Minggu, 16 April 2023

BEDA GENERASI: KAMU TERMASUK GENERASI YANG MANA?


Beda generasi, beda pula cara ‘treatment-nya’. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menghadapi seseorang dari generasi tertentu agar tetap klop dan enak ngobrolnya. Perbedaan zaman dan peristiwa yang terjadi di setiap generasi mempengaruhi seseorang dalam menjalani hidupnya. Oleh karena itu, hal tersebut secara tidak langsung dapat memberi pengaruh terhadap pembentukan karakter maupun cara pandang seseorang mengenai segala sesuatu.

Seperti halnya yang dikemukakan oleh Dr. Alexis Abramson dalam laman BBC, seorang pakar yang dikenal sebagai ‘generational cohorts’ atau ‘pengelompokan generasi’, adanya pembagian generasi dikarenakan kapan kita lahir akan mempengaruhi perilaku, persepsi, nilai, dan kebiasaan. Dengan kata lain, setiap generasi memiliki karakternya masing-masing.

Di Indonesia pun ada pengelompokan generasi juga, lho. Generasi-generasi ini dibagi berdasarkan tahun kelahirannya. Berdasarkan Hasil Sensus Penduduk 2020 per September 2020 terdapat 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia. Penduduk tersebut terbagi kedalah 6 generasi berdasarkan tahun lahirnya.

1. Pre Boomer
Generasi pre boomers lahir sebelum tahun 1945. Jumlah generasi ini sebanyak 5,03 juta jiwa atau sekitar 1,87% dari total penduduk Indonesia pada tahun 2020. Dilansir dari rencanamu.id, pre boomers lahir di zaman ‘The Greatest Depression’ atau kekacauan ekonomi global. Karena kriris global inilah generasi pre boomers hidup dalam kekurangan. Pre boomers juga mengalami berbagai kejadian besar seperti great depression, Pearl Harbor, dan Perang Dunia II.  Oleh karena itu, pre boomers memiliki jiwa yang tangguh karena hidup di saat kondisi perekonomian global dalam situasi sulit akibat perang. Dari latar belakang tersebut, generasi pre boomers memiliki karakter sebagai berikut:

  • Mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi serta bertanggungjawab
  • Berjiwa patriotisme yang tidak perlu diragukan
  • Kurang berani berpendapat karena kebebasan berpendapat begitu dibatasi
  • Memiliki berbagai pengalaman yang melewati berbagai zaman
  • Taat hukum dan kewajiban
  • Sangat berhati-hati dan konservatif ketika membelanjakan uang
2. Generasi Baby Boomers
Generasi baby boomers lahir pada tahun 1946-1964. Di Indonesia, terdapat 31,01 juta jiwa (11,56%) baby boomers. Dikatakan sebagai generasi baby boomers karena pada saat itu terjadi lonjakan kelahiran yang tinggi setelah Perang Dunia II. Generasi ini lahir dan tumbuh ketika zaman belum modern dan minim lapangan pekerjaan sehingga membuat masa muda generasi baby boomers memiliki sifat kompetitif. 
Berikut merupakan karakteristik dari generasi baby boomers, di antaranya adalah:

  • Berkomitmen
  • Mandiri
  • Kompetitif
  • Mempunyai karakter yang matang karena ditempa oleh keadaan yang sulit
  • Tetap mempertahankan adat istiadat dang cenderung kolot 
  • Tidak suka terhadap kritik 
  • Pekerja keras dan pantang menyerah
  • Workaholic
  • Setia dan rela bekerja keras untuk anak-anak dan keluarga

3. Generasi X

Generasi X adalah generasi yang lahir pada tahun 1965-1980 dan menduduki peringkat ketiga dengan jumlah 58,65 juta jiwa (21,88%). Gen X lahir ketika teknologi sedang berkembang pesat na3. Generasi Xmun belum seperti saat ini sehingga familiar dengan dunia digital dan non digital. Selain itu, generasi X ditandai dengan pengalaman challenger disaster, perceraian, perubahan peran gender dalam keluarga, pertumbuhan teknologi dan personal computer (PC), serta perubahan peran gender dalam keluarga. (Nuritasari & Arwiyah, 2019). Menurut EF Blog, generasi ini terkadang disebut sebagai generasi pemalas, sinis, dan tidak puas. Namun, berlawanan dengan anggapan generasi-generasi sebelumnya pada generasi X, diperkirakan sebagian besar generasi X akan menghabiskan masa tua mereka sebagai orang yang aktif, bahagia, dan mencapai prinsip ‘work-life balance’. 

Adapun karakteristik dari generasi X adalah:

  • Lebih individualitas, pragmatis, sinis
  • Lebih toleran terhadap berbagai gaya hidup dan perbedaan kultur
  • Senang mengambil risiko dan mampu bertanggungjawab
  • Banyak akal atau cerdas (resourceful)
  • Logis (logical)
  • Pemecah masalah yang baik
4. Generasi Y
Sebanyak 58,65 juta jiwa (21,88%) penduduk yang lahir pada tahun 1981-1996. Generasi ini termasuk dalam generasi Y atau millennial. Kata millenial diciptakan oleh William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya, “Millennial Generation”. Alasan Gen Y disebut generasi millennial karena generasi tersebut adalah generasi yang pernah melewati millennium kedua sejak teori generasi ini pertama kali dikemukakan oleh Karl Mannheim pada tahun 1923.
Sebagai digital natives yang tumbuh bersamaan dengan munculnya teknologi informasi dan komunikasi membuat Gen Y mengenal gawai, mengakses komputer dan memiliki sosial media. Hal tersebut membentuk karakter yang kreatif dan inovatif dalam pemanfaatan teknologi.
Berikut adalah karakter dari millennial :
  • Milenial memiliki tingkat pendidikan yang baik, cerdas teknologi
  • Berani, inovatif, kreatif, dan modern.
  • Lebih terbuka terhadap perubahan
  • Jadwal kerja yang fleksibel
  • Pengembangan karier sebagai faktor yang penting 
  • Punya ekspektasi yang tinggi
  • Menuntut dapat jawaban yang instan
  • Berpikiran terbuka
  • Memiliki keterampilan yang beragam
  • Mampu mengerjakan pekerjaan yang banyak dalam waktu yang bersamaan
  • Tidak sabar
  • Partisipatif 
  • Tidak menganut paham hierarki atau level kekuasaan, yang berarti semua orang memiliki level yang setara sehingga mereka bersikap sama baik kepada atasan maupun rekan kerja
5. Generasi Z

Setelah generasi Y, muncullah generasi Z yang didominasi oleh kelahiran tahun 1997-2012. Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, Gen Z menduduki peringkat pertama dengan jumlah 74,93 juta jiwa (27,94%). Serupa dengan Gen Y, Gen Z juga tumbuh dengan teknologi, internet, dan sosial media sehingga dikenal sebagai generasi pecandu teknologi dan cenderung anti sosial. Gen Z juga sering kali disebut sebagai generasi influencer yang merupakan penduduk asli dari era digital.

Akrab dengan teknologi dan internet, membuat Gen Z kaya akan informasi. Namun, ketergantungan terhadap teknologi membentuk karakter yang keras kepala, suka sesuatu yang instan, dan selalu terburu-buru. Terbiasa berinteraksi dengan siapapun tanpa batasan membuat Gen Z lebih demokratis dan sangat kreatif dibanding dengan generasi sebelumnya.

Berikut merupakan karakter dari Gen Z:

  • Suka berkolaborasi dalam pekerjaan
  • Fleksibel
  • Menyukai tantangan dan dimotivasi oleh pencapaian
  • Suka mencari cara yang baru dalam menyelesaikan masalah.
  • Tech savvy (mahir teknologi)
  • Suka mengumbar privasi
  • Mandiri
  • Toleran
  • Suka berkomunikasi secara maya
  • Memiliki ambisi
6. Post Gen Z
Berbeda dengan generasi baby boomers, yang dinamai berdasarkan fenomena demografi yang unik, penamaan Gen X, Y, Z atau alpha menyediakan “kanvas kosong” di mana mereka dapat membuat identitasnya sendiri yang relevan dari periode generasi tersebut.  
Menurut dokumen yang berjudul “Understanding Generation Alpha” yang diterbitkan oleh mc Crindle, Gen Alpha mempunyai karakteristik sebagai berikut:
  • Adaptif
  • Bermain dengan permainan yang berbasis aplikasi
  • Lebih banyak waktu yang dihabiskan di depan layar
  • Pembelajaran berfokus pada mempelajari skill
  • Gaya bekerja yang kolaboratif
  • Gen alpha lebih mengutamakan pendidikan sehingga akan menginvestasikan waktunya lebih lama untuk menempuh pendidikan
  • Tidak membutuhkan struktur otoritas yang sama, hierarki, atau pendekatan kekuasaan tradisional karena generasi ini lebih kolaboratif
  • Generasi yang paling digitally savvy (paling mahir dunia digital)
  • Keterampilan interpersonal menjadi hal yang lebih penting dibandingkan generasi sebelumnya
Itulah keenam generasi yang ada di Indonesia beserta karakternya. Dengan mengenal karakter setiap generasi, kita dapat menempatkan posisi ketika bersosialisasi dengan generasi yang berbeda. Jadi, kamu masuk generasi yang mana?

(sumber asli dari: https://blog.ecampuz.com/6-macam-karakter-tipe-generasi-di-indonesia/)

Selasa, 04 April 2023

GURU AGAMA KATOLIK DI ERA MILLENIAL

 P. Sergius Lay, OFMCap

 1.             Catatan Pengantar

Dalam tahun-tahun terakhir ini, kita sering mendengar banyak ungkapan yang keluar dari mulut banyak orang tentang beberapa istilah yang populer dan familiar, seperti: “generasi milenial”, “generasi digital”, “generasi 4.0”, “generasi disrupsi”, dan lain sebagainya. Seluruh generasi itu dalam situasi yang sama, di jaman yang sama, yang sering orang sebut dengan “zaman now”.[1]

Sebagai calon dan juga yang sedang aktif sebagai pendidik agama katolik, baik dalam lingkungan pendidikan formal, non formal maupun informal, Guru Pendidikan Agama Katolik (Guru PAK) memiliki kewajiban untuk mengerti dan memahami karakteristik peserta didik / siswa yang hidup di jaman ini. Pengenalan yang baik akan karakteristik jaman ini akan sangat membantu mereka untuk menempatkan diri secara bijak serta melakukan tindakan mendidik, mengajar, membina dan melatih peserta didik dan mampu mempersiapkan peserta didik yang dihadapinya menyambut situasi jaman yang merupakan bagian dari lingkungan kehidupannya. Sebagai pendidik, mereka harus mampu menjembatani ruang / jarak antara dunia kehidupan dan dunia imajinatif dan cita-cita kaum muda.

Tulisan ini hendak mengangkat tentang bagaimana peran, fungsi dan kontribusi calon guru agama katolik dan guru agama katolik di jaman yang semakin cepat berubah ini. Tulisan ini sekaligus membantu para calon guru agama katolik sekaligus mahasiswa pada program pendidikan dan pengajaran agama katolik untuk menempatkan diri di tengah arus perubahan jaman dan bagaimana seharusnya menyiapkan para peserta didik menyambut masa depan mereka, terutama dalam bidang keagamaan katolik.

 

2.             Guru PAK di Zaman yang semakin Kompleks

Semua manusia yang hidup pada masa kini, tentu menghadapi pelbagai kerumitan dalam hal berinteraksi, bersosialisasi dan berkomunikasi satu sama lain. Kerumitan tersebut dapat dimengerti karena manusia sekarang berhadapan dengan beberapa kenyataan hidup sosial yang hadir melalui istilah-istilah atau ungkapan yang menunjukkan karakteristik jaman ini.[2]

Beberapa karakteristik yang layak disebut adalah “zaman now”, “zaman milenial”, “jaman digital”, dan “zaman disrupsi”. Istilah pertama adalah “zaman milenial” yang sering diartikan sebagai generasi yang lahir di tahun 1980 sampai tahun 2000an. Istilah generasi milenial berasal dari kata “millennials” yang diciptakan oleh dua ahli sejarah dan penulis Amerika, yaitu William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Istilah ini selalu dikaitkan dengan teknologi, karena generasi ini “open minded” atau terbuka terhadap pertumbuhan teknologi. Generasi milenial ini memiliki peran yang sangat besar di era digital, misalnya melalui kecanggihan smartphone, mereka sudah bisa membuat berbagai konten dan bisa mengakses apa saja dengan mudah. Dengan ide-ide kreatif, mereka bisa memulai karirnya menjadi content creator, youtuber, dan juga membuka onlineshop. Banyak sekali generasi milenial yang sukses berkat kemajuan teknologi sekarang.

Istilah kedua adalah “zaman digital” yang sering diartikan sebagai generasi yang tumbuh dalam kemudahan akses informasi digital dan teknologi informasi. Generasi ini lahir setelah tahun 2014 dan sangat dekat dengan perkembangan teknologi komputasi digital. Adanya teknologi ini membuat mereka merasa nyaman dengan keberadaan teknologi, bahkan menjadikannya seperti kebutuhan primer. Selain itu, paparan ini menjadikan generasi digital sebagai ahli dengan teknologi tersebut yang melebihi orang-orang dari generasi sebelumnya. Zaman digital ini ditandai oleh beberapa karakteristik dari generasinya seperti cenderung menuntut kebebasan yang lebih, sangat senang mengekspresikan diri mereka, hidup dalam iklim berkecepatan tinggi (berpikir, merasa dan bertindak), memiliki banyak sumber belajar, lebih memilih komunikasi 2 (dua) arah, suka berbagi dan berkolaborasi, dan lain sebagainya.

Istilah ketiga adalah “zaman revolusi industri 4.0”. Revolusi industri 4,0, dicetuskan pertama kali oleh sekelompok perwakilan ahli berbagai bidang asal Jerman, pada tahun 2011 lalu di acara Hannover Trade Fair. Dikatakan bahwa industri saat ini telah memasuki inovasi baru, di mana proses produksi mulai berubah pesat. Pemerintah Jerman menganggap serius gagasan ini dan tidak lama menjadikan gagasan ini sebuah gagasan resmi. Setelah resminya gagasan ini, pemerintah Jerman bahkan membentuk kelompok khusus untuk membahas mengenai penerapan Industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 menerapkan konsep automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Banyak pekerjaan sekarang ini dimudahkan dilakukan oleh mesin dan mulai mengesampingkan tenaga manusia. Ini semua terjadi demi efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya. Penerapan Revolusi Industri 4.0 di pabrik-pabrik saat ini juga dikenal dengan istilah Smart Factory.

Istilah keempat adalah “zaman disrupsi”. Era / zaman disrupsi dilihat sebagai fenomena di mana masyarakat menggeser aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya. Karena itu, disrupsi adalah perubahan besar yang mengubah tatanan hidup manusia dan bahkan alam semesta. Fenomena menjamurnya e-Commerce hari ini merupakah salah satu contoh disrupsi.

 

3.        Lima Generasi yang Hidup dalam Satu Zaman

Banyak anak muda sekarang menyebut jaman mereka dengan “zaman now”.[3] Mereka menyebut istilah ini untuk membedakan zaman mereka dari jaman sebelumnya, yang dalam arti tertentu menurut mereka bahwa seluruh karakteristik dari sifat dan sikap zaman sebelumnya tidak dapat dipertahankan lagi dan dipraktekkan pada zaman mereka. Kebiasaan itu harus ditinggalkan dan semua orang harus beradaptasi dengan karakteristik zaman mereka sekarang, yang mereka sebut dengan “zaman now” tersebut.[4]

Istilah “zaman now” sering dikaitkan orang dengan generasi manusia yang hidup pada saat sekarang, dan pada saat yang sama. Istilah “zaman now” juga sering disebut dengan zaman milenial, zaman digital, zaman dan lain sebagainya. Kebanyakan para ahli menggolongkan “zaman now” ini  dalam 5 (lima) generasi, yang hidup pada saat yang bersamaan, yaitu: generasi Baby Boomers, X, Y, Z dan Alpha. Kita bisa membayangkan rumitnya mengelola hidup bersama jika pada saat dan tempat yang sama, terdapat lima generasi dengan sifat dan karakteristik yang berbeda namun mereka hidup dan berada secara bersama di suatu tempat dan waktu yang sama. Tentu kecocokan dan konflik antara generasi silih berganti terjadi, namun bisa jadi lebih banyak terjadi gesekan-gesekan kepentingan kepentingan.[5]

 

3.1    Generasi Babby Boomers

Menurut para ahli, generasi Babby Boomers adalah generasi yang hidup antara tahun 1940 sampai dengan 1960, atau yang sekarang sedang berusia 60 s/d 80 tahun. Awalnya, istilah “Babby Boomers” muncul karena ciptaan generasi Z dan generasi milenial, yang secara tidak langsung ingin membedakan sifat dan karakteristik mereka serta sebagai sikap ekstrim untuk membedakan generasi Z dari generasi Babby Boomers yang suka menggurui dan mengatur serta dianggap sebagai pemegang segala kewenangan atas generasi baru, yang menurut generasi Z, semua sifat itu sudah tidak cocok lagi untuk zaman now.

Jadi, istilah Babby Boormers sebenarnya muncul sebagai ungkapan ketidaksukaan Generasi Z dan milenial kepada “generasi tua  lansia” untuk merespons sikap yang tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan generasi Z. Menurut mereka, generasi Baby Boomers itu gemar menggurui dan kurang relevan untuk zaman sekarang.

Terdapat kurang lebih 4 (empat) sifat atau karakteristik dari Generasi Babby Boomers, yaitu: “menghargai hubungan, berorientasi pada hasil, memiliki kepercayaan diri yang tinggi, serta merasa serba bisa dalam banyak hal”.[6] Pertama, menghargai hubungan. Generasi Baby Boomers percaya bahwa waktu yang dihabiskan bersama keluarga atau orang terdekat harus baik dan berkualitas, tidak boleh seluruh usaha itu berakhir sia-sia tanpa arti. Kedua, berorientasi pada hasil. Pada umumnya Generasi Baby Boomers harus bekerja keras untuk mencapai impian mereka saat ini. Setiap pekerjaan harus jelas, terukur dan memiliki hasil yang jelas sebagai hasil dari kerja keras. Ketiga, memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Generasi Babby Bommers cukup percaya bahwa kemampuan diri sendiri adalah sangat penting, terutama dalam memengaruhi orang lain untuk juga bekerja keras seperti yang mereka lakukan. Keempat, merasa serba bisa dalam banyak hal.

 

3.2    Generasi X

Generasi kedua yang hidup juga pada zaman now adalah dikenal dengan Generasi X (Gen X). Generasi X merupakan salah satu generasi yang lahir antara tahun 1961 sampai dengan 1980, atau yang sedang berusia yang pada saat ini berusia 40 s/d 60 tahun. Kemungkinan besar mereka yang lahir pada generasi X sekarang ini sudah menduduki berbagai macam posisi penting dalam dunia kerja.

Beberapa karakteristik dari orang-orang yang berasal dari Generasi X adalah orang-orang yang mewarisi budaya kerja, pengetahuan, pengalaman serta kebijakan yang cukup baik setelah memasuki usia pensiun. Mereka akan memberikan memberikan teladan yang baik bagi generasi selanjutnya, yaitu Generasi Milenial.

Adapun ciri dan karakteristik spesifik dari Generasi X adalah: Pertama, beradaptasi dengan teknologi. Jika Generasi Babby Boomers dianggap cukup kolot dengan teknologi, Generasi X lebih memperlihatkan kemampuan adaptasi dan keahliannya dengan alat-alat teknologi. Mereka juga berusaha menggunakan alat-alat teknologi untuk membantu mereka dalam mempercepat pekerjaan sehari-hari. seseorang. Kedua, bersifat individual. Pada masa ini, sudah mulai muncul banyak wanita yang terlibat dalam dunia kerja, dan istilah wanita karir menjadi cukup familiar. Pekerjaan di luar rumah tidak hanya dilakonkan oleh kaum laki-laki, tetapi banyak pekerjaan yang dilakukan laki-laki sudah dapat dikerjakan oleh kaum wanita, yang secara ekonomis turut menopang kesejahteraan hidup keluarga. Keterlibatan kaum wanita usia kerja dalam dunia kerja ini mengakibatkan anak-anak kurang mendapat perhatian lebih dari orang tua. Bahkan banyak dari mereka yang di titipkan kepada orang lain. Akibatnya, banyak anak-anak yang tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang banyak akal dan independen. Sikap individualistis juga lahir dari pergeseran peran wanita dalam dunia kerja ini. Ketiga, pribadi yang fleksibel. Salah satu kecendrungan  Generasi X adalah tidak ingin akan pekerjaan yang menetap. Keinginan ini dilatarbelakangi oleh sikap ambisius mereka untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik, serta mengekspresikan diri mereka melalui pekerjaan yang mereka tekuni, serta keinginan belajar dengan hal-hal baru. Keempat, menghargai keseimbangan hidup. Generasi X dapat dikatakan cukup berbeda dari pendahulunya. Mereka memiliki visi utama bahwa mereka bekerja untuk hidup, dan bukan hidup untuk bekerja. Dalam menjalani hidup, mereka cenderung lebih menyukai suasana yang menyenangkan pada lingkungan kerja. Karena itu, orang-orang dari Generasi X akan berusaha mencari suasana relaks atau refresh di sela-sela waktu kerja yang serius itu.

 

3.3    Generasi Y

Generasi ketiga disebut dengan Generasi Y (Gen Y), sering disebut juga sebagai Generasi Milenial. Banyak ahli sering mengelompokkan Generasi Y adalah mereka yang lahir antara tahun 1980-an sampai dengan tahun 1996. Kebanyakan Generasi Y adalah anak-anak dari Generasi Babby Boomers dan Generasi X.

Generasi Y lahir dan berkembang dalam iklim perubahan yang terjadi secara cepat. Mereka juga sangat menyadari kecepatan perubahan itu dan secara otomatis juga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak mereka untuk cepat. Cara berpikir dan bertindak mereka sangat dipengaruhi oleh fasilitas teknologi yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Sejak lahir, mereka sudah bergaul atau mengenal pelbagai jenis sarana telekomunikasi digital, sehingga generasi mereka disebut juga digital native. Generasi Y tidak bisa terlepas dari teknologi dalam melakukan aktivitasnya. Mulai dari transportasi, pekerjaan, dan pembayaran transaksi. Selain itu, teknologi juga berperan dalam interaksi sosial generasi milenial yang cenderung menggunakan media sosial dalam melakukan interaksinya. Generasi ini mudah beradaptasi dengan teknologi baru, dan selalu menerapkan teknologi baru dalam kehidupannya.

Beberapa karakteristik Generasi Y atau Generasi Milenial adalah memiliki komitmen terhadap organisasi tempat mereka berada. Untuk mereka, pekerjaan merupakan salah satu prioritas, namun bukanlah yang utama, mereka menyukai ketentuan-ketentuan atau peraturan yang tidak berbelit-belit, memiliki kepribadian yang terbuka atau transparan. Generasi Y dalam berorganisasi memiliki orientasi kepada tim dan memiliki soliditas dengan rekan tim, cenderung menyukai feedback dan juga suka pelbagai tantangan baru.

Dalam urusan politik, mereka memiliki pandangan yang cenderung sosial liberal. Mereka cenderung memiliki sikap teguh pada pendiriannya masing-masing dan sesuai dengan informasi, rasa politik, dan nilai yang mereka yakini sebagai benar. Dalam urusan keagamaan, mereka memiliki kecenderungan untuk tidak tidak memiliki agama. Hal ini berhubungan dengan situasi sekularisasi yang cenderung membawa orang untuk tidak harus memiliki dan meyakini kepada salah satu agama. Dengan demikian ateisme dan agnostisisme sangat mungkin bisa menarik mereka ke situasi itu.

Seorang psikolog Jean Twege, mengatakan bahwa Generasi Y memiliki sifat entitlement dibanding generasi pendahulunya. Sifat entitlement adalah sifat yang menganggap bahwa diri sendiri lebih baik dari orang lain. Konsep ini memiliki konsekuensi bahwa dirinya harus menerima lebih daripada orang lain. Mereka percaya bahwa jika mereka memiliki hak istimewa, yang mana hak yang diinginkan cenderung memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, seperti; mendapatkan jabatan tertentu tanpa melalui proses panjang, juga sukses secara instan.[7]

 

3.4    Generasi Z

Generasi keempat disebut dengan Generasi Z (Gen Z), dan merupakan peralihan dari generasi Y. Generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1997 sampai tahun 2009, dan pada saat internet berkembang pesat dan sangat tergantung kepada perkembangan teknologi gadget dan aktivitas di media sosial. Mereka juga lahir ketika mereka tidak tahu kapan muncul internet, computer, telepon genggam, dan alat komunikasi lainnya. Dalam seluruh hidup mereka, hampir semuanya dilingkupi oleh seluruh fasilitas digital dan selalu bergaul dengan dunia internet dan digital. Generasi ini sering juga disebut dengan Generasi NET. Jadi, Generasi Z atau Generasi NET ini hampir menghabiskan waktu setiap jamnya untuk bergaul dengan media sosial.[8]

Ketergantungan akan teknologi sosial media membuat mereka suka dengan hasil instan dan cepat, cenderung keras kepala, dan selalu terburu-buru. Walaupun demikian, mereka suka dengan tantangan baru namun haus akan pujian. Aktivitas sosial dan bergaul adalah aktivitas yang sangat dinikmati sehingga tak mereka rela mengeluarkan banyak uang untuk bersenang-senang.

Dalam hal bekerja dan berorganisasi, Generasi Z lebih senang dengan jenis pekerjaan di perusahaan start up, multi tasking, sangat menyukai teknologi dan ahli dalam mengoperasikan teknologi tersebut, peduli terhadap lingkungan, mudah terpengaruh terhadap lingkungan mengenai produk ataupun merek2, pintar dan mudah untuk menangkap informasi secara cepat.

Psikolog Elizabeth T. Santosa dalam bukunya yang berjudul "Raising Children in Digital Era" mencatat ada 7 karakteristik generasi yang lahir di era digital ini: memiliki ambisi besar untuk sukses, berperilaku instan, cinta kebebasan, percaya diri, menyukai hal-hal yang detail, keinginan untuk mendapatkan pengakuan, penguasaan teknologi informasi dan digital.[9]

 

3.5         Generasi Alpha

Generasi kelima adalah Generasi Alpha. Generasi ini adalah mereka / anak-anak yang lahir setelah tahun 2010 dan hidup di masa di mana semua serba digital. Para orang tua dari Generasi Alpha ini mendapat tantangan tersendiri dalam mengasuh dan membesarkan anak-anak generasi ini. Anak-anak yang hidup dalam generasi ini tumbuh dalam masyarakat yang lebih heterogen, sehingga cara berpikir mereka lebih terbuka tentang orang yang berbeda dari dirinya serta sangat merasa nyaman dengan teknologi.[10]

Secara umum, sifat dan karakter Generasi Alpha masih penuh misteri, mengingat mereka sedang bertumbuh dan berkembang menjadi anak-anak remaja di masa sekarang. Namun sudah banyak catatan yang menguraikan tentang sifat atau karakteristik dari dari Generasi Alpha, walaupun sifatnya masih prediktif, misalnya: sangat memahami dunia teknologi serta melihat bahwa teknologi bukanlah pelengkap dalam hidup melainkan bagian dari gaya hidup, berkat akses kepada teknologi yang besar dan luas maka generasi ini menjadi generasi yang berwawasan luas dan cerdas serta terdidik, realitas hidup mereka adalah artificial intelligence, pembelajaran yang sangat personal, sangat menekankan interaksi sosial melalui media sosial, tidak suka berbagi, tidak suka mengikuti aturan, tidak bisa diprediksi, masa kecil yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, pola makannya sangat berbeda, bergaya fungky, dan lain sebagainya. Salah satu hal yang mengkhawatirkan adalah bahwa karena kedekatan dengan teknologi dapat menyebabkan mereka menjadi jauh dari sejarah dan hidup serta budaya para leluhurnya.

 

4.             Kemungkinan Konflik

Sebagai seorang Guru PAK, kecekatan untuk melihat situasi yang merupakan bagian dari hidupnya adalah sesuatu yang harus dilakukannya. Guru PAK berada bersama dengan variasi generasi yang bisa memberikan pelbagai kemudahan dan kesualitan dalam hidup bersama. Mengelola hidup bersama yang didasarkan pada keadaan manusia yang heterogen seperti ini bukanlah hal yang mudah, melainkan membutuhkan banyak usaha untuk mengelola hidup bersama sehingga hidup bersama dapat berlangsung dengan baik.

Seorang Guru PAK yang seharian berada di lingkung sekolah bersama dengan penerasi manusia yang berbeda, sudah seharusnya memiliki kemampuan membaca pelbagai kemungkinan terjadinya konflik tersebut, yang mungkin saja sifatnya vertikal dan juga horizontal. Sifat vertikal dalam arti hubungan antara misalnya generasi Y dan generasi Z, atau antara generasi X dan generasi Z; sedangkan sifat horizontal dalam arti hubungan antara orang-orang dari generasi yang sama namun memiliki perbedaan dalam hal kebutuhan dan kepentingan yang situasional.[11]

Mungkin kita dapat melihat beberapa jenis konflik yang dapat terjadi dalam kehidupan bersama di dunia sekolah dan pendidikan. Pertama, konflik terkait otoritas kebenaran. Ada kecendrungan dalam hidup bersama bahwa para “senior” cenderung memposisikan diri sebagai orang yang lebih banyak tahu. Para senior sering melihat diri mereka sebagai Fenomena ini mengakibatkan mereka sering menggurui para “junior” dan beranggapan bahwa mereka tidak banyak pengetahuannya dan harus terus disosialisasikan kepada mereka. Hal ini berakibat kaum “junior” bersikap cuek dan tidak ingin bergabung dengan kaum “senior”.

Kedua, konflik terkait penguasaan fasilitas teknologi. Berhadapan dengan perkembangan teknologi informasi dan digital yang begitu cepat dan menyebar, generasi Alpha merasa lebih banyak tahu daripada generasi-generasi sebelumnya. Anggapan bahwa generasi sebelumnya adalah kolot dan tidak mengerti menjadikan generasi Alpha menguasai generasi-generasi sebelumnya. Namun generasi sebelumnya juga mengklaim bahwa mereka memiliki pengalaman dalam memulai semua hal yang sekarang dinikmati oleh Generasi Alpha. Selain itu, ada juga anggapan bahwa tidak semua persoalan hidup yang dapat dan harus dipecahkan dengan fasilitas teknologi zaman now.

Ketiga, konflik terkait isolasi grup. Perbedaan yang terus terjadi dan mengendap dapat membuat setiap generasi mengisolasi diri mereka dari yang lain. Mereka cenderung untuk tidak ingin bergaul dengan atau bersama pribadi-pribadi dari generasi yang lainnya serta akhirnya melihat pribadi-pribadi dari generasi lainnya adalah bahaya untuk mereka sendiri.

Keempat,

 

5.        Tantangan Guru PAK di Zaman Now

Guru Pendidikan Agama Katolik (Guru PAK) di zaman ini menghadapi pelbagai tantangan yang harus dihadapi dan dikelola dengan baik. Selain perubahan-perubahan yang terkait dengan akses informasi dan telekomunikasi yang begitu mudah, masalah disrupsi adalah hal lain yang muncul bersama dengan mudahnya akses melalui media Online kepada sumber-sumber pengetahuan. Situasi yang menuntut peserta didik agar mampu berpikir secara kritis, berkolaborasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan dan berpikir kreatif harus dihadapi guru.  Guru harus benar-benar mampu menyiapkan berbagai hal agar dapat mencetak generasi muda agama katolik yang lebih kompeten di masa mendatang agar sungguh dewasa secara intelektual maupun secara religius.

Menjadi seorang guru agama bukanlah profesi yang mudah. Selain menguasai ilmu keguruan secara umum, guru agama juga harus menguasai ilmu keagamaan secara baik dan menghayati praktek keagamaan secara jujur. Totalitas dan komitmen yang besar dalam mengajar dan mendidik harus dimiliki oleh Guru Agama dan menjadi modal utama agar terciptanya peserta didik yang beragama katolik yang cerdas dalam pengetahuan, memiliki moral dan etika yang baik untuk menyiapkan masa depannya.  Fenomena yang terjadi saat ini guru sebagai seorang pendidik dituntut mencerdaskan anak bangsa, serta melahirkan masa depan bangsa yang gemilang.

Dalam dunia digital / milenial / jaman now ini, peran Guru PAK rentan tergeser dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Internet dengan variasi informasinya kadang dijadikan acuan utama oleh generasi Z dan generasi Alpha dibandingkan dengan perkataan para Guru.  Lahirnya platform pendidikan virtual pun turut menggeser posisi Guru di era ini. Bahkan, di beberapa sekolah sudah menerapkan sistem belajar Online di mana tatap muka antara Guru dan murid tak lagi dibutuhkan.  Kini, Guru lah yang harus mengikuti perkembangan zaman dan menikmati proses bergesernya peran mereka di era disrupsi ini. Sebagian contoh ada banyak "start up" yang lahir di bidang pendidikan. Guru harus memulai mengubah cara-cara lamanya serta fleksibel dalam memahami hal-hal baru dengan lebih cepat.  Ada hal yang perlu menjadi perhatian bersama di dalam dunia pendidikan kita sekarang.[12]

Guru lebih memprioritaskan jenjang karirnya dengan standar yang telah di tetapkan oleh pemerintah, hal ini dikhawatirkan bisa membuat Guru lupa dengan tugas awalnya, yaitu mendidik siswa/murid.  Teruntuk para Guru di mana pun berada, lakukan perubahan kecil dalam proses pembelajaran di kelas sebagai wujud inovasi dan kreativitas. Percayalah bahwa setiap murid memiliki keistimewaan tersendiri. Cara guru adalah temukan bakar terpendam dari murid yang kurang percaya diri, karena setiap anak adalah istimewa. Setiap anak memiliki kehebatan masing-masing.

 

6.        Sikap-Sikap yang Perlu

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa bukanlah hal yang mudah untuk mengelola hidup bersama, mengelola suasana pendidikan dana mengelola dinamika pendidikan secara bersama di dalam satu lingkungan sekolah dengan generasi yang berbeda-beda. Seorang Guru PAK, bisa saja berasal dari generasi Babby Boomers, atau Generasi X atau Generasi Y atau bahkan dari generasi Z, harus memahami beberapa sikap yang perlu dihidupi dalam kebersamaan tersebut. Di sini akan dicoba ditawarkan beberapa sikap yang perlu dihidupi oleh para Guru PAK.[13]

Pertama, Guru PAK paham dengan teknologi digital. Untuk dapat mendidik dengan baik, maka sangat dianjurkan agar setiap pendidik dan terutama Guru PAK untuk memahami secara tepat fungsi dan peran dari hadirnya teknologi digital. Guru PAK harus mengerti dengan baik hal-hal positif dan negatif dari alat-alat digital yang dipakai oleh generasi zaman now. Pemahaman yang baik tentang hal-hal positif dan negatif tersebut menjadi dasar untuk pendampingan kepada peserta didik dalam berhubungan dengan sumber-sumber pengetahuan yang ditawarkan.

Kedua, Guru PAK menghindari sikap otoriter. Status senioritas di dunia pendidikan / persekolahan atau ketiga berada di dalam kelas dapat menyebabkan seseorang Guru PAK memiliki sikap otoriter terhadap peserta didik. Guru PAK merasa diri lebih banyak mengetahui tentang ilmu-ilmu agama dan ilmu lainnya dan pada waktu yang sama beranggapan bahwa peserta didik adalah pribadi yang tidak memiliki pengetahuan dan kepada mereka harus disosialisasikan pelbagai pengetahuan. Sikap ini tidak cocok lagi untuk kondisi sekarang di mana peserta didik telah berhadapan dengan pelbagai sumber pengetahuan yang banyak dan mudah diakses melalui perangkat digital. Yang perlu ialah bagaimana Guru PAK menemani peserta didik untuk sampai kepada sumber pengetahuan dan mengelola pengetahuan tersebut sebagai kekuatan untuk memperkaya diri dan sesama.

Ketiga, Guru PAK memperhatikan pembentukan emosi dan perasaan. Terkait dengan sumber pengetahuan, peserta didik berhadapan dengan banyak sumber pengetahuan. Secara kognitif, otak dan intelektual, peserta didik memiliki banyak hal yang dapat membentuk aspek kognitif mereka. Namun dalam aspek pembentukan emosional dan perasaan menjadi tugas utama orang tua di rumah dan juga para guru di sekolah. Guru PAK memiliki peran penting untuk mendidik peserta didiknya melalui pembinaan emosional dan perasaan di lingkung sekolah dan lingkungan kelas. Anak didik tidak boleh dibiarkan bertumbuh hanya dalam aspek kognitif melainkan harus seimbang dengan aspek-aspek lainnya seperti psikomotorik dan emosional - perasaan.

Keempat, Guru PAK harus memahami bahwa interaksi peserta didik sekarang terjadi secara Online. Menyebarnya media-media Online serta sarana-sarana komunikasi yang memudahkan interaksi antara manusia menyebabkan anak-anak didik jaman sekarang cenderung dan bahkan selalu melakukan interaksi dan komunikasi melalui perangkat digital. Secara tidak langsung, situasi itu mengajak seluruh pendidik dan tenaga pendidik serta juga orang tua dan terutama para Guru PAK untuk menerima situasi ini serta melakukan pelbagai kegiatan komunikasi tentang kegiatan pendidikan umum dan pendidikan keagamaan katolik melalui media Online.

Kelima, Guru PAK harus secara netral berinteraksi dengan peserta didik melalui media Online dan kontak langsung. Keharusan untuk berinteraksi dengan peserta didik melalui media Online tidak boleh mengesampingkan pentingkan interaksi langsung. Dalam banyak alasan, interaksi langsung dengan peserta didik tetap memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan interaksi melalui media Online. Maka Guru PAK harus meluangkan waktu sesering mungkin untuk berinteraksi langsung dengan peserta didik: bermain bersama, belajar bersama, cerita bersama, berdoa bersama, berwisata bersama, dan lain sebagainya.

Keenam, Guru PAK harus tetap percaya kepada peserta didik dalam hal akses ke media Online. Sikap positif terhadap peserta ketika bereksplorasi dengan media-media sosial perlu dijaga dengan baik. Sikap percaya tidak berarti bahwa Guru dan juga orang tua lepas bebas membiarkan anak-anak atau peserta didik mengakses secara bebas tanpa ada kontrol dari orang dewasa. Komunikasi yang baik yang dibangun untuk memberi ruang kepada Guru dan orang tua mengontrol setiap perilaku peserta didik dan anak-anak ketika mereka menggunakan fasilitas digital untuk menemukan sumber-sumber pengetahuan.[14]

 

7.             Catatan Refleksi – Penutup

Tidak mudah mengelola hidup bersama dalam dunia persekolahan atau dunia pendidikan jika terdapat beberapa generasi yang hidup bersamaan. Apalagi jika jarak antara generasi yang satu dengan generasi yang lain cukup lebar atau jauh. Namun kenyataannya adalah semuanya harus hidup bersama, lepas dari apakah seorang pribadi dari generasi tertentu menerima atau tidak situasi dan kondisi tersebut.

Berkaitan dengan uraian tentang Guru Agama Katolik di Era Millenial tersebut di atas, ada beberapa catatan refleksi yang perlu diketahui dan dipikirkan lebih lanjut oleh para Guru Agama Katolik Zaman Now.

Pertama, refleksi dan mendalami ilmu keagamaan katolik yang terus menerus. Konten yang disediakan oleh gereja akan dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta didik jika guru agamanya telah memilikinya secara komprehensif. Ilmu yang telah dimiliki tersebut juga harus diperbaharui terus terutama refleksi-refleksi yang terkait dengan penghayatan hidup praktis.

Kedua, perlunya pembaharuan. Konten pembelajaran agama katolik harus dipastikan sampai kepada peserta didik, minimal untuk diketahui dan dihayati dalam praktek hidup konkret. Karena itu, cara menyampaikan konten tersebut harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang dihidupi atau dialami oleh dunia peserta didik. Karakteristik generasi zaman now perlu dipahami dan bahkan guru agama katolik perlu melibatkan diri dalam dunia tersebut tanpa harus merasa tersandera oleh situasi zaman now tersebut. Upaya-upaya pembaharuan diri harus terus dilakukan agar guru agama katolik tidak dilihat ketinggalan zaman, kurang up date, atau kolot. Artinya terus belajar secara terus menerus untuk memperbaharui diri.

Ketiga, perlunya fasilitas-fasilitas pendukung. Keakraban dengan pelbagai media yang mendukung kegiatan pembelajaran zaman now tidak lepas dari pembaharuan fasilitas-fasilitas pendukungnya, mulai dari perangkat sampai dengan aplikasi-aplikasi yang adaptatif. Semuanya harus berjalan seirama baik dalam hal kemampuan pengelolaannya maupun fasilitas pendukungnya.

Keempat, interaksi terbuka dengan semua pemampu kepentingan. Sebagai guru agama katolik zaman now, salah satu aspek yang harus dikembangkan adalah kemampuan berinteraksi secara positif, terutama dengan seluruh peserta didik,  rekan-rekan guru di sekolah, fungsionaris sekolah, pengurus komite sekolah, orang tua siswa, dinas pendidikan, dan masyarakat serta para pemerhati dunia pendidikan. Interaksi yang baik akan melahirkan iklim yang baik dalam pengelolaan pendidikan di sekolah, termasuk pendidikan agama Katolik.

 

 

Sumber Bacaan

Bala, Robert. Tantangan Guru Zaman Now. Jakarta: Gramedia Widiasarana, 2018.

Mantenti, A. Vivere Insiema: Aspetti Psicologici. Bologna: Edizione Dehoniano, 2009.



[1] J. Hasugian (2011). Perpustakaan Digital dan Digital Natives. (Medan: Universitas Nommensen, 2011), hlm. 7-30.

[2] Robert Bala, Menjadi Guru Hebat Zaman Now (Jakarta: Gramediasarana, 2018), hlm. 55-183.

[3] Dalam ilmu linguistik (ilmu bahasa), bentuk “zaman now” terdiri atas dua kata, yakni zaman dan now. Secara etimologi, kata zaman berasal dari bahasa Indonesia yang artinya (1) jangka waktu yang panjang atau pendek yang menandai sesuatu; masa, dan (2) kala; waktu. Sementara now adalah kata yang berasal dari bahasa Inggris yang bisa diartikan 'sekarang'. Dengan demikian secara harafiah “zaman now” dapat diartikan sebagai 'zaman sekarang' atau 'masa kini' atau juga 'saat ini'. Catatan lengkap tentang ini dapat dilihat dalam Fredy Maunareng, Pengertian Istilah "Zaman Now" dalam https://www.kompasiana.com/maunareng/59fd5d7374bbb02c55408b32/pengertian-istilah-zaman-now; diakses pada Senin, 30 November 2020, pukul 15.31 WIB.

[4] Uraian yang lebih detail tentang istilah “jaman now” dipakai oleh kaum muda sekarang, dapat dilihat dalam Agus Nurjaman, Guru Figur Sentral dalam Pendidikan (Bogor: Guepedia, 2016), hlm. 251-255.

[5] Salah satu buku yang menguraikan secara menyeluruh dapat ditemukan dalam Kay Hoflander, Musings and Adventures of a Baby Boomer, That Generation Before X, Y, and Z (Tanpa Kota Penerbit: AuthorHouse, 2020).

[6] Asni Harismi, Mengenal Generasi Babby Boomers, dari Sejarah hingga Karakteristiknya, dalam https://www.sehatq.com/artikel/generasi-baby-boomer-beserta-ciri-khasnya-yang-menonjol , diakses hari Senin, 2 November 2020, pukul 09.38 wib.

[7] Ervina, Prinsip dan Budaya Kerja Generasi Y yang Harus Diketahui, dalam https://www.talenta.co/blog/insight-talenta/prinsip-dan-budaya-kerja-generasi-y/ diakses hari Selasa, 22 September 2020, pukul 20.18 wib.

[8] Elisabeth T. Santosa, Raising Children in Digital Era (Jakarta: Elexmedia Komputindo, 2015), hlm. 1-16.

[9] Elisabeth T. Santosa, Raising Children…, hlm. 17-28.

[10] Bernandine Natasha, Mengenal Generasi Alpha dan Cara Mendidiknya, dalam https://www.popmama.com/kid/4-5-years-old/bernadine/mengenal-generasi-alfa-dan-cara-mendidiknya/4, diakses pada Selasa, 22 September 2020, pukul 21.09 wib.

[11] A. Manenti, Vivere Insieme: Aspetti Psicologici [terjemahan Bahasa Indonesia: Hidup Bersama: Aspek Psikologis], (Bologna: Edizione Dehoniane, 2009), hlm. 37-52

[12] Bdk. Abdul Arif, Tantangan Guru di Era Milenial, dalam https://www.ayotegal.com/read/2019/12/10/2117/tantangan-guru-di-era-milenial, diakses pada hari Selasa, 22 September 2020, pukul 22.38 wib.

[13] Yanuar S. Putera, Teori Perbedaan Generasi, Jurnal Among Makarti Vol.9 No.18, Desember 2016, hlm. 123-124.

[14] Bernandine Natasha, Mengenal Generasi Alpha dan Cara Mendidiknya, dalam https://www.popmama.com/kid/4-5-years-old/bernadine/mengenal-generasi-alfa-dan-cara-mendidiknya/5, diakses pada hari Selasa, 22 September 2020, pukul 23.15 wib.

Sabtu, 01 April 2023

7 Tradisi Minggu Palma dalam Misa dan simbolismenya

Minggu Palma Sengsara Tuhan menandai awal Pekan Suci, minggu terakhir persiapan sebelum pesta Paskah. Dalam Ritus Romawi, perayaan Misa memiliki tradisi tertentu yang membuatnya terlihat jauh berbeda dari Misa hari Minggu pada umumnya. 

Banyak dari tradisi ini berusia berabad-abad, berakar pada Gereja perdana, berdasarkan peristiwa yang terjadi dalam perikop Injil. Perbedaan dimaksudkan untuk memperkaya perayaan Sengsara Yesus kita, membenamkan kita ke dalam peristiwa-peristiwa itu dengan cara yang unik untuk membantu jiwa kita merenungkan keindahan dan kekayaan misteri Paskah.


Inilah 7 tradisi ini dan simbolisme di baliknya.   
  
Mengapa Misa dimulai dengan prosesi?

Selain meniru prosesi Yesus ke Yerusalem, tempat kudus gereja tentu saja merupakan tempat yang melambangkan surga, dengan kehadiran Yesus dalam Ekaristi.

Selain itu, sering kali tempat suci ditinggikan dengan beberapa anak tangga. Ini juga memiliki simbolisme, mengangkat mata (dan hati) kita kepada Tuhan, tetapi juga mengingatkan kita akan pendakian Yesus ke Gunung Kalvari. Imam mengambil peran ini dan naik ke Gunung Kalvari untuk mempersembahkan kurban Misa, berpartisipasi dalam satu kurban Yesus di kayu salib.
 
Mengapa palma atau janur atau tanaman lain digunakan untuk prosesi?


Sarjana Alkitab sering menerjemahkan cabang-cabang yang digunakan orang untuk masuknya kemenangan Yesus dalam istilah umum, seperti dalam Injil Matius, “Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.” (Matius 21:8).

Intinya, ketika daun palem tidak tersedia, sangat diperbolehkan untuk menemukan jenis daun yang cocok untuk membantu memperingati Minggu Palma.

Cabang-cabang/daun-daun dimaksudkan untuk menjadi gerakan simbolis, melambangkan kebutuhan untuk meletakkan hati kita di hadapan Yesus , memungkinkan Dia mengakses ke dalam diri kita yang terdalam. Inilah sebabnya, meskipun Anda tidak memiliki cabang atau daun apa pun untuk perayaan Anda, Anda masih dapat berpartisipasi dalam tema rohani Minggu Palma.
 
Mengapa imam mengenakan kasula merah?

Merah adalah warna darah dan melambangkan cinta, api, gairah, dan darah pengorbanan. Warna merah dikenakan pada Minggu Palma, Jumat Agung, setiap hari yang berkaitan dengan Sengsara Yesus, pada hari Pentakosta dan pada hari-hari raya orang-orang yang mati karena iman (martir).
   
Mengapa patung dan gambar diselubungi?

Tampaknya aneh bahwa selama waktu paling suci dalam setahun umat Katolik menutupi segala sesuatu yang indah di gereja mereka, bahkan salib. Bukankah seharusnya kita melihat pemandangan yang menyakitkan di Kalvari sementara kita mendengarkan kisah Sengsara pada Minggu Palem?

Meskipun mungkin tampak berlawanan dengan intuisi untuk menyelubungi patung dan gambar selama minggu-minggu terakhir Prapaskah, Gereja Katolik merekomendasikan praktik ini untuk meningkatkan kesadaran kita dan membangun di dalam diri kita kerinduan akan hari Minggu Paskah. Ini adalah tradisi yang tidak hanya harus dilakukan di paroki setempat, tetapi juga dapat menjadi kegiatan yang bermanfaat untuk dilakukan oleh “gereja rumah tangga”.
 
Mengapa pembacaan Injil begitu lama?


Bagi umat Katolik Roma, bacaan Misa Minggu mingguan sangat singkat jika dibandingkan dengan narasi Sengsara yang dibacakan (atau dinyanyikan) setiap tahun pada Minggu Palma. Hal ini membuat Minggu Palem agak sulit untuk dihadiri bagi mereka yang kesulitan berdiri untuk seluruh pewartaan Injil.

Namun, tahukah Anda bahwa setiap hari Minggu mungkin seperti itu di Gereja perdana?

Banyak orang Kristen perdana adalah orang Yahudi, dan karenanya, tidak mengherankan, mereka mencontoh liturgi mereka di kebaktian sinagoga. Ini termasuk pembacaan Kitab Suci secara terus-menerus yang dilakukan dari satu minggu ke minggu berikutnya. Itu dibagi menjadi dua bacaan terpisah, satu dari "Hukum" dan yang lainnya dari "Para Nabi."
 
Mengapa umat berpartisipasi dalam pembacaan Kisah Sengsara?

Pekan Suci adalah waktu paling sakral dalam kalender liturgi Gereja, sepenuhnya berfokus pada Sengsara, kematian, dan kebangkitan Yesus. Tema yang berulang sepanjang minggu adalah panggilan untuk menemani Yesus selama bagian paling menyakitkan dari hidupnya di bumi.

Minggu Palma membuka Pekan Suci dengan pembacaan Sengsara Yesus yang khusyuk, dan biasanya ini melibatkan setiap orang yang memiliki peran. Saat dirayakan di gereja, umat sering mengambil peran sebagai orang banyak. Ini memuncak dengan seluruh jemaat mengatakan, “Salibkan dia! Salibkan dia!” Dalam hal ini kita menyadari peran dosa-dosa kita dalam penyaliban Yesus dan bagaimana Yesus menderita dan mati untuk kita, meskipun kita belum lahir.
 
Apa yang harus saya lakukan dengan daun palma saya yang diberkati?


Setelah meninggalkan gereja pada hari Minggu, Anda mungkin pulang dengan membawa beberapa daun palma dari perayaan masuknya Yesus ke Yerusalem dengan penuh kemenangan.

Anda mungkin bertanya pada diri sendiri, "Nah, apa yang harus saya lakukan dengan ini?"

Apa pun yang Anda lakukan, jangan membuangnya!

Menurut Kitab Hukum Kanonik , barang-barang yang diberkati tidak boleh dibuang ke tempat sampah, tetapi diperlakukan dengan hormat (bdk. #1171). Dalam Misa, daun-daun palma ini dipisahkan oleh berkat dari imam dan dijadikan “sakramental”, suatu benda yang dimaksudkan untuk mendekatkan kita pada perayaan tujuh sakramen. Membuangnya ke tempat sampah mengabaikan tujuan sucinya dan memperlakukannya seperti benda lain yang tidak lagi kita butuhkan.

Selasa, 22 Maret 2022

MEMBANGUN SEKOLAH SEBAGAI KOMUNITAS PENDIDIKAN

 Oleh: Sergius Lay OFMCap

1.      Catatan Pengantar

Dalam sebuah syair lagunya yang sangat puitis, Thomas Merton[1] mengatakan bahwa: “tidak seorang pun manusia seperti sebuah pulau”, membicarakan tentang pentingnya kehadiran orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Manusia tidak hidup sendiri tetapi selalu dalam relasi dengan orang lain. Keberadaan bersama orang lain ini menempatkan semua hidup pribadi di dalam sebuah komunitas.[2]

Setiap cara berada kita dengan orang lain dapat membentuk sebuah komunitas. Tentu cara hidup ini terdiri dari orang-orang yang memiliki motif dan tujuan yang sama, yang secara prinsip didasarkan pada spiritualitas pendiri dari setiap “komunitas” yang bersangkutan. Salah satu aspek mendasar dalam kehidupan komunitas ialah keterlibatan, partisipasi dan kerja sama dari seluruh komponen yang ada di dalamnya. Problem-problem kekomunitasan dapat muncul mana kala ketika semua anggotanya tidak berhasil menciptakan dan atau mempertahankan sebuah iklim yang baik dalam hal peningkatan-peningkatan kualitas relasi dan bekerja dengan kesadaran, tanggung jawab dan keseriusan, yang pada akhirnya memperbaiki juga “proyek hidup bersama”.[3]


Refleksi kita tentang dunia sekolah sebagai komunitas pendidikan adalah sebuah tema yang mengajak kita melihat mengapa dimensi kekomunitasan dalam hidup bersama di sekolah menyentuh dengan sangat kuat eksistensi ciri khas hidup kita, terutama pada aspek kebersamaan dalam bidang pedagogis, formatif dan etis pada dunia pendidikan kita dewasa ini. Untuk menjamin sebuah kualitas hidup berkomunitas, kita butuh mengaktifkan dan mempromosikan sebuah pemahaman yang menekankan pada aspek partisipatif, kolaboratif dan tanggung jawab dari seluruh anggota yang ada di sebuah sekolah yang bersangkutan.[4]

 

2.      Dasar Biblis: Kesatuan Tritunggal Maha Kudus

Kitab Suci yang sampai kepada kita adalah hasil refleksi iman umat, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dan membingkai ke-allah-an Tritunggal: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Bapa yang menciptakan segalanya termasuk manusia, Allah Putra adalah wujud kehadiran Bapa yang datang menyelamatkan serta mengembalikan umat Allah kepada maksud utama penciptaan, sebagaimana hakikat dari tujuan penciptaan, dan Allah Roh Kudus diutus untuk menyertai dan menguatkan serta memberanikan umat manusia dalam ziarahnya menuju tanah terjanji itu.

Ke-allah-an Tritunggal ini adalah satu kesatuan dalam hakikat dan terbagi dalam perannya dalam sejarah keselamatan manusia dan seluruh ciptaan Allah. Ketiganya adalah satu kesatuan yang diikat oleh suatu misi dan visi yang sama. Relasi dalam hakikat Tritunggal inilah yang menyatukan seluruh visi dan misi keselamatan: “pembangunan Kerajaan Allah” (Kel. 34,4-9; 2 Kor 13,11-13 dan Yoh. 3,16-18). Inilah makna dari sebuah komunitas Kerajaan Allah yang diikat oleh nilai-nilai fundamental: kasih, damai dan keadilan.

Komunitas kampus adalah bentuk hidup bersama yang terdiri dari orang-orang yang percaya dan terpanggil dalam suatu kegiatan belajar dan mengajar (perkuliahan), juga dalam arti tertentu disebut juga sebagai sebuah keluarga, sebuah kelompok, sebuah komunitas yang diikat oleh nilai-nilai kasih, damai dan keadilan. Model hidup komunitas seperti ini harus menyatakan model relasi kesatuan Tritunggal Maha Kudus, yang seharusnya diwarnai oleh kesatuan dan keeratan relasi dan hubungan yang selalu saling menyempurnakan. “Kita adalah satu tubuh di dalam Kristus Yesus”.

 

3.      Membangun Sekolah sebagai Komunitas Pendidikan

Secara sosiologis, seluruh bentuk lembaga, institusi dan organisasi adalah juga sebuah komunitas. Tidak ada seorang pun yang hidup terlepas dari sebuah komunitas. Sejak lahir dan seluruh hidup manusia selalu langsung diikat dalam sebuah komunitas dan kematian adalah sebuah perpisahan secara definitif dari komunitasnya.

Berikut ini akan diuraikan bagaimana seharusnya kita membangun sebuah sekolah sebagai komunitas pendidikan serta aspek-aspek lain yang terkait dengan “bangunan sekolah” sebagai komunitas pendidikan.

 

3.1         Arti Komunitas dan Komunitas Pendidikan

Komunitas didefinisikan sebagai sebuah kebersamaan orang-orang yang hidup pada wilayah yang sama dalam kondisi-kondisi dan dengan gaya hidup serta hubungan kedekatan yang familiaritas. Inilah dasar dari sebuah kolektivitas yang dilihat sebagai komunitas ketika semua anggota bertindak dan bertingkah laku secara resiprokal, serta mengakui akan pentingnya nilai-nilai, norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, kepentingan-kepentingan kolektif yang berlaku umum, baik pada tingkat pribadi maupun bersama.[5]

Definisi di atas menunjukkan bahwa komunitas bukan merupakan sebuah kumpulan pribadi-pribadi, melainkan sebuah kolektivitas dalam mana semua anggotanya bertindak secara resiprokal di antara mereka. Kebersamaan kita didefinisikan sebagai komunitas karena semua anggota hidup bersama dalam lingkungan yang sama dengan norma dan kebiasaan yang sama pula serta terintegrasi di antara mereka. Melalui aktivitas belajar, baik formal, informal maupun non formal, dunia kampus menjadi komunitas pendidikan, di mana pengajar, pendidik dan pembina atau “guru” mengajar dan sekaligus belajar dari “para murid”. “Para guru” terpanggil untuk mempersiapkan para “murid baru” ke dalam lingkungan komunitasnya.

 

Banyak ilmu sosiologi yang dapat menolong kita untuk mengerti tentang komunitas pendidikan serta segala nilai yang ada dalamnya. Pemikiran ini ditulis untuk sekedar melihat dimensi kekomunitasan dari sudut pandang sosiologi yang diajukan oleh beberapa sosiolog, seperti Ferdinand Tonnies, Talcott Parsons, dan Thomas Sergiovanni.  Kita akan berangkat dari teori sosiologi Tonnies dengan konsep-konsep dasar kemasyarakatan tentang Gemeinschaft dan Gesellschaft.

 

3.1.1   Komunitas Pendidikan menurut Ferdinand Tönnies

Tönnies mendefinisikan Gemeinschaft sebagai hidup real dan organis, kebersamaan yang akrab, dan diasosiasikan sebagai bentuk hidup yang saling percaya, intim dan eksklusif; sedangkan Gesellschaft dihadirkan sebagai bentuk hidup mekanik, dan diasosiasikan  kepada semua yang bersifat publik, serta tidak ada saling ketergantungan secara intimitas satu sama lain, di mana setiap orang berada tidak hanya untuk kepentingannya sendiri tetapi selalu dalam sebuah relasi dengan yang lain. Teori tentang Gemeinschaft dan Gesellschaft dari Tönnies, menolong kita untuk mengerti definisi tentang hidup bersama yang dilihat sebagai komunitas pendidikan.[6]

Bentuk Gesellschaft adalah organisasi formal yang dalam kenyataannya didominasi oleh norma, aturan dan nilai-nilai. Dalam arti ini, hidup bersama harus menjadi dan berbentuk sebuah organisasi. Norma, peraturan dan nilai-nilai ini harus ditetapkan, baik bersama maupun oleh otoritas, dengan tujuan menjadi stabilitas komunitas itu. Komunitas sebagai suatu bentuk lembaga / institusi (Gesselschaft) harus menambahkan corak Gemeinschaft yang menghadirkan sebuah gaya hidup yang didasarkan pada familiaritas, intim, eksklusif serta ketergantungan satu sama lain secara natural. Tipe komunitas dan karakter-karakternya yang diusulkan oleh Tönnies, dapat diadaptasikan dan dimasukkan ke dalam kehidupan dunia kampus kita. Kehidupan keluarga, kedekatan-kedekatan intimitas dan humanis, relasi afektif dan hubungan timbal balik antara anggota di lingkungan komunitas kita, adalah karakter-karakter fundamental dalam membangun sebuah kampus sebagai komunitas pendidikan, walaupun bentuknya itu harus juga diletakkan pada kondisi-kondisi yang diatur seperti dalam sebuah lembaga / institusi.

 

3.1.2   Komunitas Pendidikan menurut Talcott Parsons

Pemikiran tentang Gesellschaft dan Gemeinschaft menurut Tönnies, ditemukan juga dalam pemikiran Talcott Parsons. Menurut Parsons, masyarakat adalah sebuah sistem, dan dalam keseluruhan sistem ini, terdapat sub-sub sistem yang memiliki fungsi-fungsi tertentu dalam kehidupan sosial. Komunitas kita sebagai sebagai sistem harus juga merealisasikan fungsinya melalui aktivitas-aktivitas pendidikan dan pembinaan yang terorganisasi dengan baik dan teratur.

Parsons menggunakan model “pattern variables” yang mengetengahkan bahwa dalam hidup berkomunitas, harus diperhatikan dan dihidupi secara bersamaan dua bidang yang saling bertentangan ini tetapi saling melengkapi dan menyempurnakan dalam tataran operasionalnya.  Pasangan variabel itu ditunjukkan melalui relasi-relasi sosial antara seluruh anggota dalam komunitas: afektifitas dan tanpa afektifitas, spesifisitas dan universalitas; penerimaan yang tidak bersyarat atas pribadi dan penerimaan bersyarat dari prestasi-prestasi pribadi; berorientasi terhadap kolektivitas dan orientasi diarahkan kepada diri sendiri. Variabel yang pertama merupakan ciri khas dari suatu Gemeinshaft dan variabel kedua merupakan ciri Gesellschaft. Pasangan variabel itulah yang harus ada secara bersama dalam sebuah hidup berkomunitas pendidikan.[7]

 

3.1.3   Komunitas Pendidikan menurut Thomas Sergiovanni

Wacana mengenai komunitas pendidikan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pemikiran Thomas Sergiovanni. Melalui pendefinisian tentang komunitas pendidikan dan dasar-dasar pedagogis, Sergiovanni mengusulkan bagaimana seharusnya membangun sebuah bentuk hidup bersama seperti kampus sebagai satu komunitas pendidikan. Komunitas pendidikan, menurut Sergiovanni, adalah relasi yang menghubungkan secara menyeluruh dan bersama dari semua anggota, baik “guru” maupun “murid” dalam bentuk yang sangat khusus, terutama dalam hal nilai-nilai transendental dan humaniora serta ide-ide yang saling berbagi di antara mereka.

Dalam prospektif ini, konsep komunitas pendidikan membantu kita semua untuk mentransformasi diri dari sebuah kumpulan “ke-aku-an” kepada sebuah “ke-kita-an” kolektif. Begitulah komunitas kita harus menjadi komunitas otentik dan menjadi tempat di mana relasi-relasi dari tipe kekeluargaan, spasi dan waktu menyerupai apa yang disebut dengan kedekatan, kode dari nilai-nilai serta ide-ide yang saling berbagi. Untuk membangun dunia kampus sebagai komunitas pendidikan, perlu mengaktualisasikan beberapa konsep yang mendukung realisasinya: yaitu menjadi hidup bersama yang relasional, komunitas yang memahami kebutuhan-kebutuhan dari para anggotanya; cara hidup bersama yang demokratis; komunitas dari orang-orang yang profesional; komunitas dari para “pembelajar” dan komunitas yang dipimpin oleh seorang leader, bukan manajer.

 

4.      Karakteristik Komunitas Pendidikan

Konsep tentang komunitas pendidikan menawarkan kepada kita sebuah strategi untuk mereformasi bentuk pendidikan dan pembinaan yang menekankan pada keterlibatan dari seluruh anggota agar berpartisipasi secara aktif, tidak hanya menekankan secara ketat aturan dan norma, melainkan juga terutama melalui penciptaan-penciptaan relasi yang humanistis dan alamiah, yang menolong seluruh anggota untuk dapat bertumbuh secara bersama dan terus-menerus, serta saling menyemangati untuk meningkatkan sebuah peranan aktif dalam pencarian kesempurnaan diri sendiri dan komunitas itu sendiri.

Dari seluruh pandangan di atas, secara singkat mau mengatakan bahwa kehidupan kita di kampus, yang adalah tempat hidup dan belajar bersama, harus berbentuk komunitas pendidikan dengan corak Gesellschaft (dengan tekanan pada penegakan aturan dan norma secara konsekuen), tetapi dengan tetap juga mengedepankan pola relasi yang berciri Gemmeinschaft (yang menekankan aspek relasi dan intimitas-familiaritas).

Ketika kita berbicara tentang kampus, tanpa ragu kita memikirkan sebuah komunitas pendidikan, karena di dalamnya setiap orang saling mengajar dan saling belajar. Secara teoretis-pedagogis, seperti dikatakan oleh Bertagna, konsep komunitas pendidikan mengijinkan kita untuk melihat dan manganalisis pengalaman sosial seluruh tindakan dari semua anggota di dalam komunitas pendidikan. Pertama ialah bahwa dalam komunitas pendidikan disebut sebagai proses sosialisasi. Di sana ada tindakan sosialisasi nilai-nilai kemanusiaan, kultur, akal budi dan religius (rohani) yang menjadi entitas-entitas fundamental dalam proses pendidikan. Kedua ialah dalam komunitas pendidikan butuh untuk mempertahankan dan menyemaikan tradisi (kultur dan agama serta ilmu pengetahuan). Nilai-nilai dan keutamaan dimengerti sebagai warisan yang wajib ditransferkan kepada generasi baru agar tidak hilang. Ketiga ialah, bahwa dalam komunitas pendidikan harus ditanamkan dan dikembangkan akal budi, iman dan kebenaran. Keempat ialah bahwa di dalam komunitas pendidikan, dimengerti sebagai tradisi dan sumber kebenaran adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Inilah tugas “para senior” dalam menerima dan menginisiasikan anggota baru ke dalam hidup berkomunitas.[8]

 

5.      Komunitas Pendidikan dan Pertumbuhan Pribadi

Jika kita bertanya tentang “apa itu komunitas” kita tentu akan menemukan banyak konsep atau banyak pengertian yang mungkin tidak asing lagi bagi kita. Misalnya komunitas sebagai tempat di mana merayakan liturgi, sebuah kebersamaan dari orang-orang yang saling berbagi dan mengkondisikan pekerjaan dan pelayanan, serta sebuah klub sosial yang saling bersahabat. Jika kepada kita ditanyakan apa itu komunitas pendidikan, jawaban mungkin akan sangat beraneka ragam.

Jika komunitas pendidikan adalah sebuah sistem tertutup, ia akan mengelola problem-problem perubahan dan memperbaharuinya dengan mempertahankan “status quo”, dan karena itu menyangkal perubahan itu. Sebaliknya jika komunitas pendidikan itu adalah sebuah sistem terbuka, maka akan menjadi tempat kesaksian: dalam arti komunitas pendidikan itu memberi ruang kepada pemusatan relasi kepada Allah serta relasi kepada sesama, atau dalam arti umum komunitas pendidikan itu dapat dan mampu membuka diri kepada realitas yang berada di luar dirinya. Oleh karena itu, komunitas pendidikan dapat dilihat dan dirasakan sebagai simbol kehadiran Allah: sebuah bentuk keberadaan dan relasi dengan Allah dan dengan semua manusia.

Jika kita memikirkan sebuah komunitas pendidikan yang baik, maka kampus sebagai sebuah komunitas harus dapat menjadi tempat di mana setiap pribadi, baik pengajar maupun yang belajar dapat bertumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan. Inilah yang harus menjadi tujuan dari membangun sebuah kampus sebagai komunitas pendidikan. Komunitas pendidikan juga meminta agar setiap orang yang merupakan bagian dari komunitas itu harus dapat menjadi seorang “dosen/guru” dan sekaligus sebagai “mahasiswa/murid/siswa”. Tidak ada yang berada secara ketat dan permanen dalam prakteknya bahwa seseorang itu hanya berpredikat sebagai “guru/dosen” atau “mahasiswa/siswa”. Pada saat tertentu setiap anggota adalah “guru/dosen” dan bagian lain ia dapat menjadi seorang “siswa/mahasiswa”.

 

6.      Catatan Penutup

Membangun dunia kampus sebagai komunitas pendidikan. Demikianlah uraian yang telah diketengahkan dalam tulisan ini. Semua kita berada dan terus diikat di dalam sebuah komunitas. Komunitas kampus dapat menjadi sebuah komunitas pendidikan, jika semua anggota yang menjadi bagian dari komunitas itu secara bersama-sama memikirkan yang terbaik untuk membangun komunitas itu melalui kegiatan saling belajar dan saling mengajar.

Dalam sebuah komunitas pendidikan kampus, tidak terdapat perbedaan secara ketat dan ekstrim antara “yang mengajar” dan “yang belajar”. Mereka adalah satu kesatuan yang saling menyempurnakan. Karena itu, tidak ada satupun di antara mereka yang merasa bahwa “aku lebih penting dari orang lain di kampus ini”. Konsep yang harus dikembangkan ialah bahwa semua anggota adalah sama-sama penting dan terdapat suat sikap interdipendency aatau saling ketergantungan satu dengan yang lainnya. Saling ketergantungan ini akan lahir dalam sikap dan relasi yang baik dan konstruktif dari setiap anggota komunitas pendidikan kampus.

Komunitas pendidikan mengandung makna bahwa setiap orang harus bersedia dididik, diformat atau dibina menjadi pribadi yang integral untuk mencapai sebuah kesempurnaan, baik dari segi relasi-relasi formal-organisatif maupun dari segi non-formal dan in-formal praktis.

 

Referensi:

BERTAGNA G. Per una teoria della comunità educante, dalam CSSC, Costruire la comunità educante. Brescia: Editrice la Scuola, 2008.

Corradini L. Talcott Parson, dalam Prellezo J.M – Malizia G – Nanni C. Dizionario di Scienze dell’Educazione. Roma: LAS, 2008).

GALLINO L. Dizionario di Sociologia. Torino: UTET, 2009.

MALIZIA G., CICATELLI S., FEDELI C.M., PIERONI V. Il Progetto della Ricerca, dalam CSSC, Costruire la Comunità Educante, edisi 10. Brescia: Editrice la Scuola, 2008.

MANENTI, A. Vivere insieme. Aspetti Psicologici. Bologna: EDB, 2009.

MERTON, T. Nessun Uomo è Un’Isola. Milano: Garanzi, 1983.

REBOUL, O. I valori dell’Educazione. Milano: Editrice Ancora, 1992.

RIFAI M. Biografi dan Pemikiran Ferdinand Tonnies, dalam http://ensiklo.com/2014/08/biografi-dan-pemikiran-ferdinand-tonnies/. diakses pada tanggal 20 Juli 2016, pukul 20.00 wib.



[1] Cf. T. MERTON, Nessun uomo è unisola (Tidak Ada Manusia adalah sebuah Pulau), Milano, Garanzi, 1983, hlm. 20-24.

[2] Cf. A. MANENTI, Vivere insieme. Aspetti psicologici (Hidup Bersama. Aspek-aspek Psikologis), Bologna, EDB, 2009, hlm. 5-6.

[3] Cf. O. REBOUL, I valori delleducazione (Nilai-nilai Pendidikan), Milano, Editrice Ancora, 1992, hlm. 119-140.

[4] Cf. G. MALIZIA – S. CICATELLI – C. M. FEDELI – V. PIERONI, Il Progetto della ricerca, dalam CSSC, Costruire la comunità educante, decimo rapporto (Membangun Komunitas Pendidikan), Brescia, Editrice la Scuola, 2008, hlm. 92.

[5] L. GALLINO, Dizionario di Sociologia, Torino, UTET, 2009, hlm. 143.

[6] MUHAMMAD RIFAI, Biografi dan Pemikiran Ferdinand Tonnies, dalam http://ensiklo.com/2014/08/biografi-dan-pemikiran-ferdinand-tonnies/. diakses pada tanggal 20 Juli 2016, pukul 20.00 wib.

[7] L. CORRADINI, Talcott Parson dalam J. M. Prellezo – G. Malizia – C. Nanni., Dizionario di Scienze dell’Educazione (Roma, LAS, 2008), hlm. 834-846.

[8] Cf. G. BERTAGNA, Per una teoria della comunità educante, in CSSC, Costruire la comunità educante, hlm. 19-30.


RETREAT TAHUNAN KAPAUSIN KUSTODI GENERAL SIBOLGA 2023

  Para saudara dina dari Ordo Kapusin Kustodi General Sibolga, pada tanggal 6 s/d 10 Noveember 2023, mengadakan retreat tahunan yang dilaksa...