di Antara bangsa-bangsa dan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa”. Jadi kita tidak perlu repot menduga-menduga dan meramal-ramal, tetapi berjaga-jagalah dan bersiapsiagalah, karena keselamatan kita sudah dekat.

Anak Manusia adalah Kristus
Matius memaksudkan Anak Manusia ialah Yesus Kristus sendiri. Inilah salah satu gelar untuk Yesus yang ditulis oleh Matius, dan mengarahkan kita bukan terlebih kepada kedatangan pada hari Natal, 24 atau 25 Desember, melainkan kedatangan di akhir jaman. Kristuslah Anak Manusia itu, karena seluruh nubuat tentang Anak Manusia yang sempurna itu ada dalam diri Yesus Kristus sendiri.
Dan Matius juga menggariskan bahwa Anak Manusia yang adalah Yesus Kristus itu, akan datang sebentar lagi, tidak lama lagi. Karena itu kepada kita hanya diminta “berjaga-jagalah dan bersiapsiagalah, karena keselamatan kita sudah dekat”.

Hari ini kita memulai masa Adven, tahun baru Liturgi kita. Dalam Liturgi Tahun A, terutama pada masa Adven dan Natal, semua orang Katolik diajak untuk lebih merenungkan makna kedatangan Anak manusia atau Yesus Kristus itu pada akhir jaman.
1.       Memang kita perlu menyibukan diri dengan persiapan Natal, beli ini beli itu, buat ini buat itu, merencanakan yang hebat-hebat untuk pasar natal yang akan berlangsung sebulan, memasang lampu hiasan natal yang indah dan mempesona. Tetapi pada liturgi tahun A ini, kita diajak untuk lebih merenungkan kedatangan Tuhan Yesus pada akhir jaman.
2.       Kita perlu mencoba untuk mengisi masa-masa persiapan kedatangan Tuhan ini dengan apa yang disebut oleh nabi Yesaya dalam bacaan pertama, yaitu bahwa “mari kita naik ke gunung Tuhan”. Naik ke gunung Tuhan untuk lebih banyak berdoa, naik ke gunung Tuhan untuk lebih banyak bergaul akrab dengan Tuhan, naik ke gunung Tuhan untuk berkumpul dan mendengarkan firman-Nya, naik ke gunung Tuhan untuk meminta pertolongan-Nya, karena semua ini menjadi bekal untuk kita dalam menyambut kedatangan Anak Manusia.
“Berjaga-jagalah dan bersiapsiagalah, karena keselamatan kita sudah dekat”. psl

RETREAT TAHUNAN KAPAUSIN KUSTODI GENERAL SIBOLGA 2023

  Para saudara dina dari Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga, pada tanggal 6 s/d 10 Noveember 2023, mengadakan retreat tahunan yang dilaksa...